
Penulis: Tondini Alief Harahap
Sewaktu pertama menjadi mahasiswa dua tahun lalu, dosen saya pernah menyampaikan bahwa ruang kelas tidak akan bisa buat mahasiswa paham seutuhnya dengan materi-materi yang disajikan, mahasiswa harus mencari ilmu di luar kelas juga. Setelah menjalani beberapa semester di bangku perkuliahan, saya sepakat dengan perkataan beliau.
Ada banyak hal-hal yang tidak kita temukan di ruang kelas, ruang kelas itu terbatas untuk pemikiran mahasiswa yang bergerak dinamis, banyak cara untuk mencari ilmu bagi mahasiswa di antaranya, baca buku, ikut diskusi hingga kegiatan kegiatan lainnya.
Maka demikian perlu rasanya kampus itu hidup ruang ruang diskusinya, bahkan kalau bisa perpustakan itu buka saja sampai malam, agar mahasiswa bebas menjelajahi luasnya pengetahuan yang belum dapat di ruang kelas. Namun, kenyataanya sekarang banyak kampus yang tidak mau melihat mahasiswanya lama-lama berada di kampus.
Dengan bukti, kebanyakan kampus memberlakukan jam malam, mau diskusi sedikit sudah di usir karena sudah gelap, baru mau ke perpustakaan, ehh sudah mau tutup saja. Kan bayar kuliah itu seharusnya dapat akses penuh terhadap fasilitas yang ada di kampus, tapi malah terbatas, wajar saja kalau pengetahuannya juga jadinya terbatas.
Jadi, tak heran banyak mahasiswa yang menghabiskan waktunya untuk pergi ke warung kopi. Dengan memesan segelas kopi beserta makanan atau cuma pesan minum saja, dapat duduk seharian penuh, dapat akses WiFi lagi. Emang begitu siklusnya, warung kopi itu banyak banget kasih pelajaran bagi mahasiswa, semacam kasih ruang kebebasan berpikir bagi mahasiswa tanpa ada yang “memperkosa” logikanya.
Ya, karena akses di kampus itu terbatas, wong kalau malam aja gerbang sudah ditutup, percuma aja kalau bilang peluang di kampus banyak, tapi kan aksesnya terbatas untuk coba hal hal baru di kampus. Padahal mahasiswa itu kadang aktif dan logikanya jalan kalau malam atau pagi kadang sore sambil menyeduh kopi.
Terkadang miris juga kalau dipikir, kita bayarnya ke kampus, tapi ilmunya terpaksa dicari di warung kopi, kadang iri lihat cerita cerita senioran tempo dulu yang nyaman dan bisa betah lama-lama di kampus, bahkan ada yang buat kampus jadi rumah kedua. Iya, benar-benar rumah kedua, makan, tidur dan lainnya di kampus, bebas berekspresi dan diskusi selalu hidup mau itu malam atau siang sama saja.
Sekarang kampus juga memang kayak rumah, sih, tapi kayak rumah yang tak nyaman gitu. Analoginya itu tinggal di rumah, tapi orang tuanya ribut tiap hari, kan tidak nyaman mau beraktivitas. Terkadang sering berpikir aneh juga, kok bisa warung kopi kasih kita apa yang gak kampus berikan sama kita, kayak internet yang kenceng contohnya?
Terkadang memang lebih konkret saja apa yang diberi warung kopi daripada yang kampus berikan, lalu apa artinya kampus dan ruang kelas itu? Ganti saja ke warung kopi kuliahnya gitu? Tidak begitu juga konsepnya, tapi gini, banyak kawan kawan yang dari jauh rela meninggalkan orang tua di kampung, pergi dengan harapan besar merubah nasib karena kuliah.
Ehh nyatanya ilmu-ilmu yang harusnya dapat di ruang kelas malah gak bisa di akses, rasanya aneh kalau kampus gak bisa kasih esensi benar benar kuliah untuk mahasiswa, lah masak bayar kuliah mahal harus kalah jasanya sama warung kopi yang modal pesan americano.
Editor: Annisa


Ngena sekali tulisannya berdasarkan keresahan banyak teman-teman juga selama ini, semoga dari tulisan ini ada perbaikan serta upgrade kebijakan fasilitas kampus