
Penulis: M. Abrar Putra Kaya Harahap
Tercatat pada 17 Mei 2022, Presiden Joko Widodo mencabut kebijakan memakai masker di luar ruangan dengan syarat area terbuka yang tidak terlalu padat orang. Akan tetapi, ketika berada di dalam ruangan atau ruangan tertutup dan di transportasi publik tetap diwajibkan memakai masker. Kebijakan ini diberlakukan, karena angka kasus Covid-19 semakin stabil dan terkendali. Hal ini juga terbukti dengan diberlakukan kembali Work From Office (WFO) yang menandakan peraturan mengenai Covid-19 sudah mulai longgar.
Walaupun Covid-19 menurun secara signifikan, dunia kembali dihebohkan dengan munculnya penyakit misterius yang penyebab pastinya belum ditemukan. Penyakit ini dikenal dengan sebutan hepatitis akut. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Inggris Raya pada 5 April 2022 dan sejak saat itu terjadi peningkatan kasus di Eropa, Asia, dan Amerika.
World Health Organization (WHO) selaku organisasi kesehatan dunia menyatakan hepatitis akut adalah Kejadian Luar Biasa (KLB). Di Indonesia, hepatitis akut mulai muncul dalam kurun waktu 16-30 April 2022. Terdapat tiga dugaan kasus hepatitis akut yang terjadi pada pasien anak dan dinyatakan meninggal setelah mendapat perawatan intensif di RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Apa itu hepatitis akut?
Pada dasarnya hepatitis akut sama dengan hepatitis pada umumnya. Hepatitis akut adalah kondisi di mana hati mengalami radang atau inflamasi dan terjadi secara tiba-tiba dalam jangka waktu yang singkat. Penyakit ini cukup umum ditemukan, namun gejalanya banyak yang tidak terdeteksi, sehingga sering diabaikan oleh masyarakat. Hepatitis akut merupakan penyakit serius dan berbahaya serta menyerang anak-anak khususnya, maka dari itu WHO menyatakan hepatitis akut sebagai KLB. Ketika dilakukan tes pada kasus hepatitis akut ini, maka pasien akan menunjukkan hasil yang negatif dari seluruh jenis hepatitis yang ada.
Lantas, bisakah hepatitis akut menjadi pandemi?
Dilansir dari laman resmi Kompas.co, Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi menjelaskan hepatitis akut kecil kemungkinan menjadi pandemi. “Kalau kita lihat perkembangan kasus seperti situasi pandemi rasanya kecil sekali, karena kondisinya tidak ada mengancam lebih banyak dan menyebabkan aktivitas terganggu,” jelasnya.
Hepatitis akut mirip dengan gejala hepatitis A yang menular melalui makanan. Oleh karena itu, Kemenkes mengimbau untuk menerapkan protokol kesehatan dan juga dibarengi dengan gaya hidup sehat ketika ingin makan, seperti mencuci tangan sebelum makan, tidak makan sembarangan, dan jangan pula berbagi alat makan dengan orang lain.
Penyebab hepatitis akut
Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab dari hepatitis akut, penyakit ini umumnya menyerang anak usia 0-16 tahun dan yang paling banyak terjadi pada anak usia di bawah 10 tahun. Hepatitis akut penyebabnya bukan dari virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Dugaan awal berasal dari Adenovirus 41, Sars Cov-2, Virus ABV. Umumnya, Adenovirus menular melalui saluran cerna dan saluran pernapasan dan adapun cara menularnya diduga dari droplet, air yang tercemar, dan transmisi kontak.
Gejala hepatitis dan pencegahannya
Gejala awal terjadi mual, muntah, diare berat, dan demam ringan. Sedangkan pada gejala lanjut mulai ditemukan kendala yang serius, seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan BAB berwarna putih pucat, warna mata dan kulit menguning, gangguan pembekuan darah, kejang, dan kesadaran menurun.
Cara pencegahan hepatitis akut bisa dilakukan dengan cara rutin cuci tangan dengan sabun, pastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak berganti alat makan dengan orang lain, hindari kontak dengan orang sakit serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
Tak lupa pula selalu memakai masker jika berpergian, jaga jarak dengan orang lain, serta hindari keramaian ataupun kerumunan. Untuk itu, kita perlu waspada, tetap membudayakan gaya hidup sehat dan selalu menaati protokol kesehatan
Editor: Yaumi Sa’idah

