
Penulis: Razkiatul Fitri Matondang
Agama sejatinya merupakan tatanan kehidupan yang mengintegrasikan manusia dalam kehidupan masyarakat. Agama secara empiris mampu memainkan peran sebagai faktor motivasi dan dinamisator kehidupan manusia, menjadikan manusia yang dinamis, ulet, tekun, kerja keras, dan lain sebagainya. Pada sisi ini, dakwah Islam sebagai sebuah proses internalisasi nilai-nilai agama ke dalam sistem keyakinan manusia, harus mampu meletakkan ajaran agama sebagai instrumen kehidupan yang sangat disadari arti pentingnya.
Dalam konteks ini, dakwah Islam di era globalisasi sebagai era informasi dan industrialisasi harus bisa menghadirkan Islam dalam wujud substantifnya. Islam harus dihadirkan dalam wujudnya yang sejati dan utuh, meski dalam impelementasinya memerlukan aktualisasi yang mempertimbangkan realitas sosio-historis kekinian.
Sejarawan Barat, W. Montgomery Watt ketika menganalisa tentang rahasia kemajuan Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Dalam kata lain, Islam juga bisa menerima pemikiran sehat (radikal) sebatas demi kemajuan peradaban Islam dan demi memperkaya hasanah keislaman. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas.
Dakwah Islam di era globalisasi tidak mempertentangkan antara ilmu agama dan yang bukan agama, serta harus mampu menghadirkan Islam sebagai motivator dan dinamisator pengembangan keilmuan, kerja keras bahkan sampai pada tataran amal saleh. Pendekatan dakwah Islam untuk menghadirkan Islam sejati yang mampu menjadi faktor dinamika bagi kehidupan umat manusia sekaligus menjadi katalisator, tentu saja harus tetap mempertimbangkan faktor-faktor sosio-historis dan kultural.
Sehingga praktisi dakwah dalam konteks ini perlu menjadikan realitas yang ada sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan metodologi dan pendekatan dakwah yang dilakukan. Diambil dari pernyataan Ismail, “Para da’i atau lembaga-lembaga dakwah harus memahami sosiologi dakwah, yaitu mempelajari dan memahami lingkungan sosial atau keadaan komunitas yang akan menerima dakwah. Setiap kelompok masyarakat mempunyai sifat, watak, tradisi, perangai, kebiasaan dan kebudayaan yang berbeda satu sama lain,”
Dengan demikian, format dakwah di era globalisasi yang dapat berperan dalam membentuk peradaban global yang humanis dan tidak menjauhkan manusia dari religiositasnya perlu dikaji, digali, dan direkonstruksi untuk menemukan strategi yang relevan dan efektif. Artikel ini ingin membahas format dakwah dimaksud terutama ditinjau dari sisi etika dalam menyajikan ajaran Islam dan mengupayakan impelementasi nilai-nilai ajaran Islam dalam realitas kehidupan global.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di era globalisasi informasi telah melahirkan banyak perubahan yang cukup signifikan dengan tren yang kita sebut saja sebagai penipisan atau pendangkalan iman. Globalisasi merupakan zaman di mana arus informasi mengalir deras ke seluruh penjuru dunia secara simultan tanpa memandang perbedaan suku, ras maupun budaya serta tanpa memperhatikan ruang dan waktu. Seperti itulah arus global ketika sudah bergulir di atas dunia ini siapapun tidak ada yang membendung.
Editor: Khairatun Hisan

