Kenali Rasa Kantuk Berlebihan 

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Internet ttps://economy.okezone.com)

Penulis: Nur Azizah Hanifah

Rasa kantuk pada setiap orang adalah hal yang wajar. Namun, jika mengalami rasa kantuk secara tiba-tiba di siang hari, bahkan sampai tidak tertahankan padahal di malam harinya sudah cukup tidur, ini bukanlah hal yang wajar. Hal ini bukan hal yang sepele, melainkan ini adalah sebuah penyakit, yaitu narkolepsi. Narkolepsi adalah gangguan tidur dengan gejala awalnya rasa kantuk yang berat di siang hari, pada umumnya berlanjut dengan serangan tidur atau tidur secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan tempat. Penderita akan sulit mempertahankan kondisi sadar, rasa kantuk akan hilang setelah penderita tidur selama 15 menit, tetapi kantuk akan kembali menyerang. 

Sampai saat ini, masih belum diketahui apa penyebab pasti narkolepsi. Tetapi, kebanyakan pengidap narkolepsi memiliki kadar hipokretin yang rendah. Hipokretin adalah sejenis zat kimia dalam otak yang membantu mengendalikan waktu tidur. Penyebab rendahnya hipokretin akibat diserang oleh sistem kekebalan tubuh pengidap sendiri atau lebih dikenal dengan kondisi autoimun. 

Berdasarkan informasi dari dr. Andreas Prasadja, RPSGT, seorang Praktisi Kesehatan Tidur Mitra Keluarga Kemayoran saat menjadi narasumber pada sebuah acara lokakarya di salah satu stasiun televisi. Narkolepsi merupakan penyakit tidur yang pertama kali ditemukan.  Pengidap narkolepsi di dunia terbilang jarang, hanya 1 dari 200 orang. Di Amerika Serikat, hanya 1 dari 3000 penduduk atau hanya 0,03 % yang terdiagnosis. Beberapa negara, pengidap narkolepsi dimulai dari kalangan anak kecil umur 5-6 tahun. Kebanyakan dari usia remaja hingga dewasa muda atau usia 40-an. Penyakit ini tidak ada pengaruh jenis kelamin. 

Proses tidur penderita narkolepsi berbeda dengan orang normal. Terdapat dua fase dalam proses tidur normal, yaitu fase Rapid Eye Movement (REM) dan fase non-REM. Fase non-REM terdiri dari tiga tahap yang masing-masing dapat berlangsung selama 5–15 menit. Ada tiga tahapannya, yaitu tahap 1, di mana mata telah tertutup dan tidak mudah untuk dibangunkan. Tahap 2, detak jantung melambat dan suhu tubuh menurun. Hal ini menandakan tubuh bersiap untuk tahap tidur yang lebih nyenyak. Tahap 3, tahap di mana seseorang yang tertidur akan lebih sulit untuk dibangunkan. Jika bangun, ia akan merasa linglung selama beberapa menit. Sedangkan fase REM, terjadi setelah seseorang tertidur selama 90 menit. Pada fase ini, detak jantung dan napas akan bertambah cepat. Fase REM akan terjadi secara bergantian dengan fase non-REM.

Fase REM tahap pertama biasanya akan terjadi selama 10 menit, dan durasinya akan terus bertambah pada tahap berikutnya hingga tahap terakhir yang bisa berlangsung selama 1 jam. Pada penderita narkolepsi, proses tidur akan langsung memasuki fase REM, baik saat penderita sedang bersiap untuk tidur atau ketika sedang terbangun dan beraktivitas. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan timbulnya gejala narkolepsi.

Gejala Narkolepsi

Selalu ingin tidur memang patut dicurigai sebagai gejala narkolepsi. Terganggunya sistem kerja otak dalam mengontrol waktu tidur membuat pengidapnya kesulitan menahan rasa kantuk. Agar lebih jelas, berikut beberapa gejala narkolepsi secara umum. Satu, mengantuk berat pada siang hari. Meskipun kebutuhan tidur pada malam hari sudah tercukupi. Gejala ini disebut juga dengan Excessive Daytime Sleepiness (EDS). Tentunya ini akan menimbulkan masalah, karena pengidap akan sulit untuk tetap terjaga dan berkonsentrasi selama bekerja atau beraktivitas. 

Dua, katapleksi. Katapleksi adalah melemasnya otot secara mendadak ditandai dengan gejala berupa tungkai terasa lemas mendadak, juga penglihatan menjadi kabur. Otot yang melemas bisa beberapa otot, sehingga kepala terjatuh, mulut membuka, menjatuhkan barang-barang, atau bisa juga keseluruhan otot tubuh. Kondisi ini hanya berlangsung sementara dan biasanya dipicu oleh emosi tertentu, seperti perasaan kaget, tertawa, atau marah. Katapleksi biasanya hanya dialami oleh pengidap narkolepsi hanya sekali atau dua kali dalam setahun. 

Tiga, serangan tidur. Pengidap narkolepsi bisa tertidur di mana saja dan kapan saja secara tiba-tiba karena serangan tidur. Rasa kantuk yang berlebihan juga bisa membuat pengidap berhalusinasi, yaitu melihat atau mendengar sesuatu yang tampak seperti nyata, padahal tidak. Kondisi ini bisa terjadi saat pengidap tertidur maupun tidak. 

Empat, ketindihan atau sleep paralysis. Saat hendak terbangun atau mulai tertidur, pengidap tiba-tiba saja tidak mampu bergerak atau berbicara untuk beberapa saat. 

Lima, gangguan ingatan. Tidak hanya menyebabkan konsentrasi menurun, narkolepsi juga bisa menyebabkan pengidapnya terkadang lupa dengan aktivitas yang baru saja dikerjakannya. 

Enam, sakit kepala. Tidur terlalu berlebihan juga bisa membuat pengidap mengalami sakit kepala. Tujuh, depresi. Tidak bisa bekerja dan beraktivitas dengan baik akibat narkolepsi bisa membuat pengidap lama-kelamaan merasa depresi. 

Diagnosis Narkolepsi

Sebagai langkah awal diagnosis, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan pasien dan keluarga pasien. Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan lainnya, seperti tes tekanan darah dan tes darah. Pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan beberapa metode yang juga akan dilakukan untuk mendeteksi tingkat keparahan kondisi. 

Yang pertama, Epworth Sleepiness Scale (ESS). dalam ESS, dokter akan menggunakan kuesioner untuk menilai besarnya kemungkinan pasien tertidur ketika melakukan aktivitas yang berbeda, seperti ketika duduk, membaca, atau menonton televisi. Skor kuesioner dapat menjadi salah satu acuan dokter untuk mendiagnosis dan mengukur keparahan kondisi. 

Kedua, polisomnografi yang dalam metode ini, dokter akan memantau aktivitas listrik otak (elektroensefalografi), jantung (elektrokardiografi), otot (elektromiografi), dan mata (elektrookulografi) saat pasien tidur, dengan memasang elektroda di permukaan tubuh pasien. Ketiga, Multiple Sleep Latency Test (MSLT) digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh pasien untuk tertidur pada siang hari. Pasien akan diminta beberapa kali untuk tidur di siang hari dan diukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pasien mulai tertidur, serta dinilai juga fase tidurnya. Jika pasien dapat tidur dengan mudah dan memasuki fase tidur rapid eye movement (REM) dengan cepat, maka pasien kemungkinan besar menderita narkolepsi. Terakhir, pengukuran tingkat hipokretin, yaitu pemeriksaan kadar hipokretin dilakukan dengan menggunakan sampel cairan otak dan  tulang belakang (cairan serebrospinal). 

Pencegahan Narkolepsi 

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit narkolepsi, yaitu olahraga secara rutin, hindari makanan porsi berat sebelum aktivitas, usahakan bangun pagi dan tidur malam pada waktu yang sama, tidur siang selama 10-15 menit, serta hindari konsumsi nikotin dan alkohol. 

Pengobatan Narkolepsi 

Belum ada obat untuk menyembuhkan narkolepsi. Tujuan pengobatan hanya untuk mengendalikan gejala, sehingga aktivitas pengidap tidak terganggu. Untuk narkolepsi ringan, pengobatan dapat dilakukan dengan mengubah pola kebiasaan tidur. Namun, jika gejala yang muncul cukup parah, maka pengidap perlu diberikan obat-obatan. Obat yang dikonsumsi berupa stimulan, salah satunya adalah Amfetamin. Amfetamin bekerja dengan mengubah kadar zat alami tertentu yang mengontrol impuls di dalam otak, sehingga meredakan gejala dari kondisi yang diderita. 

Editor: Miftahul Zannah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles