Kurangi Bermain Gim Online Kompetitif yang Berlebihan

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis: Abizar Al-Ghifary

Bermain video gim memang dapat menghilangkan rasa bosan dan stres. Ditambah dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, video gim saat ini dapat dimainkan secara daring untuk orang banyak, sehingga memungkinkan seseorang dapat bermain bersama teman atau orang lain (dipilih acak) secara nyata dengan aksesibilitas tertentu.

Bermain secara daring dapat meningkatkan rasa seru serta kesenangan lebih besar, ditambah dengan elemen kompetitif yang disuntikkan pada gim online, yang memungkinkan lebih dari satu pemain untuk membentuk satu tim agar dapat melakukan kerja sama secara nyata demi meraih kemenangan atas tim lawan.

Contoh video  gim daring “kompetitif” saat ini yang sedang populer dari platform PC dengan rata-rata jutaan pemain di seluruh dunia antara lain Valorant, Counter Strike, Global Ofensive, Fortnite, hingga Apex Legends di barisan genre First Person Shooter (FPS) kemudian Dota 2, League of Legends, StarCraft, dan Rocket League untuk barisan video gim bergenre Real Time Strategy (RTS) atau Multiplayer Online Battle Arena (MOBA).

Di Indonesia sendiri lebih populer dimainkan adalah Mobile Legends, Bang Bang untuk genre MOBA dan PUBGM serta Free Fire untuk gim bertema FPS. Jadi pada umumnya, kebanyakan gim kompetitif memiliki potensi agar dikategorikan sebagai gim e-sport.

Maka, strategi yang baik dan tepat sangatlah dibutuhkan, termasuk juga kerja sama tim yang solid demi mencapai kemenangan secara terus-menerus. Tentunya hal tersebut membutuhkan kinerja otak yang intens, bahkan hingga berjam-jam sekalipun banyak orang yang senantiasa akan melaluinya.

Namun tahukah kamu, jika terlalu sering bermain gim kompetitif secara berlebihan akan berdampak buruk bagi seseorang? Memang pada dasarnya segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tentu saja tidak baik, tetapi di sini ada hal buruk secara spesifik yang terkadang belum disadari oleh penggemar gim kompetitif, simak berikut ini: 

  • Terlalu serius dapat menyebabkan stres

Padahal vidio gim didesain sebagai media penghilang stres, namun kenapa bisa membangkitkan rasa stres? Bahkan di gim yang tidak kompetitif sekalipun dan tidak daring juga dapat membuat seseorang merasa emosi ketika mengalami kekalahan atau gagal dalam suatu tantangan yang ada di dalam gimnya.

Jelas karena mereka terlalu serius, tidak santai dalam memainkan gimnya dan lupa akan tujuan mereka bermain gim itu apa. Sudah biasa kita lihat anak remaja kebanyakan bahkan orang dewasa yang sepulang kerja di akhir pekan yang pergi ke suatu kafe untuk menikmati gim kompetitif kesayangan mereka bersama rekan-rekannya malah terdapat dari mereka seseorang yang sering marah-marah tanpa alasan yang jelas sambil melihat ke arah ponsel pintar mereka masing-masing.

Maka dari itu, segera kurangi tingkat keseriusan dalam bermain gim online kompetitif jika itu membawa dampak yang tidak diinginkan.

  • Bermain hingga ribuan jam, namun tak memperoleh manfaat sedikit pun

Sudah bukan rahasia lagi, jika ada beberapa orang yang bermain gim lalu mampu menghasilkan uang dengan jumlah yang fantastis terlepas dari perkataan bahwa gim adalah hobi semata. Baik itu seorang gamer profesional atau pun sekadar konten kreator tanpa keahlian yang diatas standar sekali pun akan tetapi mampu menjual konten yang diinginkan banyak banyak. 

Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah bermain gim kompetitif selama bertahun-tahun? Sebut saja para pemain Mobile Legends yang sudah mulai bermain sejak awal rilis yaitu tahun 2016 hingga kini hanya melakukan rutinitas yang monoton selama ribuan jam tanpa menghasilkan atau mendapatkan hal apa pun, kecuali rasa stres, emosi, kehilangan sisi kemanusiaan dengan sering berkata-kata kasar sepanjang hari terhadap pemain lain dan lain sebagainya.

Jika ada dari kamu yang sudah mencapai titik ini, sangat dianjurkan untuk segera mencari kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat untuk masa depan, atau paling tidak silakan berhenti untuk bermain gim daring kompetitif dengan beralih ke gim yang tidak kompetitif sama sekali namun tetap menyenangkan.

  • Merusak kesehatan mental

Toksik merupakan sebutan bagi mereka seorang gamer yang sangat kasar bahkan tanpa alasan yang jelas bagaimana mereka bisa menjadi kasar. Untuk gim PC seperti Dota 2, sangat banyak dari mereka yang merasa hebat, jika mereka sudah mencapai pangkat tertentu di gim mereka. Merendahkan orang lain, memaki dengan membawa emosi tinggi merupakan gejala gangguan mental yang tak dapat mereka sembunyikan. Terutama apabila mereka kalah beradu keterampilan dan pemahaman mekanisme gim terhadap pemain lawan, mereka tak akan segan-segan untuk merugikan pengalaman bermain rekan satu timnya. Hal ini biasa disebut dengan tilted lalu melakukan griefing.

  • Membuat seseorang makin sering menunda-nunda

Ketika orang tua menyuruh anaknya untuk melakukan sesuatu demi memenuhi kebutuhan keluarga, hal terburuk yang dilakukan seorang anak tersebut ialah menolaknya. Namun, kita ketahui juga lebih banyak anak-anak remaja saat ini akan membalas “sebentar, Ma, tanggung satu gim lagi” sehingga mereka tak sadar bahwa satu gim tersebut sudah melampaui waktu sekitar hampir 1 jam.

Kejadian tersebut tak kalah buruknya dengan kasus seorang anak yang sama sekali tidak menghiraukan perintah orang tuanya. Memang benar, hal ini tak hanya terjadi di gim bertipe kompetitif saja, akan tetapi kebanyakan game kompetitif akan memberikan hukuman bagi mereka yang meninggalkan sesi permainan, yang di mana sesi permainan tersebut tidak dapat dipastikan akan berapa lama berakhirnya.

Oleh karena itu, gim kompetitif selalu menuntut pemainnya agar selalu fokus dan meluangkan waktu banyak tanpa gangguan terhadap permainannya, jika pemainnya tidak mau dihukum. Karena gamer di situ akan dipasangkan dengan gamer lainnya yang punya kepentingan, kebutuhan, waktu serta urusan dengan situasi, dan kesempatan bermain yang berbeda-beda juga. 

Itulah beberapa dampak negatif dari permainan daring bertipe kompetitif, jika kamu mulai merasakan dampak buruk di atas, maka segeralah berintrospeksi diri demi kebaikan. Mulailah memperbaiki diri secara perlahan, karena dari niat baik untuk mau berubah saja juga merupakan suatu proses agar menjadi orang yang lebih baik.

Biodata Penulis:

  • Nama : Abizar Al-Ghifary
  • Jurusan : Ilmu Komunikasi 
  • Fakultas : Ilmu Sosial
  • Semester : VII (Tujuh)
  • Media Sosial : @bzral (Instagram)

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles