Playing Victim!

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Internet www.idntimes.com)

Penulis: Fitri Fadila Pakpahan

Permainan umumnya digunakan untuk hiburan dan bisa dilakukan untuk semua kalangan. Namun, ada permainan yang hanya bisa dimainkan oleh orang toksik. Toksik adalah istilah untuk seseorang yang “beracun” atau orang yang sering menyusahkan dan merugikan orang lain, baik itu secara fisik ataupun emosional. 

Permainan orang toksik ini adalah bermain korban, bermain korban atau playing victim ini adalah sikap seseorang yang seolah-olah berlagak sebagai seorang korban untuk berbagai alasan seperti membenarkan pelecehan terhadap orang lain, memanipulasi orang lain, strategi penjiplakan, mencari perhatian, atau tidak bertanggung jawab pada amanat yang diberikan padanya.

Playing victim disebut juga dengan istilah victim mentality. Playing victim adalah ketika seseorang melemparkan kesalahan ke orang lain, padahal kesalahan tersebut adalah perbuatannya sendiri. Pelaku adalah mereka yang biasanya menghindari tanggung jawab, karena sudah melakukan kesalahan. Bahkan pelakunya bisa memposisikan dirinya sebagai korban, karena tidak mendapatkan keadilan.

Ya, singkatnya, playing victim adalah sebuah kondisi yang dilakukan seseorang yang berbuat kesalahan dan untuk menghindari kesalahan, tetapi melimpahkan kesalahan ke orang lain dan memposisikan dirinya sebagai korban.

Cara memainkan permainan ini cukup sulit, karena diperlukan keahlian berbicara, mimik wajah yang menjiwai, proses berpikir yang cepat, dan suara yang lantang. Dan, jangan lupa harus disertai ngotot juga ya.

Dilansir dari sebuah studi yang berjudul Are You A Victim of the Victim Syndrome? Menjelaskan, orang-orang yang memiliki victim mentality sangatlah sulit untuk ditangani.  Biasanya mereka memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai kehidupan. Hal tersebut dikarenakan mereka percaya bahwa mereka tak memiliki kontrol terhadap hal-hal yang terjadi pada kehidupan mereka. Tak hanya itu, orang dengan kondisi mental ini pun memiliki tingkat tanggung jawab yang kecil.

Jadi tidak perlu heran kalau orang kaya begini akan malah balik nyolot kalau di nasehati dan akan menyalahkan orang lain kalau dikritik, pokoknya “dirinya tak salah” dan akan selalu ada korban yang kena atas ketidak bertanggung jawabnya dia, akan ada seribu alasan agar “dirinya tidak salah”, dan kalau dikasih tanggung jawab akan mengeluh sebelum memulai.

Parahnya orang-orang seperti ini biasanya akan fokus pada masalah, bukan solusinya, berkoar-koar seolah masalah yang sedang terjadi “bukan salah dirinya”, tidak percaya diri, dan selalu merasa negatif, berpikir seolah-olah sesuatu yang buruk akan selalu terjadi kepadanya.

Hindari orang-orang seperti ini, dengan cara tidak terlalu mendengar dan menanggapi drama yang sedang dia lakukan, bantu dia dengan solusi namun tetaplah tegas, dan hindari perdebatan dengan logika, karena orang playing victim punya seribu jurusnya agar menang dari perdebatan cocoklogi hasil pemikirannya sendiri.

Tidak ada yang salah dari kata “maaf” jadi ketika kita melakukan kesalahan atau tidak bertanggung jawab karena suatu alasan, tetaplah merendah dan ucapkan maaf, pandangan orang lain kepada kita dimulai dari cara kita mengontrol diri kita sendiri. Jangan mau jadi orang yang toksik, orang lain memang tampaknya tidak terlalu memperdulikan sifat kita, tapi tidak sebaik itu, orang lain juga punya pikiran dan mulut yang bisa menilai dan menceritakan siapa diri kita. Jika orang itu kamu, merenunglah dan ubah pola pikirmu. 

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles