Suara Itu dari Dinding, Keresahan Itu dari Oligarki

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Internet www.detik.com)

Penulis: Mulia Wilandra Harahap

Pada 1937, ketika Pablo Picasso mengungkapkan kemarahannya terhadap perang lewat sebuah lukisan, Guernica namanya, sesuai dengan nama kota yang dihancurkan oleh Nazi pada periode perang saudara Spanyol. Lukisan ini adalah sebuah bentuk ekspresi yang kebetulan hinggap pada seorang pelukis, maka ekspresi tersebut lahir dalam wujud sebuah lukisan. Ekspresi lain pun akan berbeda, tergantung pada siapa ia lahir. Jika pada seorang pemusik maka lahirlah karya-karya seperti “Bongkar” milik Iwan Fals atau “Mosi Tidak Percaya” milik Efek Rumah Kaca.

Kembali soal lukisan, budaya menyuarakan kritik sosial dengan gambar sebagai medianya itu sudah terbentuk lama. Ya, salah satunya Guernica milik Pablo Picasso di atas. Pada masa perjuangan, ketika belajar sejarah kita pasti pernah melihat coretan-coretan dinding yang dibuat sebagai alat propaganda untuk menyuarakan perlawanan penjajahan. Hal-hal semacam itu adalah bagian dari dinamika sosial yang di dalamnya rentan terhadap konflik, apalagi jika konflik yang dimaksud menyinggung banyak kepentingan rakyat.

Sebuah foto yang menunjukkan rongsokan mobil milik Brigjend A.W.S. Mallaby seorang komandan Brigade Inggris–India ke 49 yang hancur akibat ledakan bom pada pertempuran 10 November di Surabaya. Dengan sebuah poster bertuliskan “Once and Forever The Indonesian Republic” di belakangnya.  Ini merupakan salah satu bukti sejarah bahwa propaganda tidak terbendung pada medium tertentu.

Di masa kini barangkali, jika propaganda dianggap terlalu ekstrim dan radikal, bukan berarti kritikan menjadi barang haram juga. Sebuah negeri nun jauh disana misalnya, menganggap bahwa tulisan yang hanya sekedar mengatakan “Tuhan aku lapar!” adalah sebuah tindak laku provokatif. Padahal coretan itu tidak dibuat pada dinding istana, tidak sama sekali. Bayangkan saja jika ada seorang pak tua pengayuh becak yang iseng berteriak seperti itu ketika lewat depan istana, bisa-bisa(?).

Saya sendiri jadi merasa tidak aman ketika sedang menulis ini, mereka yang bersuara lewat coretan di dinding saja bisa dipanggil. Padahal itu hanya segaris kalimat. Bagaimana dengan saya yang rewel di banyak paragraf? Padahal kan Presiden pernah bilang kalau pemerintah selalu membuka ruang yang luas untuk publik melakukan kritik, tapi hawanya yang di bawah ini terasa berbeda, berbanding terbalik.

Saya percaya, untuk volume seukuran rakyat jika ditekan akan melawan balik. Seperti di Jogja, ada lomba bagi yang mampu membuat mural dengan rekor dihapus tercepat akan menjadi pemenangnya. Nyatanya benar kan? Sikap berlebihan pemerintah dalam menanggapi kritikan mural ini malah menimbulkan reaksi yang lebih besar, jangan ditantang makannya. 

Mestinya pemerintah menyadari bahwa munculnya kritikan-kritikan semacam itu karena masyarakat sejauh ini masih terus memantau kinerja mereka. Sederhanakanlah dengan kesimpulan bahwa mereka-mereka yang aktif mengkritik ini, turut membantu pemerintah untuk melihat beberapa permasalahan yang belum tersentuh dan butuh penanganan secepatnya. Memangnya apa sih yang dikhawatirkan dari sebuah kritik? Keruntuhan dinasti? 

Editor: Anggia Nurulita

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles