Toksik Media Sosial Picu Depresi

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Internet www.idntimes.com)

Penulis: Anju Minta Marito Manik

Di masa pandemi Covid-19 gawai seolah sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi. Sejalan dengan hal ini, pengguna media sosial juga turut mengalami peningkatan khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Media sosial seolah menjadi candu, tiada hari tanpa membuka media sosial. Banyaknya media sosial populer seperti Instagram, Twitter, Line, WhatsApp, YouTube, Facebook, dan lainnya menyebabkan masyarakat terutama anak-anak dan remaja betah berlama-lama berselancar di dunia maya. 

Namun, jarang disadari bahwa media sosial seperti di atas ternyata dapat membawa dampak buruk terutama bagi seseorang yang sedang memiliki masalah. Ia cenderung akan mencari hiburan tersendiri seperti hiburan secara online yang menyebabkan dirinya semakin terisolasi dan apatis terhadap hal di sekitarnya. Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kaum muda rentan kecanduan media sosial.

Menurut sebuah studi dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menemukan bahwa seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu bermedia sosial akan memiliki masalah mental, kesehatan diri yang berkurang, serta tekanan psikologis yang lebih tinggi. Hal ini akan memicu meningkatnya gejala depresi dan kecemasan.

Dalam sebuah survei yang melibatkan 1.787 orang dewasa muda yang berusia belasan hingga 32 tahun, para peneliti menemukan jumlah pengguna media sosial aktif yang terkena depresi secara signifikan meningkat ketimbang pengguna yang kurang aktif. Depresi tersebut timbul dalam bentuk perasaan tidak bahagia dan iri setelah menggunakan media sosial. Mereka yang terbiasa membuka media sosial akan merasa cemas apabila dalam satu hari tidak menatap layar gawai dan membuka media sosial yang dimilikinya. Jika sudah seperti ini, akan menimbulkan hasrat ingin bunuh diri yang lebih tinggi bagi seseorang yang telah terkena toksik media sosial.

Selain itu, Dr. Hugues Sampasa Kanyinga dari University of Ottawa mencatat bahwa siswa yang mengakses situs media sosial lebih dari 2 jam setiap harinya memiliki masalah kesehatan yang lebih lemah. Jika sudah memiliki masalah mental yang lemah, maka banyak hal-hal berbahaya yang akan terjadi dan rentan untuk melakukan hal yang buruk. 

Dilansir dari laman resmi kominfo.go.id mengungkapkan dari data UNESCO, masyarakat Indonesia amat aktif menggunakan media sosial. Hasil penelitian dari UNESCO menyimpulkan bahwa 4 dari 10 orang Indonesia aktif di media sosial seperti Facebook yang memiliki 3,3 juta pengguna, kemudian WhatsApp dengan jumlah 2,9 juta pengguna dan lain-lain. Banyaknya pengguna media sosial di Indonesia tentu akan memberikan efek negatif jika tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang hal ini. 

Meskipun begitu, pengguna media sosial tidak diharuskan untuk log out selamanya. Hanya saja mulailah untuk mengatur waktu dalam penggunaan media sosial dan setidaknya cutilah sejenak selama satu untuk menghindari risiko terkena depresi.

Editor : Adelini Siagian

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles