Perempuan Menjadi Pemimpin, Bolehkah ?

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet freepik.com)

Penulis: Farica Luthfiyah

Memimpin atau dipimpin? Untuk seorang perempuan keduanya sama-sama bisa. Seorang perempuan bisa untuk memimpin serta dipimpin. Di zaman sekarang sudah tidak ada lagi larangan bagi seorang perempuan untuk menjadi pemimpin. Beda halnya dengan dulu, di mana harga diri seorang perempuan tidak ada harganya sepersen pun, jangankan untuk menjadi pemimpin suatu kegiatan atau acara, menyampaikan sebuah pendapat pun tidak dihargai. Pada saat itu, harga diri seorang perempuan jatuh sejatuh-jatuhnya, dijadikan budak, dilecehkan serta banyak lagi hal yang tidak wajar lainnya. Beruntung saat ini kedudukan perempuan sudah memiliki kadar tingkatan yang sama dengan kedudukan laki-laki, semua ini berkat jasa perjuangan dari salah satu pahlawan perempuan yang berhasil mengangkat derajat perempuan, yaitu Raden Ajeng Kartini (RA Kartini). Berkat jasa beliau pula kita selaku perempuan memiliki hak menjadi seorang pemimpin.

Di dalam ruang lingkup agama Islam sendiri, kedudukan seorang laki-laki lebih tinggi bila dibandingkan dengan kedudukan seorang perempuan. Dalam hal ini pula, laki–laki yang memimpin seorang perempuan. Seperti salat salah satu contohnya, di sini sudah sangat jelas yang di mana laki–laki menjadi imam bagi perempuan. Konteks seperti ini sudah tidak bisa di ganggu gugat dengan kata lain sudah hukum pasti atau tetap. 

Namun, beda halnya dengan berpolitik yang di mana seorang perempuan bisa menjadi presiden, menteri, gubernur, atau yang lain sebagainya. Dalam hal ini statistik perkembangan telah menunjukkan angka positif bagi seorang perempuan baik dari sisi angka harapan hidup serta sampai dengan angka investasi ritel.

Di indonesia, hanya ada satu bahkan satu–satunya perempuan yang pernah menjadi seorang presiden sepanjang sejarah Indonesia sampai saat ini, ia adalah Hj. Diah Permata Megawati Soekarnoputri atau kerap dikenal dengan Megawati Soekarnoputri. Ia lahir 23 Januari 1947 yang menjabat menjadi presiden sejak 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004. Ia merupakan putri dari presiden pertama Indonesia, yaitu Soekarno.

Pemimpin perempuan memiliki peran yang sangat penting dan berharga dalam masyarakat saat ini. Ketika kita melihat sejarah dan perkembangan dunia, terlihat bahwa kehadiran pemimpin perempuan telah memberikan banyak dampak positif dan perubahan yang signifikan. Yang di mana kerap kali membawa keanekaragaman dan inklusi ke dalam kepemimpinan mereka. Seorang pemimpin perempuan memahami pentingnya mendengarkan suara semua orang. Pemimpin perempuan juga sering kali menunjukkan kepekaan sosial serta rasa empati yang terbilang luar biasa, di mana mereka mampu memahami serta mengenali kebutuhan masalah yang tengah dihadapi oleh para anggota tim mereka. Kemampuan seperti ini pula yang memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan yang menurutnya lebih baik, kemudian diimplementasikan kebijakan tersebut agar menjadi lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Selain itu juga ada beberapa jejak seorang pemimpin perempuan dalam dunia Islam, di antaranya, yaitu Khadijah Al–Kubra seorang pemimpin perusahaan sekaligus seorang pebisnis, kemudian ada Aisyah yang merupakan pemimpin komunitas Muslim di Jazirah Arab, dan yang terakhir ada Fatimah Al–Fihri yang merupakan pendiri Institusi Pendidikan Muslim terbesar di Jazirah Arab dan Afrika Utara serta masih banyak lagi lainnya.

“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang”. – RA Kartini

Editor: Adelini Siagian

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles