
Penulis: Alya Azra Mutia Nasution
Di tengah banyaknya persoalan tentang ekonomi dan kesehatan, pemerintah menggaungkan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk empat kategori, yakni anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat. Sekalipun niat baik ini patut diapresiasi, program ini juga menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat.
Baca Juga: Kesehatan Mental Gen Z dan Gen Milenial: Apakah ada Perbedaannya?
Banyak orang menyambut inisiatif ini, di satu sisi, mereka yang mendukung program berpendapat bahwa setiap orang berhak mendapatkan makanan yang sehat. Diharapkan dengan MBG anak-anak akan tumbuh dengan baik, tidak mengalami masalah gizi buruk, dan memiliki potensi yang lebih baik di masa depan. Program ini juga dianggap sebagai langkah konkret untuk mengatasi tengkes, yang masih menjadi masalah besar di Indonesia. Pemerintah berusaha memastikan bahwa tidak ada anak yang tumbuh tanpa asupan gizi yang memadai dengan memberikan makanan bergizi secara gratis.
Sedangkan di sisi lain, program ini juga menghadapi suara miring. Beberapa berpendapat bahwa program ini tidak merambah lebih jauh akar permasalahan yang lebih konkret, seperti kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Kritikus berpendapat bahwa makanan gratis tidak akan menyelesaikan masalah jangka panjang. Sebaliknya, mereka menekankan pentingnya program yang lebih berkelanjutan, seperti pemberdayaan ekonomi dan pelatihan keterampilan, agar orang dapat hidup sendiri dan tidak bergantung pada program makanan.
Selain itu, kualitas dan keberlanjutan makanan yang disediakan program ini juga menjadi perhatian. Beberapa orang mempertanyakan apakah makanan yang diberikan memenuhi persyaratan nutrisi. Makanan gratis dianggap berkualitas rendah dan tidak sehat. Akibatnya, pemerintah harus memastikan bahwa makanan yang disajikan dalam program MBG tidak hanya cukup, tetapi juga sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Dilansir dari Tempo.co Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, sebelumnya mengatakan anggaran MBG sebesar 71 triliun, sedangkan yang tersedia saat ini hanya mencukupi hingga Juni 2025. Bahkan, dana tersebut belum mampu mencakup seluruh anak sekolah di Indonesia.
Permasalahan tambahan terkait dengan cara program dijalankan sejak 6 Januari 2025 kemarin. Ada beberapa laporan yang menunjukkan bahwa distribusi makanan tidak merata di satu daerah, lebih banyak perhatian diberikan daripada di daerah lain. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak puas dan merasa terabaikan. Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan program sangat penting untuk memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Pro dan kontra MBG harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Dalam hal ini, penting bagi pemerintah untuk melibatkan orang-orang seperti ahli gizi, pendidik, dan orang tua dalam merancang dan melaksanakan program MBG. Pendidikan gizi dan pola makan sehat harus menjadi komponen penting dari program ini agar anak-anak tidak hanya mendapatkan makanan, tetapi juga mendapatkan nutrisi yang baik. Melibatkan masyarakat dalam pengawasan adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah ini. Setiap pihak memiliki kesempatan untuk saling bertukar pendapat dan mendapatkan informasi yang jelas.
Dari banyaknya pro dan kontra yang ada di masyarakat, sangat penting bagi pemerintah untuk mendengarkan suara dari masyarkat. Diperlukan adanya evaluasi untuk memperbaiki program ini. Masyarakat harus dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan agar program ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sebagai penutup, MBG adalah langkah positif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi harus diimbangi dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Diharapkan program ini akan membawa manfaat yang lebih besar dan berkelanjutan bagi masyarakat dengan mendengarkan suara masyarakat dan melibatkan mereka dalam proses. Agar tujuan mulia untuk membangun masyarakat yang sehat dan sejahtera dapat dicapai, mari kita mendukung upaya ini dengan kritis dan konstruktif.
Baca Juga: Apa Pengaruh Influencer terhadap Anak Muda?

