10 November adalah hari besar yang patut kita peringati. Dalam hal ini, kami berkesempatan mewawancarai Bapak Ngatman Azis, M.Pd., yang merupakan salah satu dosen Pendidikan Karakter. Perbincangan kali ini berkenaan dengan refleksi hari pahlawan yang tentunya harus kita maknai dan tanamkan dalam kehidupan kita.
Bagaimana Cara Memperingati Hari Pahlawan ?
Membentuk dan Meneladani dari apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan dan pejuang kita. Jadi, kaitannya dengan istilah pendidikan, yakni mencoba untuk membentuk karakter generasi kita, generasi yang peduli terhadap kepentingan-kepentingan. Hari pahlawan itu ditandai dengan semangat menggugah generasi untuk mencontoh dan meneladani para pahlawan. Bukan ditandai dengan acara yang gebyar yang tidak mendatangkan manfaat. Tapi, acara yang sifatnya membawa kita pada semangat, mencontoh, meneladani, atas apa yang dilakukan para pahlawan terhadap kontribusinya kepada bangsa.
Apa Guru dan Dosen Termasuk Pahlawan ?
Kalau guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, artinya guru telah banyak memberikan kontribusi, terutama menyangkut masalah keilmuan, membentuk anak-anak didik, dan diamanahkan menghantarkan anak didik kita agar menjadi pintar. Sehingga, yang diharapkan ke depannya menjadi generasi yang pintar dan benar, terutama untuk meneruskan perjuangan para pahlawan .
Apa Sebenarnya Hari Pahlawan Itu ?
Hari pahlawan itu lebih kepada sikap menghargai, karena bagsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Menghargai bukan berarti dari nilai materi, tapi menghargai apa yang sudah diperjuangkan para pahlawan kita. Jika dulu pahlawan itu merebut kekuasaan untuk bangsa kita, sekarang kita harus sesuaikan karakter untuk mengisi kemerdekaan itu.
Apa Beda Memperingati Hari Pahlawan di Masa Dahulu dan Sekarang ?
Sebenarnya kalau diungkap masa pemerintahan sekarang ini berbicara tentang revolusi mental itu benar adanya. Karena jujur, karakter anak bangsa kita sudah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berbudi pekerti yang luhur, ramah-tamah, dan sopan santun. Generasi kita hari ini, lebih mengarah kepada tindakan-tindakan anarkis yang mengarah kepada integrasi bangsa. Perpecahan di dalam bangsa itulah sebenarnya yang menyebabkan bangsa ini jadi lemah. Itu terjadi karena dilatarbelakangi persoalan mental. Mental generasi yang tidak menemukan jati dirinya. Maka perlu dibongkar kembali nilai mentalistas bangsa ini. Kalau pada zaman dahulu mentalitas bangsa identik dengan hati nurani, dan sekarang mentalitas itu diselimuti dengan kebendaan dan materi. Kepentingan itu identik dengan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan, atau juga kepentingan yang sifatnya sesaat.
Bagaimana Kriteria Pahlawan Itu ?
Kriteria pahlawan pada masa sekarang ini adalah orang yang setiap bergerak melakukan sesuatu untuk kepentingan umat. Maka ketika dia bergerak mementingkan kelompok dan golongan yang dikategorikan.
Apa Harapan Bapak untuk Hari Pahlawan ini ?
Harapan saya, saya selalu mengatakan apapun jabatan saudara jadilah orang yang benar termasuk mahasiswa. Jadilah mahasiswa yang benar, mahasiswa yang benar yang memiliki tanggung jawab terhadap estapet dengan bangsa ke depan. Maka untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan, membekali diri dengan keilmuan dan menetapkan jati dirinya dengan nilai keinmanan dan menampung untuk menerusakn estapet kepemimpinan masa mendatang. Banyak-banyaklah berorganisasi dalam arti untuk memamatangkan diri, kemudian membaca supaya menambah wawasan, dan banyak-banyaklah untuk belajar karena belajar itu dalam Islam menteladani dari apa yang telah dilakukan para pahlawan serta para pejuang.
Reporter : Amal Hayati dan Munawarah
Editor : Rahmi Irada Lubis
Foto : google



keren