Siapa yang tidak ingin jalan-jalan gratis apalagi bersama para pejabat UIN Sumatera Utara, seperti “Wakil Rektor” ke Jakarta tepatnya di Istana Negara. Pengalaman yang pastinya sangat diimpikan oleh banyak mahasiswa UIN Sumatera Utara. Bukan satu orang wakil wektor saja, bahkan tiga sekaligus, yaitu wakil rektor I, wakil rektor II, dan wakil rektor III. Meskipun hanya satu hari perjalanan, namun itu pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku.
Berawal dari telepon panggilan dari Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika (HMJ PMM). Sore itu, ketika aku akan masuk kuliah mata kuliah kalkulus, tiba-tiba handphone bergetar dan ternyata panggilan masuk dari Sekretaris HMJ PMM yang mengharuskan aku untuk datang ke Jurusan pada saat itu juga. Ketika sampainya di Jurusan, aku langsung dibawa oleh Ketua Jurusan Dr. Siti Halimah, M.Pd., untuk menghadap Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Drs. Amiruddin Siahaan, M.Pd. Kemudian, beliau membuatkan aku surat pengantar ke Biro untuk pergi ke Jakarta mewakili Mahasiswa UIN SU untuk menghadiri acara launching IAIN menjadi UIN di Istana Negara Republik Indonesia.
Rasa tidak percaya pada diriku semakin timbul ke permukaan. Umumnya, mahasiswa yang diundang adalah mahasiswa yang memiliki prestasi selangit, sedangkan prestasi yang aku dapat hampir dapat dikatakan tidak ada. Mungkin ini salah satu rezeki yang diberikan Allah SWT kepadaku, yang sangat luar biasa ini.
Pagi hari sekitar pukul 03.00 dini hari, aku sudah mulai berangkat menuju bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara bersama Prof. Dr.Hasan Asari, M.A., (Wakil Rektor I), Prof. H. Hasan Bakti Nasution, M.A., (Wakil Rektor II), dan Prof. Dr. H. Ilhamuddin, M.A., (Wakil Rektor III). Tiba di bandara sekitar pukul 05.00 subuh, kami langsung melakukan Check In sebelum naik pesawat. Garuda Indonesia adalah pesawat pertama yang saya naikin dalam hidup. Suasana yang cukup elit sudah terasa dari mulai aku memasuki pesawat tersebut.
Pukul 07.30 WIB kami tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Suasana Ibu Kota yang padat di pagi hari, membuatku terus bertanya-tanya dalam diri, apakah ini kenyataan? Ternyata hal ini memang benar-benar terjadi. Sungguh, betapa bahagia luar biasanya perasaan hatiku. Sesampainya disana, aku langsung mengabari orang tua yang ada di kampung. Mereka amat begitu senang dan juga hampir tidak percaya dengan hal ini. Umumnya jika kita pergi pasti membutuhkan dana yang cukup banyak, apalagi naik pesawat. Itu yang membuat orang tuaku khawatir, karena sepengetahuan mereka, anaknya hanya memegang uang kurang dari 30 ribu Rupiah.
Setelah dari bandara, kami langsung menuju kantor Kementerian Agama RI dengan menggunakan taksi. Hampir 2 jam perjalanan yang kami tempuh akibat macet yang terjadi sepanjang jalan Ibu Kota Jakarta. Di kantor Kementerian Agama, kami di jamu layaknya tamu penting yang datang kesana. Kami langsung naik ke lantai 2 dimana tempat Meeting biasa dilakukan. Setelah 1 jam 30 menit bertemu, berbincang dengan para rektor dan wakil rektor dari Perguruan Tinggi Islam yang lain juga hadir pada kesempatan itu. Kami juga disuguhkan hidangan berkualitas yang bertaraf makanan Istana Negara.
Kemudian kami hijrah ke Istana Negara yang menempuh perjalanan lima menit dari kantor Kementerian Agama. Tiba disana, aku langsung melaksanakan ibadah sholat Jumat di mesjid yang berada di dalam Istana Negara bersama para wakil rektor, dan di sana jugalah pertama kali aku berjumpa langsung dengan orang nomor satu di Indonesia, Ir.H. JokoWidodo bersama dengan H.M. Jusuf Kalla seusai sholat berjamaah.
Bersama wakil rektor I, II ,dan III, aku menyusuri lorong-lorong Istana Negara. Itu adalah pengalaman yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Berjalan kaki menuju tempat acara Launching IAIN menjadi UIN dan STAIN menjadi IAIN. Aksi foto-foto yang kulakukan bersama mereka menambah kembali momen yang tak terlupakan selanjutnya. Seorang wakil rektor yang ketika dalam kampus menjaga “Image-nya”, ternyata juga bisa sangat eksis jika sudah berada ditempat yang sangat sakral itu.
Seusai acara berlangsung, kami langsung menuju Bandara Soekarno Hatta untuk kembali menuju Medan, Sumatera Utara. Penerbangan yang di jadwalkan pukul 19.30 WIB ternyata mengalami delay selama dua jam lamanya. Perasaan kecewa tampak dan terdengar dari wajah dan perkataan para pejabat UIN SU. Mereka kelihatan sangat lelah dengan agenda yang dijadwalkan hari itu. Badan lemas dan mata sayup-sayup tampak diraut wajah mereka. Ketika perjalanan pulang mereka tertidur sangat pulas di pesawat, dan hal ini juga menjadi catatan pengalaman yang tak terlupakan. Tidur satu pesawat dengan wakil rektor.
Keadaan gembira, senang, bangga, tidak percaya, hingga hal-hal lucu terjadi pada saat itu. Rasanya masih seperti mimpi kejadian saat itu, ternyata seorang wakil rektor yang biasanya kita temui sangat serius dan profesional, ternyata juga manusia biasa. Ada juga tingkah-tingkah konyol yang mereka lakukan yang tentunya tidak begitu perlu untuk di tuliskan di sini. Perjalanan yang akhirnya berakhir pada Sabtu, pukul 01.00 WIB dini hari itu menjadi kenangan yang sangat luar biasa. Kapan lagi bisa bercanda-canda bersama wakil rektor satu harian penuh? hanya hari dan mungkin seumur hidup sekali terjadi. Ini cerita yang nantinya menjadi sejarah dalam hidupku dan akan aku ceritakan kepada anak istriku pada suatu hari nanti. Ini menjadi catatan pengalaman yang tak terlupakan.
Oleh: Dhanu Nugroho Susanto
Editor: Chusni Pasaribu


