
Penulis: Kauria Rawia
Kita mengandalkan otot setiap hari, termasuk dalam aktivitas sehari-hari, seperti mengetik di komputer, berjalan, berlari, atau memasak sekalipun. Namun, meski jarang terjadi, otot-otot ini terkadang bisa memberontak melawan kita. Stiff Person Syndrome (SPS) adalah penyakit autoimun dan neurologis yang dapat menyebabkan otot-otot tubuh dan anggota badan bergantian antara kaku dan kejang.
Stiff Person Syndrome atau sindrom orang kaku juga merupakan suatu kondisi langka yang mempengaruhi sistem saraf. Korban mengalami kejang otot dan berkurangnya kepekaan terhadap sentuhan. Penyanyi Celine Dion dikabarkan baru-baru ini menderita penyakit ini sehingga harus menunda turnya.
Penyebab penyakit yang sangat langka ini masih belum diketahui. Namun, para peneliti menduga hal itu terjadi akibat reaksi autoimun, di mana tubuh menyerang sel saraf di sistem saraf pusat yang mengontrol pergerakan otot.
Baca Juga: “Emang Boleh Se-Korea Itu?”
Melansir dari laman Yale Medicine, Richard Nowak, MD, ahli saraf di Yale, mengatakan, “Orang dengan SPS dapat mengalami spektrum dari yang ringan hingga yang berat, dan pendekatan yang dipersonalisasi untuk mengobati penyakit ini adalah cara terbaik untuk memastikan hasil yang lebih baik”.
Secara khusus, sistem kekebalan tampaknya menyerang protein yang disebut asam glutamat dekarboksilase, yang membantu membuat zat yang disebut asam gamma-aminobutyric.
Gejala Utama
Gejala utama dari SPS yakni kekakuan otot pada tubuh dan kaki. Kekakuan ini sering kali disertai kejang otot. Ya, ada beberapa faktor pemicu kejang, beberapa di antaranya disebabkan oleh rangsangan lingkungan (seperti suara keras) atau stres emosional.
Dalam kasus yang parah, kejang otot dapat menyebabkan pasien terjatuh saat ototnya rileks. Seiring berjalannya waktu, gejala tersebut bisa membuat sulit berjalan hingga lumpuh. Orang dengan sindrom ini berisiko mengalami depresi dan kecemasan. Pasalnya, penyakit ini sulit diprediksi. Kadar glutamat dekarboksilase yang rendah dapat mempengaruhi bagian otak yang mengatur kecemasan.
Parahnya, gejala ini membuat otot menjadi sangat kaku dan sulit digerakkan. Kekakuan ini sifatnya tidak sementara, akan tetapi berlangsung lama, bahkan hingga beberapa hari. Orang yang terkena dampaknya juga mungkin akan mengalami kejang otot yang menyakitkan. Perawatan penyakit ini melibatkan berbagai metode, seperti penggunaan obat-obatan diazepam atau baclofen untuk mengurangi kekakuan otot. Terapi fisik dan terapi okupasi dapat membantu meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot. Dukungan psikologis dapat membantu mengatasi dampak emosional karena gejala penyakit ini dapat dipengaruhi oleh stres.
Apakah Bisa Disembuhkan?
Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit SPS ini. Namun, dokter meresepkan beberapa obat untuk meredakan gejalanya, misalnya obat penenang, pelemas otot, dan steroid. Imunoglobulin intravena dan plasmapheresis adalah imunoterapi yang paling sering diresepkan untuk mengendalikan penyakit autoimun. Selain pengobatan, pasien juga disarankan melakukan terapi fisik untuk mencegah kelumpuhan. Sindrom orang kaku adalah suatu kondisi langka yang mempengaruhi sistem saraf dan otot seseorang. Kondisi ini belum bisa disembuhkan sepenuhnya, akan tetapi perawatan medis dapat membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderitanya.
Namun, respons terhadap pengobatan dapat bervariasi dari orang ke orang. Rencana pengobatan harus disesuaikan dengan kondisi individu. Penting untuk menemui ahli saraf atau dokter yang berpengalaman menangani SPS untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.
Baca Juga: Antara Investasi Keuangan dan Leher ke Atas, Pilih Mana?
Editor: Nisrina Ardra Hafizha

