
Penulis: Rofitrah Fadli Sihombing
Malam takbiran adalah malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Selain menandakan bulan Syawal menyapa dan Ramadan yang berakhir, malam takbiran juga berfungsi sebagai momen ajang bersilaturahim dengan orang terdekat.
Sebagai hal yang ditunggu, umat Muslim pasti sangat senang dengan malam yang penuh dengan gema takbir itu. Bagaimana tidak? Malam itu seperti hadiah selama 30 hari belakangan atas kewajiban berpuasa. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa taala (Swt.) dalam Q.S. Al-Baqarah: 183.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Tak hanya itu, dalam bulan Ramadan inilah manusia yang beriman diperintahkan untuk memperdalam ibadahnya dari bulan-bulan sebelumnya. Bulan yang penuh berkah ini adalah bulan yang diistimewakan dari bulan yang lainnya. Mengapa demikian?
Faktanya, Ramadan adalah waktu di mana mukjizat paling hebat Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam (saw.) turun, bahkan masih ada hingga sekarang, yaitu kitab suci Al-Qur’an. Peristiwa diturunkannya Al-Qur’an ini dikenal dengan sebutan “nuzululquran”, yang mana turun pertama kali di gua Hira’ pada 17 Ramadan. Hal ini dibuktikan dengan dalil sebagai berikut.
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an,” (Q.S. Al-Baqarah: 185)
Baca Juga: Hikmah dan Amalan Malam Nuzululqur’an
Kini 30 hari berlalu, nafsu yang biasa menyerang telah kita tahan. 30 hari menjadikan kita ibarat kepompong. Namun, berhasilkah kita menjadi kupu-kupu dengan sayap yang indah? Ramadan berlalu sedang syawal menyapa. Sudahkah kita menjadi hamba Allah yang terbaik, atau sekadar mendapat ampunan dari Allah?
Celakalah kita, jika tidak mendapat ampunan dari Sang Maha Pengampun. Malaikat Jibril pun akan mendoakan kita sebagai manusia celaka jika dosa-dosa kita tidak diampuni oleh Allah, dan doa tersebut juga diaminkan oleh Rasulullah saw. sebagai manusia paling mulia.
“… Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan tetapi dosanya tidak diampuni, maka aku mengucapkan ‘aamiin’….”
Dari potongan hadis di atas, ternyata Rasulullah mengingatkan umatnya untuk serius mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Jika Ramadan berlalu tapi seorang manusia masih berlumuran dosa, maka sudah pasti celakalah ia.
Bunyi takbir berkumandang di setiap sisi jalan, tanda bulan penuh kemuliaan meninggalkan kita untuk sementara. Namun, umurlah yang menentukan. Bisa saja ini adalah Ramadan terakhir untuk kita. Takbir menyapa sebagai bentuk penyempurna puasa kita. Oleh karena itu, hendaklah kita mengagungkan Allah diakhir Ramadan dengan melaksanakan perintah Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 185.
“…. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”
Kita telah menang melawan nafsu selama 30 hari. Ibarat Perang Badar, begitu juga pada dasarnya melawan hawa nafsu. Rasulullah pernah berkata bahwa perang yang paling hebat di dunia ini adalah perang melawan hawa nafsu sendiri.
Setidaknya kita melawan diri sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Berpuasa mulut, perbuatan, mata, serta perut, sudah menjadi mulia di sisi Allah. Hanya saja, akankah ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Sang Maha Pencipta? Allahu a’lam. Kita tidak punya hak untuk menentukan amalan kita diterima atau tidak. Hal yang paling terpenting adalah ikhtiar untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa yang kita perbuat.
Kini, kita sudah berada di penghujung Ramadan. Alangkah lebih baiknya kita memperbanyak amalan kita. Betapa rugi kita sebagai hamba-Nya, jika amalan kita di bulan mulia ini terhitung sedikit. Mari tingkatkan iman dan ketakwaan kita, agar kita keluar sebagai kupu-kupu dengan kepakan sayap yang indah.
Baca Juga: Don’t Give Up!
Editor: Rika Wulandari

