
Malam jumat ini terasa lebih mistis dari biasanya, aroma kemenyan sangat menyengat. Di samping kanan dan kiri rumah kami, berdiri bangunan ruko tiga tingkat. Mereka selalu memaksa menjual rumah kami dengan penawaran yang murah sampai tertinggi. Tapi tetap saja Bang Haril kuat menolaknya. Aku mengerti, karena pesan Ayah sebelum meninggal, rumah tidak boleh dijual.
“Kau habiskan sarapanmu, abang mau ikut gotong royong sebentar,” Bang Haril mengelus kepala sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya, Bang Haril menyemangatiku agar makan yang banyak.
Aku tak minta lebih pada Tuhan, hanya ingin abangku sehat. Dia sudah seperti ibu yang menyiapkan segala kebutuhanku, seperti ayah yang menafkahiku. Dia selalu punya cara untuk membuatku tertawa, entah dengan bermain gitar, membelikanku mainan, sampai mengajakku jalan-jalan. Pokoknya dia abangku, Haril.
Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada Bang Haril, kenapa setiap malam dia keluar rumah, apa sebenarnya pekerjaanya? Katanya, dia bekerja sebagai supir pribadi, tapi aku ragu dia punya penampilan seperti orang kantoran, memakai kemeja dan jas, dandananya tak kalah dengan artis yang sering kulihat di TV. Dia berbeda sekali saat siang hari.
Bang Haril selalu cerita, kalau hidup di kota seperti ini kita harus memakai topeng, supaya bisa tetap bertahan dan menghasilkan uang. Dengan memakai topeng pula kita bisa disukai orang lain dan tidak diganggu. Aku bilang, kalau aku tidak mengerti apa yang diceritakanya, tapi Bang Haril bilang yang penting aku tahu, dan tak perlu mengerti.
“Malam ini abang pakai topeng apa?” Tanyaku penasaran, sambil memperhatikanya berpenampilan parlente, tapi Bang Haril begeming dan tersenyum lalu duduk tepat di sampingku
“Abang gak bisa kasi tahu kamu, abang sedang pakai topeng apa, ini rahasia,” ujarnya.
“Apakah abang pakai topeng batman, superman, atau apa pun pasti abang pakai topeng hero,” aku tepuk tangan kegirangan.
Bang Haril baru pulang jam 12 malam nanti, saat semua orang sudah tidur. Dia akan datang dengan menenteng jas dan plastik berisi makanan. Wajahnya datar, entah sedang bahagia atau sedih, aku tidak tahu. Dia memang seperti itu kalau malam hari, tapi kalau pagi, saat berkumpul dengan warga sekitar, dia akan jadi pemuda yang riang, aktif dan disayangi.
Aku selalu terbangun saat jam Bang Haril pulang, dan selalu membukakan pintu untuknya, aroma parfumnya berbeda dari saat dia pergi, kadang di kemejanya selalu ada bekas noda merah. Wajahnya lesu dan hanya tersenyum tipis, kadang dia hanya mengelus kepalaku, dan tidak berkata apa-apa. Begitulah Bang Haril kalau sudah malam.
“Apa kau lelah bang? Apakah pekerjaanmu terlalu berat? Ucapku dalam hati. Ah, Aku tak berani bertanya, dan tak bisa. Bang Haril selalu tidur di kamarku, dan aroma parfumnya masih sangat menyengat, ini bukan wangi parfum yang biasa dipakainya, setiap malam aromanya juga berbeda, sangat menyengat, dan sepertinya ini parfum wanita.
Topeng apa sebenarnya yang dipakai Bang Haril, kenapa setiap malam dia berubah seperti ini. Apakah warga tahu dia memakai topeng? Aku harap jangan, warga tidak boleh tahu.
***
Pagi harinya, bang Haril kembali ceria, dia bercengkrama dengan warga, saat itulah aku mendengar tawanya. Begitulah setiap hari, Bang Haril menggunakan topeng, sehingga dia tampak berbeda saat pagi dan malam hari
Seusai makan, aku memberanikan diriku menyentuh tanganya saat ingin mengangkat piring ke dapur, lalu Bang Haril menatapku dan kembali duduk. Aku pun mulai menggerakkan tanganku di permukaan wajahnya, aku harap dia mengerti maksudku. Bang Haril terdiam, tersenyum sedikit dan mengelus kepalaku.
“Abang gak bisa memberitahumu topeng apa yang Abang pakai,” kata Bang Haril pelan.
“Biar abang saja yang pakai topeng, kamu tetaplah jadi dirimu sendiri, pakai topeng itu tidak membahagiakan. Kita harus pandai memainkan peran kita dengan baik, sesuai dengan topeng yang kita pakai,” Bang Haril langsung bergegas ke dapur.
Bang Haril juga bilang, para artis dan politikus juga banyak yang pakai topeng, itulah mengapa mereka bisa bertahan hidup. Di depan TV akan tampak begitu bahagia, baik, santun dan ramah, tapi di dalam rumahnya, kita tidak tahu seperti apa. Memang betul juga kata Bang Haril, pakai topeng gak bisa buat kita bahagia.
“Lihat saja Boy, salah satu artis yang ketahuan menggunakan narkoba karena stres, padahal di TV dia seorang yang ceria dan humoris. Begitulah contoh orang yang pakai topeng,” Bang Haril melanjutkan permbicaraan tadi, matanya fokus pada berita di TV.
Sebenarnya aku ingin bilang, tidak perlu contoh yang jauh, kurasa Bang Haril juga begitu, tidak bahagia, pagi hari dia tertawa lepas di depan orang, lalu kalau malam, dia hanya punya wajah lesu dan sendu. Tapi sayangnya aku tidak berani dan tidak bisa mengatakanya.
“Abang akan melepaskan topeng ini segera, walaupun akibatnya sangat mengerikan,” Bang Haril tampak serius.
***
Sengaja aku terjaga, aku ingin memastikan apakah Bang Haril bekerja sebagai supir atau tidak. Tepat jam 12:00, sebuah mobil kilat bewarna silver berhenti di depan rumah. Dari pintu kanan keluar seorang lelaki berbadan tegap, rapi dan dia abangku, Haril. Berarti benar dia seorang supir. Tapi baru jalan selangkah, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu mobil sebelah kiri, dan wanita itu menyerahkan amplop.
Betapa terkejutnya aku, haruskah Bang Haril menggunakan topeng yang menyeramkan seperti itu. Pasti selama ini dia menderita, aku tahu benar siapa Bang Haril dia rajin ke masjid, ikut gotong royong dan peduli dengan sesama. Seberat itukah topeng yang harus digunakannya.
Pagi ini aku berniat untuk marah pada Bang Haril, semampuku, aku nanti akan berteriak ketika selesai makan, hanya itu yang bisa aku lakukan.
“Bunuh saja dia, bunuh!” Suara itu lantang terdengar dari depan rumah. Aku terkejut, Bang Haril langsung memeriksa keadaan di luar, dan tanpa berkata apa-apa, Bang Haril langsung menggendongku, dan aku hanya bisa melihat saja, sambil berteriak serak, aku ketakutan.
Tapi sayang, belum sempat kami keluar dari pintu belakang, mereka berhasil mendobrak pintu dan menendang Bang Haril hingga terhempas. Semua caci dan maki keluar dari mulut mereka, wajah mereka semua dipenhi amarah termasuk warga yang kemarin masih sangat ramah. Topeng Bang Haril sudah terbuka, bagaimana ini?
“Dasar munafik! Cuih”
Itulah kalimat yang kudengar terakhir kali, selebihnya mataku hanya menangkap warna gelap, siapa sebenarnya mereka, apa mereka juga menggunakan topeng, kemarin mereka baik, kenapa sekarang jadi mengerikan? Siapa mereka, berani mengatakan abangku munafik, apa mereka itu Tuhan? Tuhanlah yang berhak menobatkan gelar munafik itu pada manusia, bukan mereka.
Aku ingin berteriak, mengatakan “Jangan pukuli abangku,” tapi aku tidak bisa bukan tidak berani lagi. Aku bisu, dari kecil Tuhan tidak mengamanahkanku lidah untuk bisa berbicara, mataku sepenuhnya menangkap gelap. Terakhir kali aku melihat wajah abangku penuh darah dan matanya terpejam. Bahkan dalam mimpi, izinkan aku bertemu Bang Haril, biarkan aku bicara sekali, tidak apa kalau pun dalam mimpi, aku ingin bilang, “Jangan pakai topeng lagi, jadilah abangku apa adanya dan seutuhnya”. Biar orang membenci, selama itu tulus, kurasa itu lebih baik, daripada cinta tapi itu hanya topeng.
Penulis : Gigih Suroso

