Wajah Ganda High-Functioning Anxiety, Produktivitas Menjadi Racun

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.newmindpa.com/how-to-cope-with-high-functioning-anxiety/)

Penulis: Zaitun Azzahra

Dalam dunia psikologi, ada sebuah fenomena yang sering luput dari pengamatan orang-orang, yaitu seseorang yang tampak sangat sukses, tetapi sebenarnya sedang hancur di dalam, dengan pikiran dan kesehatan mental yang tidak baik-baik saja. Terkadang kita berjumpa dengan sosok “mahasiswa teladan”, seseorang yang selalu tepat waktu, aktif di berbagai organisasi, memiliki indeks prestasi yang mengagumkan, dan tampak selalu memegang kendali. Di mata orang sekitar, itu adalah potret keberhasilan yang nyata. Namun, di balik kesibukannya, sering kali tersembunyi realitas kelam yang dikenal sebagai High-Functioning Anxiety.

High-Functioning Anxiety (HFA) adalah kondisi ketika seseorang mampu berfungsi secara normal, bahkan luar biasa, tetapi batinnya terus-menerus dicengkeram oleh ketakutan yang melumpuhkan. Berbeda dengan Generalized Anxiety Disorder yang biasanya membuat penderitanya sulit beraktivitas atau menarik diri, HFA justru diibaratkan sebagai “mesin penggerak” yang memaksa seseorang untuk bekerja lebih keras, lebih cepat, dan lebih sempurna sebagai pelarian dari rasa takut yang melumpuhkan. Kesibukan yang dipaksakan ini merupakan cerminan dari krisis mental yang nyata di masyarakat.

Baca Juga: Debut Pelatih Indonesia di FIFA Series 2026, Harapan Baru Masyarakat

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, tercatat kenaikan tajam gangguan mental emosional pada penduduk usia di atas 15 tahun, yakni dari 6 persen pada tahun 2013 menjadi 9,8 persen. Hal ini dipertegas oleh hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan angka depresi pada masyarakat mencapai 1,4 persen. Sayangnya, hanya 10,7 persen dari mereka yang mengakses pengobatan medis. Rendahnya angka pencarian bantuan profesional ini mengonfirmasi adanya gejala high-functioning anxiety. Banyak individu memilih menyembunyikan kecemasannya di balik tumpukan pekerjaan demi menjaga citra profesional.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu pemicunya adalah budaya digital yang tidak pernah berhenti di sekitar kita. Laporan We Are Social 2024 menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 11 menit setiap hari untuk media sosial. Berbagai platform, seperti Instagram ataupun LinkedIn, membuat kita terus-menerus diperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Tontonan tersebut memicu rasa takut tertinggal dan muncul tekanan untuk selalu divalidasi. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam siklus kerja berlebihan, bukan karena antusias, melainkan sebagai mekanisme pertahanan agar tidak dianggap gagal.

Secara medis, High-Functioning Anxiety ditangani layaknya gangguan kecemasan umum melalui psikoterapi dan penggunaan obat-obatan seperti antidepresan untuk menstabilkan neurotransmiter di otak. Bantuan medis ini sangat penting agar kecemasan tidak berkembang menjadi kerusakan mental dan fisik yang lebih permanen. Dalam Islam, kecemasan yang berlebihan sering kali berakar dari hilangnya ketenangan hati. Ketika seseorang merasa seluruh hasil kehidupan berada mutlak di tangannya sendiri, ia akan memikul beban yang tidak semestinya. Dalam kasus ini, sangat penting untuk menanamkan prinsip tawakal dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 28, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.

Kesuksesan yang dibangun di atas fondasi kecemasan yang rapuh tidak akan membawa kebahagiaan sejati. Menjadi tidak sempurna adalah manusiawi, dan mencari bantuan saat merasa rapuh adalah bentuk keberanian tertinggi. Mari kita jadikan produktivitas sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, bukan sebagai pelarian dari jiwa yang sedang merintih kesakitan.

Baca Juga: Viral Dulu, Ditangani Kemudian: Wajah Asli Sekolah Hari Ini

Editor: Dinda

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles