
Penulis: Putri Khairunnisa Nabila
Pada abad ke-21 ini, segala sesuatu serba dipermudah oleh kecanggihan teknologi. Para ilmuwan berbondong-bondong menyongsong perkembangan teknologi untuk memudahkan pekerjaan manusia. Salah satu upaya itu contohnya adalah meluncurkan kecerdasan buatan yang biasa dikenal dengan sebutan AI (Artificial Intelligence) dan sudah ada sejak tahun 90-an.
AI merupakan cabang ilmu komputer yang menggunakan kemampuan mesin untuk menuntaskan tugas atau kegiatan yang biasa dilakukan oleh manusia. Secara singkat, AI diluncurkan untuk memudahkan pekerjaan manusia dengan memanfaatkan kemampuan mesin atau sistem. Sejak awal tahun 2000 penggunaan AI terus meningkat dan terus berinovasi.
Namun, selain dampak positifnya yang sering disebut-sebut memudahkan pekerjaan manusia ini, nyatanya AI juga dapat memberikan dampak negatif, seiring peningkatan pada penggunaannya. Banyak yang tidak menyadari bahwa AI dapat memicu runtuhnya kepercayaan secara umum, dengan kemampuannya dalam menggambarkan realitas dengan kepalsuan yang mendalam.
Sebagai contoh dampak negatif AI yang banyak digunakan adalah Chat GPT (Generative Pre-trained Transformer). Pada umumnya, Chat GPT terkesan dapat memudahkan manusia dalam mencari informasi. Akan tetapi hal ini pula yang akan membuat generasi penerus menjadi malas membudayakan literasi dan mendalami sebuah pengetahuan.
Selain itu, AI mampu menipu banyak orang dengan menirukan suara hingga bentuk wajah seseorang. Hal ini sempat viral pada masanya ketika ada sebuah kasus yang menerangkan bahwa seseorang telah ditipu oleh oknum yang suaranya menyerupai orang yang ia kenal melalui sebuah panggilan telepon.
Ini merupakan sebuah peringatan untuk kita semua agar tidak sembarangan membagikan foto atau video kita ke media sosial. Serta, tidak sembarangan mengangkat telepon dengan nomor tak dikenal, yang dikhawatirkan akan menduplikasi suara kita menggunakan AI untuk mengelabui banyak orang.
Sebuah kasus yang cukup viral dan menggemparkan dari Amerika Serikat ialah kasus Keluarga Clarke. Mengisahkan sebuah keluarga yang beranggotakan tiga orang, yakni Jonathan dan Melissa, sepasangan suami isteri dengan seorang anak yang bernama Bobby. Mereka dikabarkan menghilang dan tidak meninggalkan jejak sama sekali pada 13 Oktober 2023 lalu. Setelah kasus ini diusut oleh polisi, mereka ditemukan hampir membusuk dengan keadaan setengah membungkuk di dalam sebuah kubus dari batu bata.
Lebih mengejutkannya lagi, kasus ini bukanlah kasus asli. Mulai dari latar, alur cerita, serta karakternya ditulis oleh AI sedemikian rupa dan senyata mungkin. Sehingga, kasus ini dapat mengelabui para penikmat dengan sebuah “kebohongan” yang ditulis oleh AI.
Pastinya, kasus ini sangat menarik perhatian beberapa Youtuber, TikToker, dan para influencer lainnya. Terbukti dari salah seorang Youtuber bernama Nessie Judge yang sempat menaikkan kasus ini ke kanal Youtube pribadinya pada 8 Maret lalu.
Pengaruh negatif AI ini seyogianya menjadi sorotan dunia agar lebih bijak dalam menanggapi sesuatu. Berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi, sudah sepatutnya kita turut waspada dan berhati-hati dalam menerima sebuah informasi. Cari tahu terlebih dahulu keakuratan berita yang tersebar agar tidak mudah dibodohi oleh AI.

