Oleh: Adjie Pratomo Amry
Lagu Last Night on Earth dari Greenday memutar di headset yang terpasang di kedua telingaku. Entah kapan lagu itu mulai main Aku pun tak ingat. Yang kusadari hanya Aku sedang mengendarai motor yang belum genap tiga bulan kupunyai dari hasil bekerjaku menjadi pramusaji di warung ayam penyet ternama di kota ini. Ibarat hotel, mungkin warung ayam penyet tempatku bekerja itu sudah tergolong bintang lima. Walau tetap saja Aku Cuma pramusaji.
Di atas motor yang sedang melaju tak begitu kencang ini pula Aku sadar bahwa Aku sedang tidak sadar. Ya, Aku tak ingat jelas kenapa Aku di sini dan mau kemana? Arah motor ini menuju pusat kota, Apa yang mau kucari di sana? Kacamata? Ah, tidak. Bingkai kacamata yang patah karena terhimpit saat tidur kemarin sudah kuperbaiki dengan lem setan. Beli perlengkapan kosmetik? Ah, apa lagi itu. Meski ingatanku buruk, setidaknya Aku ingat kalau Aku bukan bencong yang sering mangkal di dekat kuburan.
Hampir putus asa dengan ingatanku, pikiranku tersentak dengan getaran di hp ku. Itu pula yang mengingatkan keberadaanku disini. Baru ku ingat Aku diamanahkan orangtuaku untuk mengantar uang ke adikku, Salim. “Aku harus segera mencari ATM terdekat,†ucapku dalam hati.
Diantara ruko-ruko sunyi itu kutemui mesin ATM yang kebetulan kosong. “Wah. Bisa lebih cepat nih. Tinggal ambil uang, dan pergi mengantarnya.†Pikirku dalam hati. Aku ingat betul tadi malam uang lima juta itu sudah masuk ke rekening ATM ku. Tak butuh waktu lama untuk mencirkannya.
Oke, nomor pin ATM kumasukkan dengan cepat. Ini nomor pin yang takkan mungkin terlupa karena berasal dari tanggal jadianku dengan pacarku, Mitha. 170710. Kombinasi angka yang cantik bukan?
Tapi. Eh, tunggu dulu. Ada yang tidak beres. Saldo ATM ku tinggal 73.500 rupiah? Aih, kenapa ini? Pikiranku kacau. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana pula untuk menjelaskannya kepada orangtuaku. Jelas gaji satu juta perbulanku sebagai pramusaji takkan cukup. Atau aku harus merampok di Bank? Tidak, yang sering kulihat di TV perampokan bank selalu dilakukan oleh sekelompok orang, itu pun dengan senjata. Aku tak punya. Atau Aku harus ngamen? Bukan ide bagus. Tiga kali audisi Indonesian Idol yang kuikuti tak pernah berhasil. Hanya tayangan berdurasi 16 detik di TV saat audisi yang bisa kubanggakan. Atau aku harus belajar menghipnotis orang? Eh.
***
Pagi yang indah, langitnya biru cerah. Hari ini Aku berencana mengunjungi kos-kosan Adikku, Salim, untuk mengantarkan uang lima juta rupiah. Baru 3 bulan Dia mendapat gelar mahasiswa. Sebelum mengantar uangnya masih harus kuambil di ATM. Oke, ATM kampus menjadi pilihannya.
Sial, pagi itu ramai sekali antrian di depan pintu ATM. Tak heran, di tanggal muda ini pasti banyak mahasiswa daerah yang mendapat kiriman dari kampungnya. Dari tengah antrian kulihat ada dua mahasiswi putri di dalam. Entah kenapa selalu saja ada tipe orang yang seperti itu. Minta temani ke dalam ATM. Supaya apa? Memangnya di ATM ada kuntilanak yang nangkring di atas AC ATM? Dikiranya rumah hantu kali. Satu lagi yang kukesalkan dari orang yang berdua-duaan di ATM adalah mereka pasti lama dan banyak cerita. Satu angka yang ditekannya diselangi cerita tiga paragraf. Ya, ini ujian kesabaran.
Akhirnya dua mahasiswi itu keluar. Tak sengaja mata kami bertatapan. “Eh. Lumayan manis juga.†Ya, kuantitas mahasiswi manis di kampusku memang lebih banyak 13,64 % dibanding kampus tetangga. Setidaknya dampak positif dari hal itu adalah motivasi ku untuk betah kuliah. Tak sengaja mataku mengikuti langkah dua mahasiswi tadi dari belakang sampai menghilang di ujung jalan sana.
Orang berikutnya masuk ke ATM. Setelan hitam-putihnya meyakinkanku kalau Dia pasti akan ujian kompri nanti. Kucoba perhatikan wajahnya. Buset. Terlihat sangat tua. Dari kerutan pipinya pasti umurnya tak kurang dari 25 tahun. “Kasihan sekali, sudah setua itu baru mau wisuda. Kalau bukan karena pemalas pasti Dia aktivis kampus yang tak seberapa. Sok-sok profesional berbakti kepada organisasi, akhirnya kuliah terbengkalai. Mahasiswa yang malang.†Gumamku dalam hati.
Dari awal semester Aku memang mahasiswa yang rajin. IP ku tak pernah kurang dari 3,6 tiap semesternya, dan di semester tujuh sekarang ini Aku sudah tidak punya mata kuliah lagi karena seringnya mengikuti mata kuliah pengambilan ke semester atas. Aku pasti wisuda dengan IPK yang tinggi. Tidak seperti abang-abang itu.
Kupandang jam tanganku. Hampir 15 menit orang itu berada di dalam ATM. Aku mulai curiga, jangan-jangan Dia mengetik skripsi di dalam. Hatiku terus mengutuk orang itu. Kudoakan ujian komprinya tidak lulus. Biar tahu rasa.
Akhirnya Dia keluar. Sengaja tak kupandang wajahnya. Takut ketularan kemalangan hidupnya. Orang berikutnya masuk. Bapak-bapak yang sepertinya seorang dosen. Aku tak peduli apapun tentang bapak-bapak itu, yang pasti setelah Dia keluar Aku lah yang masuk.
Pandanganku berkeliaran liar mencari sesuatu yang mungkin bisa menghilangkan kebosananku dan berhenti ke sebelah kiri dimana seorang lelaki berambut ikal dan kumis tak terurus dengan jaket jeans di atas sepeda motor. Cepat kualihkan pandanganku sebelum mata kami bertemu. Tapi malah Aku yang jadi risih. Sepertinya orang itu memandangiku terus. Apa yang dilihatnya? Aku bukanlah cowok dengan tubuh seksi. Badanku kurus, bahkan cenderung lemah. Membuka botol sirup obat batuk saja Aku tidak bisa.
Sesaat terasa perhatian orang itu sudah bukan lagi ke arahku. Saat itu pula ponselku berdering. Panggilan dari Mitha rupanya. Mitha adalah pacarku, sudah tiga tahun kami berpacaran. Dia mengerti Aku, dan Aku mengerti Dia. Ya, begitu lah kebanyakan orang mendeskripsikan pacarnya. Mitha memang sering menelfonku setiap harinya, walau hanya untuk menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk mandi. Dan Alhamdulillah Aku sudah mandi pagi tadi.
Ponsel kuangkat bersamaan dengan keluarnya orang seperti dosen yang berada di dalam ATM tadi. Akhirnya, giliranku tiba.
Aku: Halo. Assalamu’alaikum.
Mitha: Wa’alaikumussalam. Dari mana aja sih? Kok gak ada nelfon tadi pagi?
Aku: Aa’ tadi buru-buru lho, sayang. Nih aja lagi di ATM. Jangan marah-marah gitu donk. Makin manis tau!
Mitha: Ish. Banyak kali ceritanya. Udah mandi kan?
Aku: Udah kok. Eh, bantuin mencet nomor pin ATM nya donk. Tangan abang pegel nih.
Mitha: Ish. Mentel lah. Ya udah. Nanti siang temenin ke perpustakaan ya. Mhie banyak tugas nih.
Aku: Hehehe… Iya, ingetin lagi nanti ya.
Mitha: Iya, cungkring. Udah ya A’. Wassalamu’alaikum.
Aku: Wa’alaikumussalam. Ai lop yu.
Mitha: I love you too.
Putusnya panggilan telfon itu bersamaan dengan keluarnya uang lima juta dari mesin ATM itu. Uang itu kusimpan rapi didompetku dan kukantongi. Kubuka pintu ATM dan keluar. Langkah pertama semua baik-baik saja, langkah kedua… Dab! Seorang pria menepuk pundakku. Pria itu. Iya, Dia orang ‘gatal’ yang menatapiku saat antri di ATM tadi. Tepukannya pula yang membuatku tersentak, terdiam, dan seakan terbang di atas gunung Sinabung mengelilingi wedus gembel yang keluar. Aku tak ingat apa-apa lagi.



sekaratlah udah saldonya..
jd inget ATM yg lg sekarat…
menarik dan mengulur ceritanya………..
5 jutanya cemana? satpamnya ga ada?
uang lima jutanya udah di rampok hipnotis lho kk
fiksi or nonfiksi ni?
ceritanya fiksi, tp terinspirasi dari bg beng lho
hahahhahah