Berantas Dari Akarnya!

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: www.google.com

Penulis: Rahmanuddin

Bejatnya para bandar narkoba hampir sama dengan bringasnya para teroris. Kedua subjek ini sama-sama harus dihukum seberat-beratnya. Harus dibasmi dan dipunahkan. Kondisi negara yang makin terpuruk dengan ancaman di sana-sini,  kepanikan di mana-mana tak terkecuali bagi pemerintah. Ini bisa jadi sinyal positif bahwa negara begitu disimak oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai penguasa persenjataan atau sebagai sinyal buruk untuk menghancurkan kemampuan bersenjata negara-negara yang disosor oleh teroris ini.

Pengakuan terhadap penguasaan suatu wilayah yang disengketakan, diperebutkan oleh berbagai kalangan, dijadikan sebagai kawasan militer bagi para teroris bermata dua. Kenapa bermata dua? Jawabannya karena teroris masa kini bukan hanya untuk membasmi penentang keyakinan mereka saja, tetapi untuk mencari dan mencuri ladang bisnis dan dapat digunakan sebagai modal para teroris untuk memperkuat persenjataan mereka, tentu ini berhubungan dengan belanja senjata termutakhir ke luar negeri.

Unsur ingin menguasai suatu paham dan wilayah yang lemah pengawasan sebelum terjadinya aksi saling balas dan baku tembak dan pengeboman wilayah jantung kota dan pemerintahan menjadi guguran penderitaan bagi warga yang harus (terpaksa) direlokasi ke tempat yang aman. Bukan karena adanya bencana alam seperti gunung api yang semburkan abu vulkanik dan lahar dingin yang membuat kulit melepuh dan koyak, melainkan akibat tindakan semena-mena ingin menindas hak manusia-manusia yang tak mengerti akan peperangan dan terorisme.

Perjalanan panjang pembahasan mengenai aksi teror sudah ada jauh sebelum ISIS terbentuk dan telah menunjukkan taringnya. Tahun 2001 silam, menjadi tahun terpuruk bagi Negara Adi Daya Amerika Serikat. Negara yang tergolong memiliki senjata yang lengkap dan pengawasannya, kecolongan dengan aksi teror khas Osama Bin Laden (OBL) atas keberhasilannya menabrak Twin Towers (Menara Kembar) yang berdiri kokoh di jantung Kota New York yang saat itu menjadi gedung kebanggaan warga New York dan Amerika Serikat.

Setelah tragedi 2001, lahirlah aksi-aksi serupa. Berbagai kota dan negara yang pernah menjadi objek serangan terapkan berkabung dan duka cita mendalam. Indonesia. negara yang arif dan rukun. Keberagaman menjadi alat pemersatu. Seperti makna yang terkandung dalam Semboyan RI, “Bhinneka Tunggal Ika”, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, Indonesia yang kompleks juga negara ter-Islam di dunia. Sayang, penggalan itu bukan jaminan bagi keamanan dan kenyamanan dalam negeri. Buktinya tahun 2001 silam ada aksi teror dengan membombardir kawasan wisata pantai Sanur, Bali. Lokasi berkumpulnya para wisatawan manca negara saat Party Night berlangsung. Akhir kisah, keceriaan malam itu segera binasa karena ada aksi teror di tempat mengasyikkan sehingga darah dan tubuh tak lagi sealiran.

Teroris ini sudah begitu bebas berkeliaran. Gonjang-ganjing lemahnya pengawasan pemerintah dan kritikan terlalu lebaynya aparat masih menjadi ghibah bagi para pakar dan ahli. Namun, menurut telaah saya pemerintah dan aparat jangan terlalu disalahkan. Kita mesti cari tahu akar dari tumbuhnya biji buah kebringasan ini sehingga bertunas dan bercabang sehingga menjamur ke lapisan masyarakat.

Beberapa orang dari golongan berpendidikan khususnya politik islam menyebutkan bahwa belakangan teroris dunia sudah beraviliasi dengan pihak Amerika Serikat. Mereka yakin banyak teroris di dunia yang saat ini telah menghancurkan perdamaian dunia yang seringkali dikampanyekan oleh United Nation (Perserikatan Bangsa-bangsa) dibiayai bahkan ditukangi oleh negara super power, begitu julukan yang orang-orang sebut. Namun, ihwal Amerika Serikat adalah pembiaya atau yang menukangi terorisme masih sekadar asumsi.

Asumsi bahwa gerakan terorisme besar-besaran khas National Islam Iraq Syirian (NIIS) atau ISIS adalah bentukan dari Militer Amerika Serikat tersebar luas khususnya di lingkungan kampus-kampus berideologi Muslimat Syar’i. Tuduhan bahwa ISIS adalah bentukan dari sisi lain pertukangan Amerika Serikat yang menginginkan gejolak bagi kalangan muslim dunia juga disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Pada Rabu (31/5) lalu, H. Fahri Hamzah, S.E blak-blakan utarakan rasa kesalnya kepada Amerika Serikat yang menjadi pecundang dan telah mengadu domba negara-negara muslim khususnya kawasan Timur Tengah. Ia mengklaim bahwa Amerika Serikat lah tirai putih dibalik tirai silver ini yang kasat mata dan sulit untuk mengendusnya. Begitu ia sampaikan saat ia menghadiri Seminar Nasional di Aula Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Bukti rekamannya masih saya simpan jika diperlukan di suatu saat.

Perlunya memberantas tindakan terorisme kalau harus dimulai dari akarnya, maka negara harus siap berdialog dengan Amerika Serikat untuk berunding membahas terorisme dan kebringasan ISIS di Timur Tengah. Sebagai salah satu negara dunia penghasil senjata dan alat tempur terkemuka di dunia, peran Amerika Serikat dalam hal ini mungkin ada. Sebab, Amerika Serkat juga berperan penting dalam negara yang kontra terhadap pemerintah Suriah. Mereka mungkin saja memasok senjata dan alat tempur lainnya untuk memerangi pihak oposisi Suriah. Lantas siapa pemasok senjata mereka kalau bukan bantuan dari negara lain. Bukannya akses teroris ISIS sudah ditutup oleh pemerintah Suriah dan Iraq apalagi negara-negara tetangganya!

Editor             : Nurul Farhana Marpaung

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles