Seperti sore-sore sebelumnya, jalanan sesak dengan orang-orang yang bergegas pulang setelah lelah seharian bekerja. Begitupun aku. Aku juga menjadi salah satu aktris dalam adegan kemacetan itu. Rasanya ingin sekali cepat pulang agar aku bisa cepat bertemu suamiku yang mungkin juga lelah karena bekerja seharian. Aku adalah seorang wanita karir yang Alhamdulillah sudah berkeluarga ke 22 tahun. Suamiku seorang Dokter Spesialis yang disibukkan dengan segala kegiatannya. Ia mengizinkanku tetap bekerja karena melihat semangatku yang menggebu untuk dapat merasakan dunia kerja, walau ia membatasi waktu kerjaku hanya dua kali dalam seminggu. Ya, aku membuka sebuah butik yang kukelola sendiri.
Sekitar pukul 17.00 WIB aku tiba di rumah. Kupersiapkan semua keperluan untuk suamiku pulang nanti, semisal menyediakan air panas untuk mandinya atau apa saja yang ia perlukan. Berharap aku mampu menjadi istri yang shalehah, yang bisa melayani suami dengan baik dan juga mendapat cinta dari Allah karena memuliakan suamiku. Aku begitu mencintai pribadi suamiku yang apa adanya. Aku selalu merasa hangat jika bersandar di bahunya. Sungguh aku sangat bersyukur Allah menghadiahkan ia padaku. Aku masih ingat ketika ia ‘memintaku pada ayah, dan kedua keluarga kami setuju untuk kami berta’aruf.
Setelah empat tahun perkenalan, dua bulan berta’aruf dan tiga tahun dalam masa pernikahan, ternyata aku menyadari masa ta’arufku dengannya tidaklah cukup membuatku mengenal pribadinya. Kuakui, aku mulai lelah dan merasa jenuh dengan semua cerita-cerita cinta yang pernah kusuguhkan padanya dulu. Semua terasa membosankan.
Aku merindukan saat-saat perhatiannya hanya tertuju padaku. Juga saat indah menerima ‘makalah’ cinta yang sudah ia susun untukku. Aku merindukan semua itu. Ada masa-masa dimana aku ingin bertingkah seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan coklat. Tapi nyatanya, semua hal indah yang aku harapkan tak pernah terwujud. Suamiku tak seperti apa yang kufikirkan, ia tak sesensitif yang kuharapkan. Sikapnya yang dingin dan selalu seolah tak peduli denganku, juga ketidakmampuannya menciptakan suasana romantis antara aku dan dia membuatku harus menelan pil pahit akan cinta yang istimewa.
***
Pagi sekali aku sudah bangun untuk melaksanakan salat subuh berjamaah bersama suamiku. Selanjutnya aku menyiapkan pakaian kerjanya dan langsung ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Niatku pagi ini sudah bulat.
Kufikir ini saat yang tepat untuk mengungkapkan rasa galauku belakangan ini.
“Pagi, Mas. Dimakan dulu nih!†Sapaku.
“Iya, makasi ya. Kamu hari ini engenggak ke butik kan?†Ucapnya sambil duduk di meja makan.
Otakku mulai berfikir. Dan mengambil keputusan.
“Enggak kok, Mas. Zahra enggak ada kegiatan ke butik hari ini. Mas, Zahra mau mengatakan sesuatu, boleh?†Tanyaku hati-hati.
“Ada apa? Katakanlah !â€
“Zahra… Ingin bercerai.†Kataku kaku. Ia membelalakkan mata seketika kearahku.
“Kenapa?â€
“Zahra sudah terlalu lelah dengan sikap Mas yang dingin dan tak mampu memberikan cinta yang zahra inginkan.â€
Ia terdiam. Masakanku kali ini hanya sepertiga yang ia makan. Tanpa izin, ia pergi begitu saja. Kekecewaanku makin meraja, apalagi yang harus kuharapkan dari lelaki yang bahkan mengekspresikan perasaannya pun ia tak mampu.
***
Malam itu, Mas Ardi pulang dengan wajah yang lesu. Mungkin karena lelah mengoperasi pasiennya siang ini. Setelah selesai melaksanakan salat fardhu magrib, Dia langsung memasuki ruang kerjanya. Dan kubuatkan secangkir teh untuk sekedar melepas penatnya.
“Permisi, Mas. †Kataku di depan pintu kerjanya yang terbuka. Ia hanya menatap dingin. “Ini tehnya diminum, selagi hangat.†Lanjutku sembari menyodorkan teh ke mejanya. Dia tidak bergeming hingga aku melangkah keluar dari ruangan itu. Tapi tiba-tiba,
“Sebentar.†Serunya.
“Apa yang bisa kulakukan untuk merubah fikiranmu?†Aku menatap matanya lekat-lekat.
“Jika aku mendambakan setangkai bunga yang letaknya hanya ada di satu puncak sebuah gunung yang dikelilingi jurang curam, apakah kau mau mengambilkannya untukku?â€
Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata, “Mas, akan menjawabnya besok.â€
Kembali hatiku perih. Tak ada jawaban pasti. Aku keluar dengan berurai air mata. Aku tak mau ia berubah, dalam hati paling dalam, aku tak menginginkan perceraian itu. Allah pun sangat membenci orang-orang yang mengambil jalan perceraian. Dia berubah. Dia berubah. Dia berubah. Tangisku tak tertahan. Kutumpahkan segala sedih di dalam kamar. Aku salat malam dan berharap doaku diijabah, dalam tahajud kubermohon agar semua baik-baik saja. Aku tahu Allah takkan memberi cobaan melebihi kemampuan manusia itu. Mungkin ada orang lain di hatinya. Tapi aku tetap berusaha tegar.
***
Pagi ini, aku baru tersadar dia tak kembali ke kamar tadi malam. Kulihat semua ruangan sepi termasuk ruang kerjanya. Aku tak menemukannya di tiap sisi rumah. Aku kembali memasuki ruang kerjanya. Namun nihil. Di meja kerjanya, kulihat ada beberapa coretan. Dan kutemukan selembar kertas yang terselip di bawah gelas teh tadi malam.
“Zahra, aku tak akan mengambilkan bunga itu untukmu. Takkan pernah!. Tapi biarkan aku menjelaskan alasan dari semua itu,â€
Aku tersentak di kalimat pertama,
“Kamu selalu kesulitan untuk mengubah susunan peralatan rumah kita, hingga aku harus memberikan kedua tanganku untuk membantumu.
Kamu selalu lupa membawa kunci rumah atau mungkin teledor meletakkannya, hingga aku harus menggunakan kakiku untuk mendobrak pintu agar kau bisa masuk.
Kau sangat suka jalan-jalan dan selalu nyasar di tempat-tempat yang baru kau kunjungi, hingga aku harus memberikan ‘mata’ku agar aku bisa mengarahkanmu.
Begitu juga kau selalu kesulitan dalam mendesain baju-baju yang akan kau buat, hingga aku memberikan mataku untuk membantumu memilih design terbaik.
Kau selalu pegal-pegal ketika ‘tamu bulananmu’ hadir, hingga aku harus menggunakan tanganku untuk memijatmu.
Ketika kau merasa bosan dengan aktivitasmu, aku meminjamkan mulut dan lidahku untuk menceritakan hal-hal unik padamu agar kau tersenyum.
Kau selalu terbangun lebih dulu di subuh buta, dan aku harus menyediakan mataku untuk dapat mengimamiku dalam salat.
Tapi sayang, aku tak akan mengambil bunga itu untuk menjemput kematianku. Karena Aku tak sanggup dan tak menginginkan air matamu terbuang untuk menagisi kematianku. Aku juga tak mau kita menjadi manusia yang di benci Allah karena mati konyol.â€
Aliran hangat menetes dari ujung mataku, kulanjutkan pesan itu,
“Kau adalah cintaku setelah cintaku pada Allah dan keluargaku. Kau hadiah terindah yang diberikan Allah padaku. aku mencintaimu karena Allah, sayang. Bagaimana mungkin aku bisa berpindah ke lain hati jika wajahmu sudah terpajang indah di dinding hatiku?â€
Aku tahu, Sayang. Akan banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dariku. Untuk itu, bila semua yang telah dianugrahkan Allah padaku, tanganku, kakiku, dan mataku tak mampu membuatmu bahagia, maka aku tak akan menahanmu untuk mencari tangan, kaki, dan mata yang lain untukmu yang mungkin akan memberimu bahagia lebih dariku.
Kucuran hangat itu makin menderas dan membasahi lembar tulisan itu. hatiku seakan tertampar hebat membaca tulisan itu. Ya Allah, dosakah aku yang telah meragukan cinta tulus dari hambamu?
“Setelah selesai membaca pesan ini, jika kau sudah menemukan jawaban yang kau cari, izinkan aku kembali kerumah ini, aku menunggumu di depan teras untuk menunggu jawabanmu, tapi jika tidak, izinkan aku masuk dan membereskan barang-barangku untuk tidak lagi menjadi imam dalam hidupmu. Aku ikhlas, Sayang. Dan aku berjanji takkan pernah mengganggu apalagi mempersulit hidupmu. Maafkan aku yang tak pernah bisa menjadi suami yang kau inginkan. Semoga Allah juga memaafkanku.
Percayalah, Sayang, bahagiaku hanya bila melihatmu bahagia.â€
Tanpa berfikir panjang, aku langsung berlari ke pintu depan dan menyambut dia. Ya. Dia suamiku. Di sana dia tengah berdiri dan mengharapkan aku membuka pintu dan membuka hatiku untuknya kembali.
Sekarang aku sadar, tak ada orang yang dapat mencintaiku lebih dari suamiku. Kadang ketika kita mulai bosan dan jenuh akan kehidupan cinta kita, sebenarnya tanpa sadar di situlah ada cinta yang baru yang lebih mulia yang di ciptakan Allah untuk manusia, begitu juga denganku. Cinta dengan wujud lain. Namun bukan dengan wujud bunga. Karena cinta tak sekedar bunga.



bunga pengantin itu beh…
hemmm, ckckck…
Fotony horor kali, kayak bunga untuk kematian. haha
yang lebih romantic laaa.. 😀
Nice post kk
lanjut kan kak bibeh ,,,,,
🙂
akhirnya…akhirnya….
arus sastranya terisi juga.
i like it.
like…