Oleh: Purnama Arfah
Moral dalam bahasa arab adalah akhlak, perbuatan dan tingkah laku manusia yang dapat membentuk suatu karakter baik dan buruk yang memiliki nilai sosial atau norma, saat ini bangsa Indonesia mengalami degradasi moral. Karena praktik kehidupannya mendekati kehidupan masyarakat sekuler. Salah satu penyebab terjadinya degradasi moral ini ialah ketidaksanggupan memfilter budaya barat yang masuk ke Indonesia itu sendiri, sehingga budaya Indonesia pun mulai samar keberadaannya. Dengan demikian, anak bangsa sebagai penerus nantinya mulai hanyut untuk menerapkan nilai dan norma dalam kehidupan sehari- hari, misalnya pacaran yang tidak sedikit cara bertegur sapanya dengan cium pipi lawan jenis, dan itu merupakan praktik perzinahan yang sudah menjadi konsumsi sehari- hari baik secara langsung maupun melalui media massa.
Kerusakan akhlak bangsa ini terjadi di semua kalangan. Dari kalangan pelajar tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, dari rakyat jelata sampai pejabat tinggi negara, tidak ketinggalan di kalangan penegak hukum pun sudah terjadi mapia di berbagai bidang. Padahal negeri ini “Indonesia” yang merupakan suatu negara yang di kenal dengan penduduk mayoritas beragama Islam dan kehidupan beragama pun dilindungi oleh Undang Undang. Tempat- tempat ibadah terus berkembang dan dipenuhi pemeluknya untuk melakukan peribadatan. Segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia tentunya tak lepas dari nilai dan norma yang religiusitas.
Untuk mengatasi semua itu tentunya sudah ditetapkan konsep pendidikan berkarakter, walaupun sejauh ini pelaksanaannya belum matang di terapkan di kalangan pelajar. Pendidikan karakter sangat baik untuk membentuk karakter individu di masyarakat. Namun sangat disayangkan, sesungguhnya sedari kecil kita sudah dikenalkan untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam menjalan kehidupan di dunia.
Dalam Hadits Riwayat Aisyah R.A disebutkan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-qur’an. Jadi apa yang dipraktikkan Rasulullah sehari- hari merupakan ajaran Al qur’an itu sendiri dan mencirikan makna sejati Islam yang cinta damai. Dan di dalam Al qur’an juga disebutkan dalam surah Al Ahzab : 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Keluhuran akhlak dan budi pekerti Rasulullah tidak hanya diakui oleh orang yang hidup di zaman beliau, sampai saat ini pun banyak yang memuji keluhuran akhlak beliau. Dengan demikian, sebenarnya kita adalah termasuk orang- orang merugi. Hanya dengan meneladani akhlak Rasulullah dengan baik maka kita tak perlu bersusah payah menemukan racikan baru untuk memperbaiki akhlak.
Menurut Imam As Sauqi “Sesungguhnya bangsa itu tergantung pada akhlaknya, bila rusak akhlaknya, maka rusaklah bangsa itu”. Nah, semua itu kita mulai dari diri sendiri “ibda’ binafsi” kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?. Di jelaskan juga dalam QS Ar Ra’d ayat 11 “…sesungguhnya allah tidak akan mengubah keaadan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri…”. Semoga Allah memberikan bangsa kita menuju yang lebih baik yaitu Baldatun thoyyibatun warabbun Ghaffur. (Berbagai sumber)
Editor: Nazlah Khairina


