Oleh : Dhanu Nugroho Susanto*
Mendengar kata pahlawan identik dengan perjuangan, peperangan dan tumpah darah. Semangat juang yang tiada henti hingga pengorbanan yang tak mengenal lelah melawan penjajah, seakan jadi kalimat yang melekat pada sosok pahlawan. Namun, apakah semua pahlawan harus berdarah dan mengorbankan nyawa? Tentu saja tidak.
Setiap memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, semua insan di negeri ini berbondong-bondong mengibarkan bendera semangat perjuangan. Semua berdiri tegak memandang merah putih yang berkibar di ujung tiang tertinggi. Nyanyian Indonesia Raya berkumandang menyulut semangat perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Terkadang kita lupa bahwa pahlawan sejatinya tidak hanya berperang melawan penjajah, akan tetapi juga berperang melawan kejamnya dunia.
Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang selalu ada di sisi kita. Pahlawan yang selalu mengingatkan kita. Pahlawan yang selalu menyinari kita dari gelapnya dunia. Sosok teladan hidup yang menginspirasi, memotivasi serta menjadi mentor penerang lika-liku hidup ini. Apakah semua orang masih ingat dengan guru kita? Pernahkah kita menyebut namanya? Pernahkah kita mengagungkan namanya?
Mereka selalu tersisih dari ingar-bingar perjuangan bangsa. Padahal, merekalah insan-insan pencetak generasi emas untuk negeri kita. Jika kita buka kembali memori ingatan kita yang buta akan pena, yang buta akan ilmu, yang buta akan pengalaman, merekalah yang selalu ada di sisi kita. Membimbing dengan penuh cinta, membimbing dengan penuh semangat. Agar kita terbebas dari gelapnya dunia.
Guru tak pernah meminta kita untuk membalas budinya, tak pernah meminta untuk terus diingat namanya, tak pernah diminta membalas jasanya. Hanya satu pinta mereka, jadilah yang terbaik di antara orang-orang yang terbaik. Mereka bangga jika kita menjadi orang sukses, mereka bangga jika kita menjadi orang pintar, mereka bangga jika kita menjadi seorang pemimpin dunia. Namun ketika itu terjadi, di manakah nama guru-guru kita?
Majunya sebuah bangsa karena kualitas guru dalam mencetak generasi emas. Hancurnya sebuah Negara juga karena hancurnya kualitas seorang guru. Mereka kadang menjadi kambing hitam dari gagalnya sebuah pendidikan. Namun, pernahkah kita memuji seorang guru ketika sebuah pendidikan maju dan berprestasi?
Mereka hanya melihat dari kejauhan. Mereka memantau perkembangan kita mulai dari tak tahu apa-apa hingga menjadi seorang yang luar biasa. Kita sering mengucap dan mendengar istilah, ‘from Zero to Hero.’ Itu semua terjadi karena peran seorang guru yang selalu ada di samping kita. Masihkah kita melupakan seorang guru?
Mungkin dulu mereka kejam kepada kita, marah kepada kita, memukul kita. Namun, mereka tidak pernah mempunyai rasa benci kepada kita. Ingat momen itu kawan, momen di mana kita harus mengingat jasa seorang guru kepada kita. Seorang pahlawan perjuangan yang memperjuangkan nasib pendidikan di negeri ini, nasib kemajuan di negeri ini.
Mungkin fakta-fakta yang telah dipaparkan, belum semua yang terungkap. Masih banyak lagi fakta tentang guru, yang mungkin kalian temukan dalam realita pendidikan. Sentuhan tangan dingin mereka menjadi sebuah pemantik yang terus merangsang daya pengetahuan yang kita miliki.
Kita tak akan pernah bisa menjadi sehebat sekarang jika kita tidak memiliki guru sehebat mereka. Teladan pertama dalam dunia pendidikan. Ayo kawan, ini saatnya temukan magic momen dalam diri kita dan sama-sama melanjutkan perjuangan pahlawan tanpa tanda jasa.
*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sumatera Utara.
Editor : Ahmad Sabili

