Islam Mengajarkan Indahnya Toleransi

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Google
Foto : www.dibalikislam.com

Sejumlah kelompok intoleran yang melakukan aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama semakin meresahkan masyarakat. Di satu sisi, kelompok intoleran ingin mencegah kemungkaran (berdasar versi mereka). Namun, sayangnya mereka justru melakukan aksi kekerasan. Bahkan, aparat pun harus turun tangan demi menjaga keamanan. Keamanan dan kenyamanan pun tercederai oleh sikap intoleransi yang semakin menjadi-jadi. Padahal, intoleransi merupakan komponen yang sangat berdaya dalam merongrong persatuan di tengah kemajemukan Indonesia.

Islam merupakan agama yang menjamin rasa aman. Bahkan, Rasulullah Saw. bersabda, “’Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapa wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Yang tidak memberi rasa aman tetangganya dari gangguannya”. (HR. Bukhari).

Seyogianya, value toleransi-lah yang dipegang kuat oleh muslim sehingga tercipta keamanan. Perlu diwaspadai, intoleransi yang menjangkiti Ormas (organisasi masyarakat) Islam dapat merusak citra Islam yang damai dan harmonis. Sebab sangat bisa jadi, intoleransi merupakan bagian dari strategi proxy war (perang proksi). Apabila intoleransi sudah semakin kronis, maka persatuan dan kesatuan pun rapuh. Dengan begitu, penjajahan modern pun dapat dilakukan. Dan ini merupakan bahaya besar bagi negara.

Dalam iklim intoleransi yang semakin pekat, Indonesia mendapat ancaman perang proksi dari berbagai sudut. Bahkan sejak Indonesia merdeka, ancaman perang proksi tanpa senjata berbiaya murah merupakan ancamam halus yang sepintas tak tampak. Oleh karena itu, Soekarno sebagai Bapak Bangsa mewaspadai  gelagat ancaman perang yang bakal merongrong meski Indonesia telah merdeka dengan menghidupkan toleransi dan keharmonisan. Indonesia, negeri yang berada di lintasan garis khatulistiwa ini memang menggiurkan bagi negara bermental penjajah.

Ancaman serangan proksi yang mengusung paham intoleransi harus diwaspadai dengan sungguh-sungguh. Terlebih, intoleransi yang banyak digaungkan justru memberikan pemahaman yang tidak fair mengenai cara Islam. Kelompok intoleran bahkan menanamkan pemahaman bahwa jihad dan beramar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan tangan (mengandalkan kekuatan fisik). Kelompok intoleran juga menutupi pemahaman, bahwa bermuamalah dengan orang lain harus dilakukan dengan cara yang lemah-lembut.

Intoleransi sebagai bagian ‘proxy war’ harus dilawan dengan ketegaran sikap toleransi dalam menyikapi berbagai perbedaan.

Dalam menyebar paham intoleransi, kelompok tertentu menampilkan wajah Islam yang pro terhadap kekerasan. Padahal, Rasulullah menyampaikan dakwah dengan lemah lembut. Beliau pun menganjurkan pada umatnya untuk berdakwah dengan cara yang ma’ruf. Dalam berdakwah, Rasulullah juga mengedepankan sikap memaafkan dan toleransi. Toleransi ialah sikap mengayomi orang-orang yang berbeda keyakinan dan pandangan tanpa menebar permusuhan.

Ajaran luhur Islam berkaitan dengan konsep jihad di masa kini yang telah terdistorsi secara total. Jihad pada dasarnya adalah upaya memperbaiki amal saleh dan berjuang melawan godaan setan. Jihad yang dilakukan sepanjang umur demikian merupakan jihad paling akbar. Bentuk jihad yang lebih kecil adalah berperang dalam rangka membela diri terhadap mereka yang berupaya memusnahkan kaum mukminin dan memupus agama dari muka bumi. Bahkan dalam keadaan demikian itu pun Islam telah memberikan ajaran yang damai dan berperikemanusiaan.

Islam adalah agama kedamaian. Sehingga mempertautkan agama ini dengan laku pertumpahan darah, terorisme, bom bunuh diri atau tindak kekerasan lainnya adalah suatu hal yang salah dan keliru sama sekali. Islam membawa pesan damai bagi seluruh umat manusia. Panji-panji Islam yang ditegakkan tinggi adalah panji kedamaian. Dengan mengikuti ajaran Islam maka seluruh umat manusia bisa menikmati kedamaian. Semoga Allah memberkati alam yang indah ini dengan kedamaian abadi bagi seluruh umat manusia. Amin.

Penulis          : Dhanu Nugroho Susanto

Editor             : Nurtiandriyani S

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles