Kerudung Biru

- Advertisement - Pfrasa_F

Oleh: Rahmi Irada Lubis

Langit malam berwarna kelabu terbentang luas, terlintas angan yang selalu menemani lamunan Heni kala itu. Yah.. Heni selalu berangan-angan untuk membelikan kerudung baru untuk ibunya. Sebenarnya tabungan yang telah ia kumpulkan beberapa bulan terakhir ini telah cukup untuk membeli kerudung itu, tapi sayang ia harus mengurungkan niatnya. Meskipun ia sangat ingin tapi ia harus menundanya. Uang itu besok akan ia serahkan untuk membayar buku pelajaran di sekolah.
Heni melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas yang telah penuh sebagian. Beberapa di antaranya menyapa Heni dengan ramah. Heni meletakkan tasnya di atas meja dengan lesu. Tidak seperti biasanya Heni seperti itu, membuat Lina, teman dekatnya, bertanya-tanya.
“Ada apa Hen?” tanya Lina.
“Nggak apa-apa Lin.” Heni tersenyum.
“Kelihatannya kamu lagi murung Hen, ada masalah yah? Cerita dong!” bujuk Lina. Heni diam sejenak, dan menghela nafas panjang.
“Sebenarnya aku ingin membelikan kerudung baru buat ibuku, Lin, tapi sayang uang tabunganku tidak akan cukup karena aku harus segera melunasi cicilan buku hari ini.” Heni menjelaskan.
“Pakai saja uangku dulu Hen…,” kata Lina sambil tersenyum.
“Makasih Lin, tapi aku ingin membelinya dengan uangku sendiri,” jawab Heni.
Lina sedikit kecewa karena tawarannya ditolak oleh Heni, namun Lina merasa bangga memiliki teman seperti Heni yang sangat menyayangi ibunya dan pekerja keras. Setiap pagi Heni menitipkan gorengan dan kue yang ia buat di kantin sekolah. Bukan hanya itu, Heni juga membuat keripik singkong yang ia bawa ke dalam kelas untuk ia jual pada teman-teman sekelasnya. Ia tak pernah merasa malu melakukan itu semua walaupun terkadang ada temannya yang mengolok-oloknya. Tak jarang Heni merasa sedih karena olokan teman-temannya itu, untungnya Heni mempunyai sahabat seperti Lina yang selalu mendukungnya sehingga Heni kembali percaya diri.
Sebenarnya Lina sangat ingin membantu mewujudkan keinginan Heni untuk membelikan kerudung baru buat Ibu Heni. Lina tahu akhir-akhir ini Heni benar-benar berhemat, menyisihkan sebagian besar uang saku dan keuntungan dagangannya.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Lina berpikir keras mencari cara untuk membantu sahabatnya. Ia tahu, Heni takkan mau menerima bantuannya yang berupa uang secara cuma-cuma. Sesampainya di rumah Lina langsung menghampiri ibunya yang sedang menerima panggilan telepon untuk menceritakan keinginannya membantu Heni. Setelah menutup gagang telepon, Lina mendekat pada ibunya dan menceritakan semua.
“Kebetulan, besok ibu dan anggota arisan lainnya akan membuat acara untuk anak yatim. Bagaimana kalau ibu pesan kuenya pada Heni saja untuk seratus anak yatim, apakah Heni bisa?” kata Bu Ana, ibunya Lina. Lina tersenyum mendengar solusi yang ditawarkan ibunya dan ia pun langsung mengangguk tanda setuju.
Keesokan harinya Lina memberi tahukan pada Heni tentang pesanan kue dari ibunya. Heni merasa senang dan sangat bersemangat, begitu juga Lina. Heni dibantu oleh Lina menyelesaikan pesanan kue itu, Lina sama sekali tidak merasa keberatan membantu sahabatnya justru ia merasa sangat senang. Ini adalah pesanan kue terbanyak yang pernah Heni terima. Biasanya ia hanya membuat kue untuk dititipkan di kantin sekolah. Meskipun mereka telah lelah seharian tapi senyum dan tawa yang hadir di antara mereka melenyapkan segalanya.
Setelah hampir seharian Heni dan Lina berada di dapur untuk membuat kue, mereka pun langsung bergegas menuju Panti Asuhan yang dimaksud Bu Ana. Heni menenteng sebagian bungkusan kuenya dan sebagian lagi dibawa oleh Lina. Bungkusan kue itu tidak terlalu berat, namun jalanan yang mereka tempuh cukup jauh untuk menuju jalan raya dan menunggu angkutan umum yang mengantarkan mereka ketujuan. Jalanan hari itu ramai, pengendara sepeda motor lalu-lalang di samping mereka.
Tiba-tiba, Lina yang berada di belakang Heni berteriak disertai suara rem sepeda motor yang melejit.
“Ahhhhhh!!!” Suara Lina terdengar jelas. Heni berbalik menolehkan wajahnya dan melihat Lina telah tersungkur di pinggir jalan dengan bungkusan kue yang isinya telah berhamburan di sisinya. Sementara pengendara yang telah menyerempet Lina berlalu begitu saja tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Kamu nggak apa-apa Lin?” Heni yang cemas mencoba membantu Lina untuk berdiri.
“Nggak Hen, tapi kuenya.. bagaimana ini? Karena aku semua jadi berantakan Hen.” Lina menitikkan air mata karena merasa bersalah serta menahan sakit dilututnya yang terluka.
“Sudahlah Lin, tidak usah dipikirkan, yang terpenting kamu baik-baik saja.” Heni menenangkan, meskipun ia sendiri merasa sedih atas kejadian yang baru saja mereka alami.
“Tapi Hen.. sekarang kita harus bagaimana?” tanya Lina dengan raut wajah bersalah.
“Kita antar saja kue yang ada Lin, dan meminta maaf kepada ibumu atas kejadian ini” kata Heni.
Keduanya pun melanjutkan langkahnya;meskipun Lina sedikit pincang. Sesampainya di tempat tujuan Heni dan Lina segera menemui Bu Ana dan menyampaikan permohonan maaf mereka. Bu Ana terkejut karena kejadian itu menimpa pada anaknya, meskipun sedikit kecewa tetapi Bu Ana memaklumi semuanya. Bu Ana tetap merasa senang melihat kesungguhan dan kebaikan anaknya yang mau bersusah payah membantu temannya.
Setelah acara selesai Bu Ana menghampiri Heni dan Lina yang tengah asik berbincang dengan anak-anak yatim. Ternyata Bu Ana hendak berterima kasih kepada keduanya yang telah turut dalam acara tersebut dan tak lupa Bu Ana membayar kue yang telah dibuat oleh keduanya, meskipun kue yang mereka bawa hanya sebagian tetapi Bu Ana membayarnya penuh. Awalnya Heni enggan, ia merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi kue yang seharusnya telah dipesan itu. Namun Bu Ana mengatakan itu adalah haknya dengan alasan semua terjadi karena ketidak hati-hatian putrinya.
Heni kini benar-benar merasa senang, dengan hasil pesanan itu akhirnya ia dapat membeli sebuah kerudung berwarna biru untuk ibunya. Kerudung biru itu terlihat sangat sejuk terlebih lagi setelah dipakai ibunya dan kerudung  biru itu adalah tanda cintanya yang teramat dalam. Beberapa hari kemudian, Lina menghampiri Heni dengan senyum yang mengiringinya. Tampaknya ia membawa sesuatu dibalik punggungnya, ia membawa sebuah bungkusan yang ia berikan pada Heni. Heni membuka bungkusan itu yang ternyata berisikan sebuah kerudung biru yang sama sejuknya dengan milik ibunya. “Ini tanda cinta untuk sahabat terbaikku.” Lina kembali tersenyum.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles