Membumikan Al-quran dalam Kehidupan

- Advertisement - Pfrasa_F

a;quran

Oleh : Gigih Suroso

‘Sebaik-baik teman di waktu duduk adalah buku’. Tampaknya benarlah pribahasa ini sebagai sebuah wujud betapa pentingnya buku dalam kehidupan seseorang sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun akan bertambah nilai pengetahuan tersebut menjadi nilai ibadah jika buku diubah menjadi Al-quran, menjadi ‘Sebaik-baik teman di waktu duduk adalah Al-quran’. Hal ini karena Al-quran adalah lebih dari sebuah buku yang memuat jutaan ilmu pengetahuan yang tidak akan habis untuk dipelajari, apa yang dibutuhkan oleh umat terdahulu, sekarang dan yang akan datang semuanya termaktub dalam Al-quran. Lewat peringatan Nuzulul quran sebagai hari turunnya wahyu Al-quran kepada Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam mengingatkan manusia kembali prihal menjadikan Al-quran sebagai pedoman hidup yang aman, dunia dan akhirat.

Di Indonesia dengan jumlah penduduk muslim yang dominan, acapkali selalu memperingati peristiwa turunya Al-quran dengan beberapa rangkaian kegiatan acara, hal ini tentulah baik, sebagai bukti bahwa betapa muliannya Al-quran sebagai kitab suci Islam. Lebih dari itu, sejatinya peristiwa turunnya Al-quran diperingati dengan cermat dan hikmat, ada pesan tersirat yang harus di dapatkan oleh umat, yaitu menanamkan nilai-nilai Al-quran dalam segala aspek kehidupan. Pasalnya, dengan senantiasa berpegang pada Al-quran seseorang dapat mendapatkan petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Sebagaimana termaktub dalam Al-quran surah Al-Baqarah ayat : 2 “Kitab (Al-quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

Bukti dari pada Al-quran sebagai pedoman hidup yang tidak hanya membawa pemegangnya mendapatkan kebahagiaan di akhirat, tetapi juga akan menjadi petunjuk kehidupan termaktub jelas dalam Al-quran, yaitu pada surah Al-Alaq ayat : 1-2, yang juga merupakan ayat Al-quran yang pertama kali diturunkan Allah melalui perantara malaikat jibril kepada Rasulullah. “Bacalah dengan menyebut nama Rabb-Mu yang Maha pencipta”. Penulis tertarik pada ayat ini, dimana untuk pertama kali Allah memerintahkan hambanya untuk membaca.

Kata Iqro’ dalam surah Al-Alaq oleh para ahli tafsir diartikan bacalah!, tetapi apakah yang harus dibaca? Dalam satu riwayat, Rasulullah mengalami kepayahan saat Jibril menyuruh Rasulullah untuk membaca, dan Rasulullah bertanya: Maa Aqro’ ya Jibril? Namun Jibril tidak menjawab, hal ini karena Allah menghendaki hambanya agar senantiasa membaca apa saja yang menghasilkan manfaat bagi kemaslahatan. Dapatlah disimpulkan bahwa, satu ayat Al-quran memiliki banyak hikmah dan pelajaran yang bisa di aplikasikan dalam menjalani roda kehidupan. Satu perintah Allah untuk hambanya agar banyak membaca, baik itu buku, situasi, suasana, fikiran dan peluang. Umat ini akan tertinggal dan tersingkirkan oleh peradaban jika terus malas membaca untuk melawan kebodohan. Masih banyak lagi pelajaran dalam Al-quran yang tidak bisa penulis maktubkan.

Lebih lanjut, menyikapi datangnya bulan Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan, setiap amal ibadah dilipat gandakan balasannya, tentunya menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk memperbanyak ibadah. Bertepatan pada malam Nuzulul quran yang tepat berada di suasana Ramadhan harusnya membawa pengaruh besar bagi umat Islam untuk lebih semangat untuk membaca Al-quran. Lebih dari itu, harapannya Al-quran tidak sekedar dibaca merdu namun juga nilai-nilai Al-quran itu sendiri dapat membumi dalam hati dan dalam kehidupan setiap insan.

Dewasa ini, Al-quran hanya dijadikan pajangan dalam lemari hias, sebagai bukti keislaman, tidak pernah disentuh, jangankan untuk memahaminya, menyentuhnya pun tidak pernah. Akibatnya tatanan kehidupan manusia semakin jauh dari nila-nilai Al-quran, berakibat pada hancurnya peradaban Islam. Rasa malu hilang, kejahatan menjadi sebuah kebiasaan. Setiap prilaku buruk sudah mulai dimaklumi, padahal dalam Al-quran jelas keharamannya. Dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia Allah telah ajarkan melalui Al-quran, dan tentunya pelajaran ini tidak akan sampai jika tidak pernah membuka, membaca dan memahaminya.

Nilai moral mulai hilang bersamaan dengan pesatnya kemajuan zaman lewat teknologi dan kemajuan, rayuan untuk kufur dan kafir semakin deras mengalir, baik melalui media maupun manusia. Untuk membentenginya, manusia hanya butuh Al-quran sebagai pedoman. Rasulullah meninggalkan dua wasiat sebelum beliau meninggal. “Aku tinggalkan dua perkara, kamu tidak akan sesat selama kamu berpegangan dengan kedua-duanya, yaitu kitabullah (Al-quran) dan Sunnahku” .

Dan akhirnya, kembali menegaskan, bahwa peringatatan Nuzulul quran dan bulan Ramadhan harus di isi dengan latihan untuk menanamkan nila-nilai Al-quran, kembali berpedoman pada Al-quran, sebagai mana negara kita memiliki UUD dan Pancasila, maka Islam memiliki Al-quran sebagai salah satu sumber hukum. Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan dan peringatan Nuzulul quran, semangat umat Islam kembali lagi sebagai umat yang dalam dirinya telah di bumikan Al-quran, sehingga segala aspek selalu berkiblat pada Al-quran, bemuamalah dengan cara Al-quran, beribadah dengan cara Al-quran dan menjalani hidup dengan cara Al-quran. Jika kita telah membumikan Al-quran serta memahami isinya maka tidak ada lagi kesengsaraan melainkan sebuah kedamaian dunia dan akhirat.

 

Editor: Nazlah Khairina

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles