Teman Dekat Penolong di Akhirat

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: www.google.com

Penulis: Saiful Hadi Pulungan

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jauh kebelakang, mungkin sebaagian dari kita pernah mengetahui kisah Uqbah bin Mu’ith, seorang pemuda yang lebih memilih Abu Jahal sebagai sahabat yang hanya menguntungkan kedudukan dan dunianya pada saat itu, daripada menerima kebenaran dari Allah dan RasulNya. Tak imbang rasanya jikalau kita tak mengetahui kisah sebaliknya.

Adalah seorang sahabat Rasulullah Saw bernama Iyash bin Abu Rabiah ra. Semula Iyash adalah orang yang masuk Islam dan belum kuat imannya. Menjelang hijrah, Iyash menjalin persahabatan dengan sayyidina Umar bin Khattab ra. Ketika di Madinah persahabatan mereka semakin erat.

Selang beberapa waktu, datanglah utusan dari Makkah mencari Iyash. Dikatakan kepadanya, “Ibumu akan meninggal dunia. Ia telah bersumpah tidak akan tinggal di dalam rumah dan tidak akan mandi. Ia akan terus berdiri di bawah terik matahari dan tidak akan mandi sampai engkau kembali padanya”.

Mendengar berita tersebut Iyash terkejut. Hatinya luluh dan ingin kembali kepada ibunya. Akan tetapi Umar mengerti bahwa itu hanya tipu muslihat orang-orang kafir Quraisy. Maka Umar meneguhkan Iyash. Sampai sini dulu, coba kita perhatikan, betapa pentingnya sahabat yang dapat meneguhkan pendirian kita. Umar berkata, “Wahai Iyash, jika hari ini ibumu ada di bawah terik matahari, kalau lelah pasti ia akan mencari nangungan, kalau hari ini ibumu tidak mandi, pasti ia akan mandi dikerubuti kutu”.

Tapi Iyash terbawa perasaan dan percaya pada hasutan utusan tersebut. “Aku harus kembali,” kata Iyash. Umar terus merajuk, “Wahai Iyash, jika engkau kembali, engkau akan berpaling dari kami.”

Coba perhatikan lagi, betapa butuhnya kita dengan sahabat seperti Umar yang senantiasa mengingatkan. Kita butuh sahabat yang mau berkata: “Jangan lakukan itu,” “Sebaiknya dihindari karena perkara tersebut syubhat,” “Jangan ke sana, karena tidak ada kebaikan dan banyak mudhrat-nya”. Allah Swt senantiasa memperhatikan! Carilah sahabat-sahabat seperti ini.

Iyash tetap kukuh, ketika Umar merasa nasehatnya belum mempan diterima, Umar tetap menunjukkan kesejatian persahabatannya. Singkat cerita, Iyash masuk ke dalam perangkap kaum kafir. Di Makkah ia disiksa. Nyaris saja penyiksaan itu membuatnya berpaling dari Islam dan kembali pada agama lamanya. Kalau tak karena melihat unta Umar yang membuatnya terkenang dengan sahabat imannya tersebut.

Ia selamat dari kekufuran dan tetap berpegang pada Islam, berkat kecintaannya pada sahabatnya Umar Bin Khattab. Seperti firman Allah, yang untuk mengukuhkan persaudaraan keimanan: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat di atas, dihantarkan dengan perintah bersabar. Artinya, terkadang pertemanan Islami, menuntut dari kita dengan satu pengorbanan, keletihan di medan juang, kadang juga ada riak kesalahpahaman. Tetapi apapun keadaannya Allah Swt memberikan kepastian berkahnya persahabatan tersebut. Bagaimana tidak, persahabatan itu diisi dengan ketaatan, zikir, salat berjamaah dan mengarahkan tujuan hanya untuk mencari keridaan Allah Swt semata. Maka bersabarlah untuk memupuk persahabatan dengan mereka.

Jangan berpisah dengan mereka hanya karena alasan mereka tak prospek secara dunia ataupun tak bisa dijadikan relasi bisnis. Karena kalau kita meninggalkan mereka, hampir dipastikan anda ditunggu dan dicari golongan sebaliknya, persabahatan hawa nafsu.

Karenanya sahabat itu ada 3 macam bentuknya. Pertama, sahabat yang suka maksiat dan jauh dari agama dan akhlak mulia. Kedua, sahabat yang baik tapi lalai. Ketiga, sahabat yang taat. Maka sekarang tergantung kita, apakah kita ingin menjadi yang pertama, kedua ataupun ketiga. Semua tergantung pada diri dan hati. Ingatlah oleh kita doa nabi Musa as,

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan Dia kekuatanku, dan jadikankanlah, Dia sekutu dalam urusanku, supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami”. (QS. Thaha: 25-35)

Persahabatan cinta kepada Allah Swt, maka bersyukurlah. Boleh jadi, Allah Swt memang sedang merencanakan untuk memberi banyak kebaikan pada kita. Tetaplah bersama mereka. Jagalah kebersamaan dengan mereka. Saling mengunjungi, ucapkan salam, jabat tangan setiap berjumpa, berilah hadiah dan berdoalah untuk kebaikannya. Mudah-mudahan persahabatan itu kekal hingga ke surgaNya. Amin, ya robbal alamiin

Editor: Siti Arifah Syam

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles