
Penulis: Rofitrah Fadli Sihombing
“Aku tidak akan kuliah lagi. Aku benar-benar tidak mampu. Sungguh. Mendapatkan beasiswa sangat sulit, di awal saja sudah mengeluarkan uang yang banyak tanpa diketahui arah kegunaannya ke mana.”
Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /4/
Hamzah masih mengingat baik perkataan Ali. Perkataan yang diucapkan dengan nada tegas seakan-akan keputusannya adalah yang paling mutlak di muka bumi.
Saat perjumpaan Hamzah dan Ali–walau tak ada pembicaraan di sana–yang tidak disengaja itu terjadi, Hamzah memutuskan untuk tetap ke rumah teman baiknya itu. Namun sebelum itu, Hamzah menelepon Ali terlebih dahulu yang entah nasib baik jenis apa yang didapatkan Hamzah saat itu, Ali mengangkat teleponnya.
“Kita harus ketemu di rumah lo. Mau sampai jam berapa pun lo kembali ke rumah, gue bakal tetap nunggu, dan gue gak bakal pulang, sebelum lo ngelihat wajah gue di depan rumah lo!” tegas Hamzah kala itu dan langsung mematikan gawainya.
Benar saja, Hamzah menunggu sampai malam hari tiba, sampai tiba Ali dengan wajah letihnya membuat Hamzah merasa sedikit iba. Berbagai pembicaraan dan nasihat telah dilalui kala itu. Bukan Hamzah tak mau membantu Ali dan keluarganya dalam hal uang, tetapi Ali dengan tegas menolak.
“Masih banyak orang yang lebih butuh bantuanmu daripada aku.”
Hamzah tersenyum mengingat itu. Ali adalah orang yang paling baik yang pernah ia temui. Terbayang akan hal itu, Hamzah kembali teringat berbagai kebaikan Ali. Saat hari pertama ospek, Ali sempat membelikan nasi kepada temannya yang terlihat kelaparan, padahal saat itu, uangnya hanya pas-pasan untuk naik angkot. Ali berniat untuk berjalan, tapi untung saja Hamzah cepat menyadari dan menawari Ali tumpangan ikut ke rumahnya.
Hari yang sama, Ali juga membantu seorang kating perempuan untuk membawakan barang-barang yang berat. Hamzah mengejek Ali saat itu, menertawakannya yang terlihat seperti PDKT. Namun, jawaban Ali cukup mengagetkan Hamzah. “Niatku baik untuk membantu, jangan disalahartikan sehingga jadi dosa untukmu.”
Namun, satu yang diketahui Hamzah, Ali keras kepala! Ia benar-benar pusing memikirkan hal itu.
Dua minggu telah berlalu setelah perjumpaannya dengan Ali. Hamzah tidak mendapati telepon dari Ali, bahkan saat dia menelepon temannya itu, Ali bahkan tidak mengangkat sama sekali.
Saat didatangi di rumah, Ali dan bundanya tidak pernah ada. Sampailah kemarin, ketika Hamzah mendatangi rumah Ali kembali, tetangga Ali bilang bahwa mereka sudah pindah dan tidak diketahui alamatnya.
Ia menyesalkan hal itu. Pertemuannya dengan Ali sangat singkat. Hanya sebatas ospek, lalu sudah hilang kontak dan tidak pernah bertemu. Hamzah menyadari bahwa Ali adalah teman terbaik yang pernah ia miliki.
“Aku bersumpah, aku gak ikhlas atas apa pun yang dipungut mereka secara paksa.”
Mengingat perkataan Ali, Hamzah tiba-tiba merasa geram. Benar, panitia ospek sampai saat ini tidak memberikan benefit yang telah dijanjikan bagi yang sudah bayar.
Lebih parahnya, ketika ia melihat panitia opsek yang kadang tak sengaja ia temui malah tertawa bahagia tanpa merasa bersalah. Saat Hamzah menanyakan benefit terkait, semua panitia malah berkata dengan enteng, “Iya, nanti, masih proses.” Ingin sekali Hamzah menonjok muka yang merasa tak berdosa itu.
Apakah mereka tidak sadar bahwa akibat ulah mereka seseorang kehilangan mimpinya? Karena ulah mereka, seseorang menderita hidupnya? Karena ulah mereka, dunia perkuliahan dianggap buruk? Apakah itu hal yang kecil bagi mereka, ketika seseorang tidak lagi dapat mengejar mimpinya?
Hamzah menyangka bahwa pasti bukan hanya Ali salah satu korban yang tertindas. Ali hanya salah satunya. Ia tak tahu, apakah masih banyak Ali-Ali yang lainnya? Hamzah mengurut kepalanya yang mulai pusing.
“Ali, jika kau bersumpah tidak akan ikhlas dengan perbuatan mereka, maka aku juga bersumpah bahwa hanya kau yang menjadi korban. Tahun ini telah terjadi, tahun depan aku pastikan sudah tidak ada.” Hamzah menyoraki dirinya sendiri, terbawa arus emosi yang kini sudah tidak bisa dipendam.
“Kampus kita harus bebas dari pungli!”
Selesai
Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /3
Editor : Syahda Khairunnisa

