Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /3/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Dina Febriyanti)

Penulis: Rofitrah Fadli Sihombing

Usai bertengkar sedikit lama, akhirnya Ali mengalah untuk membawa Hamzah ke rumahnya. Keduanya pergi menggunakan mobil milik Hamzah yang diantar oleh sopir pribadinya. Ali sungguh heran, seberapa kayanya Hamzah sebenarnya, sampai-sampai membawa mobil pribadi beserta sopir ke kampus. Berbeda sekali dengan dirinya, naik angkot saja harus berpikir terlebih dahulu.

Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /1

“Assalamualaikum, Bunda,” ucap Ali.

Di sinilah mereka sekarang, sebuah rumah yang mirip dengan gubuk. Rumah ini menggunakan daun nipah sebagai atapnya, dan beberapa papan sebagai dinding. Hamzah memperhatikan rumah itu. Di sampingnya, terdapat barang-barang rongsokan yang bertumpuk.

“Waalaikumussalam, eh, kamu bawa teman, ayo, masuk,” ujar Fatma tersenyum usai membuka pintu lalu membalas salam dari keduanya.

Hamzah duduk di teras yang di atasnya berlapiskan tikar, sementara ia melihat Ali mengajak Bundanya pergi ke belakang. Entah apa yang dibicarakan, tapi tak lama kemudian Ali dan Bundanya menghidangkan makan siang. Kemudian mereka makan bersama.

Dalam makan siang itu, pembicaraan banyak terjadi, ini dari Fatma yang banyak bertanya mengenai Hamzah. Mulai dari tempat tinggal, orang tua, sekolah, dan sebagainya. Ali baru tahu, bahwa Hamzah anak dari pemilik perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia.

Selepas makan, Hamzah pergi keluar dari rumah Ali untuk melihat-lihat kondisi di luar, sementara Ali berada di dapur bersama Fatma.

“Bunda …” tutur Ali dengan sedikit wajah keraguan.

“Kenapa?” tanya Fatma sembari mencuci piring.

“….”

“Kenapa Ali?” tanya Fatma kembali memastikan. Kini Fatma menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Ali dengan intens.

“Tidak apa-apa, Bund, biar Ali saja yang cuci piringnya, ya,” pintanya.

“Tidak usah, Ali sama teman Ali saja, nanti dia bosan di rumah,” Fatma kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Bund …” lirih Ali merunduk.

Fatma kembali menghentikan aktivitasnya. “Ali, tidak apa-apa? Jujur saja. Bunda tidak bakal marah, kok, kalau Ali menyampaikan apa pun yang ada di benak Ali,” Fatma melangkah ke posisi Ali, usai mengeringkan tangannya.

“Bund, tadi di kampus, kami disuruh bawa beberapa barang yang harus dibeli, terus ada meterai juga,” sampai Ali tetap dengan wajah yang merunduk, tidak berani menatap mata sang Bunda.

“Untuk apa?” tanya Fatma keheranan.

“Untuk kepentingan peserta ospek, Bund,” jawab Ali.

“Bukannya meterai digunakan untuk suatu hal yang resmi, ya?” Fatma sebenarnya curiga dengan ketentuan ini, sejak kapan meterai digunakan untuk hal-hal sembarangan.

“Tidak tahu, Bund. Kalau Bunda tidak ada uang, tidak apa-apa, kok,” ujar Ali sedikit sedih.

“Jangan Ali, nanti kamu tidak dapat sertifikat, dan tidak lulus juga. Sayang, kuliahnya, Nak,” Fatma tersenyum untuk menandakan bahwa ia baik-baik saja dengan itu. Ia juga menenangkan Ali, mengusap rambut Ali dengan lembut.

“Bunda dapat uang dari mana?” tanya Ali memegang tangan Fatma.

“Nanti Bunda pinjam uang dari Buk Sri saja.”

Air mata Ali tak terbendung lagi, ia memeluk Fatma, ia juga berjanji bahwa ia akan kuliah dengan baik dan menjadi orang sukses agar ibunya bangga terhadapnya. Ali sebenarnya tidak ingin kuliah, karena ingin membantu ibunya bekerja sebagai tukang butut. Akan tetapi, akibat paksaan dari Fatma, ia akhirnya ingin berkuliah. Orang yang terhormat lahir dari perkuliahan, hal ini juga menjadi motivasi Ali untuk berkuliah.

Tanpa sadar, sedari tadi aksi anak dan ibu itu disaksikan oleh sepasang mata.

Esok paginya, ospek kembali diadakan. Ali dengan perlengkapan ospeknya masuk ke barisan. Ali tak bersama Hamzah, karena Hamzah tidak bisa ikut hadir. Katanya, ia sedang sakit, jadi Ali sendiri di barisan. Nada-nada tinggi kembali terdengar. Perintah-perintah yang menjengkelkan membuat Ali sedikit bingung, apa sebenarnya makna yang terdapat dalam ospek ini.

Barang-barang yang dipinta kemarin sudah dikumpulkan ke panitia, tapi sampai sekarang Ali tidak tahu apa gunanya. Malahan, para panitia kembali meminta barang-barang yang aneh untuk dibawa esok hari. Tak hanya itu, mereka meminta peserta membawa uang Rp100.000, untuk membayar foto, sertifikat, dan kudapan.

Ali sungguh baru menyadari, bahwa hal ini seharusnya sudah termasuk pungli. Tapi kenapa ini terjadi pada sebuah instansi yang isinya calon orang-orang terhormat sesuai perkiraannya?

Ali ingin melaporkannya, tapi mau ke mana? Ia tidak mengenal orang-orang yang memegang kendali untuk kegiatan ini.

‘Tapi, kalau terjadi seperti ini bukannya pihak rektorat tahu, ya?’

Ali menduga-duga, tapi ia tidak mau berburuk sangka. Dikarenakan saat ini yang menjadi fokusnya adalah, ke mana ia harus mencari uang itu. Bundanya? Bunda Ali sudah memiliki banyak utang. Kemarin saja saat meminjam uang ke Bu Sri, Fatma dihina habis-habisan. Ali menyesal untuk meminta uang kepada Ibunya kalau terjadi seperti itu.

Bersambung…

Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /2/

Editor      : Aqlia Matslina Fattah 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles