
Penulis: Rofitrah Fadli Sihombing
“Bunda, Ali gak mau kuliah lagi!” tegas Ali. Ia membicarakan hal yang terjadi di kampus kepada bundanya. Ia memang sudah berniat untuk tidak melanjutkan kuliahnya.
Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /2/
“Ali, jangan sembarangan!” ucap Fatma menentang dengan lantang.
“Bunda, apa, sih, yang diharapkan dari kuliah? Orang-orangnya pada keji. Katanya berpendidikan tapi malah melakukan perbuatan yang tak seharusnya,” Ali melontarkan pendapatnya dengan wajah yang marah, bukan marah kepada bundanya, tapi terhadap orang-orang yang berada di dunia perkuliahan.
“Kamu belum masuk lebih dalam, Ali,” Fatma memegang pundak anaknya berusaha menenangkannya. Ia sangat menyayangi Ali, apa pun akan dilakukannya untuk kebaikan Ali. Fatma tidak mau Ali menjadi sepertinya, yang hanya sebatas tukang butut dan dipandang rendah oleh masyarakat.
“Bunda tahu apa? Ali yang sudah masuk ke dalam dunia kuliah. Bunda yang gak tahu apa-apa tentang kuliah, karena Bunda gak pernah kuliah!”
PLAK!
Sebuah tangan mendarat di pipi Ali, menciptakan keheningan dan menimbulkan bekas merah di pipinya.
“Kamu keterlaluan, Ali,” lirih Fatma. Ia tak menyangka anaknya akan berucap seperti itu. Apakah didikannya kurang untuk menciptakan kesopanan anaknya?
“Bunda … Ma-maaf,” sesal Ali.
“Kamu harus kuliah, biar Bunda yang cari uang Rp100.000 itu,” putus Fatma tanpa mendengarkan Ali. Ia pergi keluar rumah tak tahu entah ke mana.
“Bunda, jangan memaksakan diri,” Ali menangis melihat ibunya pergi menjauh.
“Bunda.”
***
Ali kembali berjumpa dengan Hamzah. Kali ini Ali lebih banyak diam, ia menjawab pertanyaan Hamzah dengan singkat, tanpa ada semangat di dalamnya. Hamzah dibuat bingung olehnya.
“Kenapa?” tanya Hamzah.
“Gak papa.”
Hamzah mengernyitkan dahi, padahal ia sengaja mengajukan pertanyaan yang menggantung. Tapi Ali langsung menjawab dengan cepat.
“Kamu kenapa, sih?”
“Gak papa”
Hamzah menghela napasnya.
Waktu sore tiba. Ospek ketiga sudah selesai, Ali sangat benci padahal janjinya hari ini akan dapat kudapan dari uang yang telah dikumpulkan, tapi apa? Dari pagi, tak ada makanan yang diberikan, bahkan sebungkus roti pun tak terlihat.
“Ini benar-benar pungli,” yakin Ali.
“Kenapa kamu kaget, ini sudah sering terjadi,” ucap Hamzah yang berdiri di samping Ali tatkala mendengar ucapannya.
Ali menatap Hamzah dengan sinis.
“Mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan, mereka tidak memikirkan bagaimana susahnya orang-orang miskin membayar uang untuk kepentingan pribadi mereka. Aku bersumpah, aku gak ikhlas atas apa pun yang dipungut mereka secara paksa,” air mata Ali menggenang di pelupuk matanya siap jatuh, mengingat perjuangan bundanya yang dihina terus-menerus akibat terlalu sering meminjam uang.
Hamzah terdiam, ia memerhatikan Ali yang kini menjauh dari posisinya menggunakan sepeda yang tampak usang. Hamzah tentu kaget, jarak dari rumah Ali ke kampus bisa mencapai jarak berkilo-kilo meter. Dengan sepeda, bukankah membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih? Hamzah menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sudah satu minggu berlalu, Hamzah tidak pernah bertemu dengan Ali sekalipun. Saat dihubungi melalui telepon, Ali tidak membalasnya bahkan mengangkatnya. Ia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Ali.
Siang ini, Hamzah berniat ke rumah teman baiknya itu hendak menjenguk, entah-entah Ali sakit atau apa pun sehingga dia tidak bisa berhadir kuliah. Namun, belum sampai ke tujuan, dari balik kaca mobil itu, Hamzah melihat seorang anak laki-laki dan seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah Ali dan bundanya.
Sontak saja, Hamzah menyuruh sopir untuk memberhentikan mobilnya. Ia memerhatikan keduanya yang sedang sibuk mengais barang bekas. Baru saja ingin keluar dari mobil, Ali dan Fatma menaiki sebuah becak barang-barang bekas dan pergi melalui jalan raya yang sedang ramai.
“Ali!” teriak Hamzah ketika menurunkan kaca mobilnya, berharap Ali mendengar panggilannya. Namun, sayangnya suaranya itu terbawa angin dan deru kendaraan bermotor sehingga objek panggilannya tidak mendengar panggilan itu.
Hamzah mengembuskan napas, lalu mengeluarkan gawainya dan menekan nomor seseorang di sana.
“Halo?”
Bersambung
Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /3
Editor : Syahda Khairunnisa

