
Penulis: Aisyah Nursashi Putriani
Di era gempuran media digital, banyak kita memberi simpati dengan menyukai postingan, dan hanya membagikan itu sudah termasuk ke dalam peduli sesama. Seperti kabar Palestina yang sekarang lagi marak di sosial media. Mungkin hanya memberi sukai dan komen “Freepalestine” sudah memberi pengaruh besar. Apakah itu bisa dianggap demikian?
Tetapi, tidak bisa dipungkiri, Rasulullah saw., bersabda di hadits, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu selemah-lemahnya.” (H.R.muslim No. 49).
Baca Juga: Addin 474: Generasi Muda Tanpa Arah? Solusi Islam bagi Generasi Muda yang bingung
Di era digital, “lisan” itu bisa berupa kata-kata dan informasi yang disebarkan. Bahkan Rasulullah saw. bersabda: “Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah” (H.R.Thirmidzi No.1956)
Jika senyum saja sudah dianggap sedekah atau bernilai pahala, apalagi membagikan postingan dengan hanya menyukai ataupun hanya membagikan ¬¬sebuah postingan itu sudah menjadi wujud kepedulian sesama manusia dan sesama mukmin. Tanpa kita sadari orang-orang jadi tahu berita atau informasi itu. Jadi, ada rasa empati yang ditimbulkan di dalam hati.
Dengan kita membagikan postingan itu, kita mendapatkan pahala jariyah seperti orang yang mengerjakannya. Dan, jika yang disebarkan itu berupa kebaikan bisa mendapatkan pahala jariyah yang tidak main-main, karena terus mengalir sampai maut memisahkan.
Rasulullah bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim No. 1893)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim No. 1631)
Di zaman ini, berbagi postingan berisi kebaikan bisa menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat. Mungkin kita hanya mengetik, memotret, atau menekan tombol “bagikan”, tetapi jika ada orang yang membaca lalu mengamalkan, pahala itu akan terus mengalir meski kita sudah tiada.
Sebaliknya, jika yang kita sebarkan adalah keburukan, maka itu bisa menjadi dosa jariyah yang juga terus mengalir. Satu klik bisa jadi jalan menuju surga, tetapi juga bisa menjadi sebab kita tergelincir, tergantung apa yang kita sebarkan.
Tetapi, semua tergantung niat yang kita imankan. Rasulullah saw., “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.”
Kalau niat yang kita tujukan hanya kepada Allah dan Rasul-Nya akan bernilai pahala, berbeda lagi dengan niat duniawi mungkin dia hanya mendaptakan validasi selama di dunia. Seperti, kita membagikan postingan ke story WhatsApp ataupun story Instagram tentang keutamaan salat berjamaah sambil membagikan foto kebersaman dengan orang terdekat, pada mengunggah ke sosial media banyak komentar yang memuji kita betapa saleh-nya kita, yang makin lama makin ada perasaan riya yang muncul dalam hati ku. Jadinya, unggah itu karena niat lain bukan niat Lillahi, melainkan ingin mendapatkan pujian dari orang-orang.
Akhirat tempat pulang terbaik, dunia ini hanya menjadi jembatan saja. Maka, coba kita perbaiki niat kita setiap ingin membagikan postingan kita jika hal baik. Jika hal buruk, semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, maupun sebiji zarrah.
Atau seperti kabar Indonesia sekarang ini, banyak demo dimana-mana. Kita tahu demo itu dari sosial media kan? Zaman sudah canggih, bisa membagikan berita tentang demo dari platform Instagram, Tiktok, X, Youtube, dengan adanya kita yang tinggal di kampung tahu telah terjadi demo, banyak korban yang harus dibutuhkan. Memang itu belum tentu bisa mengubah keadaan di tempat demo, tetapi dengan kita membagikan dan menyukai sebuah postingan bisa memicu itu viral atau fyp. Seperti kita tahu, Indonesia termasuk pengguna internet tertinggi di dunia, menempati peringkat kelima secara global menurut Statistika. Walaupun kita tidak bisa demo, tetapi dengan adanya membagikan berita demo kita bisa menyuarakan suara kita dari sosial media.
Banyak orang yang mulai mendonasikan kepada para mahasiswa yang demo itu, memberikan belangsukawa, berupa makanan, minuman, ataupun dengan kita membagikan itu bisa menggerakkan hati orang untuk ikut membantu para pendemo dengan memesan dari aplikasi Gofood, Shopee Food terus di kasih tahu lewat dari dm instagramnya, dibagi bagi ke kawan kawan ojolnya yang lain. Bahkan berita Indonesia demo atau sedang tidak baik-baik saja sudah sampai keluar negeri, banyak akun sosial media atau saluran televisi dari luar negeri ikut meramaikan berita ini. Semua tergantung niatnya, kembali ke masing-masing niatnya membagikan postingan itu hanya pamer atau rasa iba dari hati terdalam. Perbaiki niatnya jika ingin memulai suatu hal yang baik itu, takutnya kegiatan yang ingin kita lakukan itu baik, tetapi karena niat kita yang buruk malah berubah menjadi dosa bukan berubah menjadi pahala, Astagfirullah.
Baca Juga: Addin 473: Keutamaan Membaca Surah Al-Mulk, Perlindungan di Dunia dan Akhirat
Editor: Muhammad Daffa

