
Penulis: Raja Nasrullah Fajrillah
Kejadian tragis yang menimpa seorang anak muda berusia 18 tahun di Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, menjadi cermin nyata betapa serius dampak negatif akan keterlibatan pemuda dalam geng motor. Fenomena ini menunjukan bahwa banyak generasi muda saat ini kehilangan arah dan tujuan hidup, sehingga terjerumus ke dalam perilaku destruktif.
Kenakalan remaja semakin meningkat seiring dengan hilangnya nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka. Banyak dari mereka yang merasa kosong, tanpa tujuan hidup yang jelas. Mereka mencari kebahagian di tempat yang salah, seperti dunia hiburan, game online yang berlebihan, atau bahkan kekerasan demi mendapatkan eksistensi di tengah lingkungan sosial mereka.
Baca Juga: Addin 473: Keutamaan Membaca Surah Al-Mulk, Perlindungan di Dunia dan Akhirat
Selain itu, dampak krisis dari keluarga ini sangat nyata bagi generasi muda. Anak-anak kehilangan figur orang tua yang seharusnya menjadi pembimbing utama mereka. Kemajuan teknologi dan informasi memperparah situasi ini. Anak-anak makin terekspos pada ancaman moralitas, seperti pornografi dan tekanan sosial akibat sosial media. Studi yang dillakukan oleh Cigna pada 2019 menunjukan bahwa lebih dari 50 persen generasi muda di Amerika merasa kesepian. Bahkan, dua dari lima di antaranya merasa hidup tanpa makna. Akibatnya, mereka mengalami perasaan marah dan putus asa, yang berujung pada peningkatan kekerasan, perilaku destruktif, serta degradasi akhlak.
Lalu, mengapa generasi muda bisa kehilangan arah? Bagaimana Islam menjadi satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan mereka? Ada banyak faktor atau penyebab yang terjadi mengapa generasi muda kehilangan arah, antara lain:
1. Sistem pendidikan yang tidak berbasis pada nilai-nilai agama dan sering kali membentuk karakter yang gagal dan akhlak yang rusak kepada remaja. Kurikulum yang menekankan aspek akademis semata tanpa memperhatikan pembentukan moral, yang membuat remaja rentan terhadap pengaruh negatif,
2. Kesibukan orang tua dalam mencari nafkah sering kali membuat mereka terabaikan terhadap pengawasan dan pendidikan anak-anaknya. Akibatnya, anak anak mencari perhatian dan kenyamanan di luar rumah, yang biasa menjerumus kepada pergaulan yang negatif,
3. Tekanan sosial, tertutama di generasi muda. Tekanan ini datang dari berbagai bentuk, seperti ekspektasi keluarga, tuntunan masyarakat, dan standar sosial yang sulit dicapai. Jika tidak dihadapi dengan bijak, tekanan sosial ini menyebabkan krisis dalam bermimpi dan berusaha mencapai tujuan hidup. Islam sebagai agama yang sudah disempurnakan memberikan pedoman untuk menghadapi tekanan sosial dengan cara yang baik dan sesuai nilai-nilai syariat,
4. Pengaruh media sosial, seperti konten-konten kekerasan yang mudah diakses melalui gawai tanpa ada pengawasan, dapat membentuk karakter keras kepada mereka, sehingga cenderung terlibat dalam aktivitas seperti geng motor.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)
Ajaran Islam merupakan solusi utama untuk menghadapi fenomena yang dihadapi anak muda sekarang. Islam memandang agama sebagai pedoman hidup yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan umat manusia. Dalam sistem Islam, peran orang tua sesuai syariat, seperti ayah yang bertanggung jawab mencari nafkah, sementara ibu berperan sebagai pendidik generasi. Anak yang dididik dengan kasih sayang dan kelembutan, akan tumbuh dengan akhlak mulia dan tidak mudah terjerumus terhadap perilaku negatif.
Penegakan hukum dalam Islam juga sangat tegas. Jika ada pelaku kejahatan yang menyebabkan kerusakan dan membahayakan nyawa orang lain, sanksi yang diberikan harus mampu memberikan efek jera. Dalam Islam, hukuman qishosh (hukuman mati) bisa diterapkan bagi pelaku pembunuhan, sementara tindakan kriminal lainnya akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Islam juga menawarkan solusi yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan ini:
1. Pendidikan yang berbasis akidah harus diterapkan di kurikulum pendidikan yang menanamkan akidah Islam sejak dini, kemudian membentuk karakter mereka menjadi kepribadian yang tangguh dan berakhlak mulia,
2. Peran orang tua yang lebih optimal dalam meneladani peran vital untuk membekali tingkah laku anak. Alhasil, tidak menyakiti orang lain dan mereka menjadi bermanfaat bagi orang lain. Rasullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad),
3. Bisa mengikuti komunitas Islam, pengajian rutin yang diselenggarakan di berbagai mesjid. Hal itu akan membantu membentuk pemahaman agama Islam dan karakter yang sesuai dengan ajaran Islam,
4. Lingkungan memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dalam membentuk generasi yang berakhlak Islami. Lingkungan yang dipenuhi dengan nilai-nilai islam, seperti keluarga yang harmonis, masyarakat yang saling menasehati dalam kebaikan, serta teman-teman yang saleh, akan membantu seseorang untuk berada di jalan yang benar,
5. Islam juga mengajarkan, setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, serta masyarakatnya. Rasullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan menanam nilai tanggung jawab sejak dini, anak muda akan lebih memahami bahwa hidupnya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Hal ini diterapkan dalam kehidupan sosial, seperti saling bantu, tidak merugikan orang lain, dan senantiasa menegakkan keadilan.
Islam adalah solusi terbaik untuk generasi muda yang merasa kebingungan dalam menentukan arah hidup. Dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, membangun identitas diri, menjaga pergaulan, memperkuat ibadah, dan bersosialisasi dalam masyarakat, mereka akan menemukan kehidupan yang lebih bermakna dan penuh berkah. Saatnya kembali kepada Islam dan menjadi generasi yang kuat, berprinsip, dan bermanfaat bagi sesama
Baca Juga: Addin 472: Hijrah Itu Bukan Tren, Tapi Perjalanan Pulang

