
(Kamerawan: Damia Hadifa)
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Di zaman yang serba modern sekarang ini, fenomena cashless tentu saja tidak bisa dihindari dan menjadi bagian dari kehidupan Gen Z sehari-hari. Bukan karena uang tunai tidak berlaku lagi, melainkan karena pembayaran secara online kini lebih mudah sehingga semuanya terasa lebih cepat dan praktis.
Mau pergi makan ke restoran tinggal membawa ponsel, mau belanja keperluan tinggal membawa ponsel, mau jalan-jalan tinggal membawa ponsel. Semuanya akan terasa aman jika membawa ponsel, asalkan saldo rekening mencukupi. Tidak perlu repot membawa uang tunai dan dompet, sekarang cukup dengan membawa ponsel saja sudah bisa berbelanja dan membeli banyak hal.
Baca Juga: Menilik Remahan Kontroversi Tuan Rumah Piala Dunia 2026
Fenomena cashless adalah perubahan kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi, dari pembayaran tunai menjadi pembayaran nontunai melalui teknologi digital, seperti dompet digital (e-wallet), mobile banking, kartu debit dan kredit, serta QRIS. Fenomena ini berkembang pesat seiring perkembangan zaman dan meningkatnya penggunaan smartphone, seolah-olah sudah menjadi kebiasaan sekaligus gaya hidup Gen Z.
Gen Z menjadi kelompok yang cepat beradaptasi dengan teknologi pembayaran online ini. Bagaimana tidak, sebagian besar pembaruan mulai diinisiasi oleh Gen Z sebagai pelopornya. Oleh karena itu, melakukan transaksi seperti ini tentu menjadi hal yang mudah karena dipengaruhi oleh lingkungan dan mereka tumbuh di era digital sehingga teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selain tumbuh dan besar di era digital, Gen Z juga mengutamakan kepraktisan. Jika ada cara yang lebih mudah dan cepat, mengapa tidak? Gen Z cenderung menyukai hal-hal yang cepat, mudah, dan efisien. Karena itulah teknologi seperti ini mudah diterima karena mampu mempermudah aktivitas sehari-hari.
Meskipun menawarkan kemudahan, fenomena ini juga memiliki dampak negatif, terutama jika tidak digunakan secara bijak dan dikelola dengan baik. Proses pembayaran yang serba praktis dan mudah sering kali membuat seseorang tidak menyadari besarnya pengeluaran. Ketika membayar dengan uang tunai, jumlah uang yang dimiliki dapat terlihat secara fisik. Sebaliknya, saat pembayaran dilakukan secara online, uang yang berkurang hanya terlihat sebagai angka di layar.
Apalagi jika barang yang ingin dibeli secara online disertai banyak promo, cashback, dan fitur paylater dari aplikasi itu sendiri. Kondisi tersebut memungkinkan banyak orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena terpengaruh oleh berbagai penawaran yang tersedia sehingga terbentuk perilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif adalah kecenderungan seseorang membeli atau menggunakan barang dan jasa secara berlebihan yang didorong oleh keinginan, bukan kebutuhan. Dalam fenomena ini, keputusan membeli sesuatu sering kali dipengaruhi oleh tren, promosi, gengsi, atau ketertarikan sesaat, bukan karena barang tersebut benar-benar diperlukan.
Sebenarnya, penggunaan cashless tidak serta-merta menjadikan seseorang berperilaku konsumtif. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana setiap orang mengelola keuangannya. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk mempermudah hidup, bukan menjadi penyebab hilangnya kendali atas pengeluaran yang terasa tidak nyata.
Di era serba digital seperti sekarang, mengelola keuangan menjadi tantangan bagi Gen Z. Bijak atau borosnya pengeluaran bergantung pada cara setiap orang mengelola keuangannya. Oleh karena itu, literasi keuangan perlu diterapkan sejak dini sehingga perilaku konsumtif sebagai salah satu dampak dari praktisnya pembayaran secara online dapat diminimalkan.
Baca Juga: Pengangguran Terdidik: Saat Pendidikan Tak Lagi Menjadi Jaminan

