Menilik Remahan Kontroversi Tuan Rumah Piala Dunia 2026

- Advertisement - Pfrasa_F
Reporter
(Kamerawan: Damia Hadifa)

Penulis: Nafiis Satria Pratama

Piala Dunia merupakan kompetisi yang sangat dinantikan oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia. Pada ajang ini, seluruh tim nasional yang telah lolos babak kualifikasi akan bertanding memperebutkan gelar juara dunia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Bahkan, banyak penggemar rela menyisihkan penghasilannya demi membeli selembar tiket agar dapat menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.

Pada tahun ini, Federation Internationale de Football Association (FIFA) menggelar kompetisi akbar tersebut di benua Amerika, tepatnya di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Para penggemar menyambut baik penyelenggaraan tersebut karena terakhir kali Amerika Utara menjadi tuan rumah Piala Dunia yaitu pada tahun 1994. Namun, sejumlah kontroversi yang muncul menjelang penyelenggaraan turnamen membuat sebagian penggemar merasa kurang antusias menyambut ajang tersebut.

Baca Juga: Pengangguran Terdidik: Saat Pendidikan Tak Lagi Menjadi Jaminan

Kita semua tahu bahwa setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu memiliki lagu ikonik yang menambah kemeriahan turnamen. Jika melihat Piala Dunia 2022, lagu Dreamers yang dibawakan Jung Kook berhasil memeriahkan upacara pembukaan. Lirik dan aransemennya dinilai selaras dengan semangat kompetisi. Selain itu, lagu Waka Waka (This Time for Africa) yang dibawakan Shakira bersama Freshlyground pada Piala Dunia 2010 juga masih dikenang hingga kini sebagai salah satu lagu Piala Dunia paling ikonik.

Pada Piala Dunia 2026, FIFA merilis lagu Lighter yang dibawakan Jelly Roll dan Carín Leon sebagai singel pertama album musik resmi Piala Dunia 2026. Namun, lagu tersebut menuai beragam kritik dari sebagian penggemar karena dinilai kurang memiliki nuansa khas Piala Dunia. Lirik dan aransemennya dianggap terlalu santai sehingga tidak mampu membangkitkan semangat seperti lagu-lagu resmi pada edisi sebelumnya.

Sayangnya, kontroversi tidak berhenti di situ. Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah juga menjadi sorotan akibat kebijakan imigrasinya yang dinilai berpotensi memengaruhi penyelenggaraan Piala Dunia. Di tengah hubungan politik yang masih memanas antara Amerika Serikat dan Iran, muncul kekhawatiran mengenai kemudahan akses bagi delegasi maupun tim nasional Iran selama turnamen berlangsung. Kondisi tersebut memunculkan kritik dari berbagai pihak karena ajang olahraga seharusnya tetap menjunjung tinggi prinsip netralitas dan tidak dipengaruhi persoalan politik.

Kontroversi lainnya adalah kebijakan visa Amerika Serikat yang berdampak terhadap sejumlah pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Salah satu kasus yang menjadi perhatian ialah Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia yang dikabarkan menghadapi kendala untuk memasuki Amerika Serikat akibat kebijakan imigrasi yang berlaku. Padahal, ia telah memperoleh pengakuan sebagai salah satu wasit terbaik dari Benua Afrika dan masuk dalam perhatian FIFA.

Penyelenggaraan Piala Dunia seharusnya berlangsung semarak dan meriah sebagaimana edisi-edisi sebelumnya. Namun, berbagai persoalan politik dan kebijakan negara tuan rumah justru berpotensi mengurangi semangat tersebut. FIFA seharusnya bersikap lebih tegas terhadap negara yang menjadi tuan rumah. Selama ini, organisasi sepak bola dunia tersebut selalu menegaskan bahwa “sepak bola bukanlah tempat bagi kepentingan politik”. Sikap tersebut pernah ditunjukkan melalui berbagai kebijakan FIFA terhadap negara-negara yang dinilai melanggar prinsip-prinsip organisasi. Oleh karena itu, konsistensi FIFA dalam menerapkan prinsip tersebut kepada seluruh negara patut menjadi perhatian.

FIFA juga harus mampu menjamin kesetaraan hak bagi seluruh negara peserta maupun seluruh ofisial yang terlibat dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Ajang sepak bola terbesar di dunia ini seharusnya terbebas dari kepentingan politik negara tuan rumah sehingga seluruh peserta dapat merasakan euforia dan keseruan kompetisi secara adil. Koordinasi dengan negara penyelenggara mengenai kebijakan visa, imigrasi, serta aspek administratif lainnya menjadi langkah penting agar seluruh pihak memperoleh perlakuan yang setara.

Piala Dunia 2026 hendaknya menjadi pembelajaran bagi FIFA agar lebih selektif dalam menentukan tuan rumah pada masa mendatang. Penilaian tidak hanya berfokus pada kesiapan infrastruktur dan fasilitas, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas politik, kebijakan imigrasi, serta komitmen negara penyelenggara dalam menjamin kesetaraan hak seluruh peserta. Dengan demikian, Piala Dunia tetap menjadi ajang yang mempersatukan bangsa-bangsa melalui sepak bola, bukan justru menjadi ruang yang dipenuhi kepentingan politik.

Baca Juga: Badai Ekonomi: Rupiah Mendekati Rp18.000, Kepercayaan Publik Diuji

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles