Ibu Selalu Bilang Tidak Apa-apa

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://id.pngtree.com/)

Penulis: Zaitun Azzahra

“Bu, tangan ibu kenapa berdarah?”

Saat itu aku masih berumur lima tahun, aku melihat ibu duduk termenung di kursi dapur, sendirian dengan seribu renungannya sambil memotong bawang.

“Ibu tidak apa-apa, Nia,” balas ibu dengan senyuman yang selalu ia berikan kepada anaknya.

Baca Juga: Edelweis yang Tak Pernah Layu /3/

Ya, memang sesederhana itu. Padahal tangannya pasti sakit.

Pada usia yang sama ada satu kejadian, aku memegang gelas kesayangan ibuku, tanpa sengaja aku menjatuhkannya, aku sangat panik. Takut ibu akan marah dan menghukumku, seperti cerita teman-temanku saat dihukum oleh orang tuanya karena melakukan kesalahan.

Tapi, ibu hanya membalas,

“Tidak apa-apa, Nak, namanya juga tidak sengaja. Toh bisa dibeli lagi, kan?”

Sangat tenang, tapi aku melihat raut wajah ibuku yang sangat sedih. Bagaimana tidak, itu gelas peninggalan dari nenek untuk ibu sebagai kenang-kenangan. Hufft …

Entahlah, ibu memang sosok yang lembut, perhatian, dan sama sekali tidak pernah membentak bahkan memukul anaknya. Tapi, ibu juga mengesalkan karena selalu menyimpan semuanya sendiri.

Itulah sedikit gambaran tentang ibu. Saat ini aku masuk di bangku kuliah, merantau jauh dari tempat tinggalku. Aku ke kota untuk menggapai cita-citaku dan tentunya supaya buat ibu bangga.

Merantau, pulang kalau hanya libur saja, menelepon pun kalau hanya butuh saja.

“Bu, uang bulanan Nia habis.”

“Ya sudah, nanti Ibu kirim.”

“Bu, tugas Nia banyak sekali.”

“Semangat, Nak.”

“Bu, Nia dapat nilai bagus!”

“Alhamdulillah. Ibu bangga.”

Aku tidak pernah bertanya,

“Ibu sendiri bagaimana?”

Karena setiap kali kutanya, jawabannya selalu sama.

“Tidak apa-apa.”

Sampai suatu hari, aku mendapatkan telepon dari sepupuku di kampung halaman.

“Ibu masuk rumah sakit, Nia.”

Jleb.

Aku lemas, aku tidak menyangka ini bakal terjadi, padahal empat jam yang lalu aku dan ibu masih bertukar kabar melalui chat WhatsApp.

Akhirnya, aku pulang di hari yang sama, dengan membawa barang seadanya. Di kamar rumah sakit, kulihat Ibu tertidur dengan selang infus di tangannya.

Wajahnya pucat, tetapi saat dia terbangun dan melihatku, ia masih sempat memberikan senyuman untukku.

“Nia, kenapa pulang, Nak? Besok kuliah, kan?”

Aku hampir nangis.

“Ibu sakit, kenapa tidak bilang ke Nia?”

Ibu tertawa kecil.

“Cuma capek, Nak.”

“Capek, tapi kok sampai segininya sih, Bu?”

Ibu diam.

Dokter pun menjelaskan bahwa Ibu sudah cukup lama mengabaikan kondisi tubuhnya. Ia terlalu sering menunda pemeriksaan. Terlalu sering mengatakan dirinya baik-baik saja.

Tentu aku marah. Tetapi, bukan menyalahkan dokter atau keadaan. Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak memaksa ibu untuk cerita apa pun masalahnya. Aku stres.

Malam itu, ketika Ibu tertidur, aku membuka lemari kecil di samping tempat tidurnya untuk mengambil pakaian. Di sana tanpa sengaja aku melihat kotak tua. Isinya tidak banyak.

Ada beberapa foto, dan beberapa amplop yang sudah menguning.

Mataku tertuju pada amplop yang bertuliskan nama “Nia”. Aku sangat kaget dan buru-buru membukanya. Itu surat yang ditulis Ibu bertahun-tahun lalu.

“Untuk anak Ibu yang sedang belajar jauh dari rumah.”

Aku baca pelan-pelan, ternyata ibu menulis cerita tentang pertama kali aku berangkat kuliah tiga tahun lalu. Ibu menangis saat aku menghilang dibawa mobil yang akan menuju tempat kuliahku. Ibu menulis rumah terasa sepi, ia ingin sekali sering-sering meneleponku hanya untuk mendengar suara anaknya, tapi takut mengganggu kuliahku, tulisnya.

Di bagian akhir, ada satu kalimat yang membuat dadaku sesak. “Kalau suatu hari kamu merasa Ibu baik-baik saja, mungkin karena Ibu sedang berusaha agar kamu tidak perlu khawatir, Nak.

Air mataku jatuh. Selama ini aku mengira ibu tidak pernah kesepian, aku mengira ibu tidak pernah takut, aku kira rumah itu akan selalu sama dan ibu selalu berada di dalamnya. Ternyata, aku salah.

Pagi harinya Ibu terbangun dan aku langsung menanyakan, “Kenapa ibu selalu bilang tidak apa-apa, sih?”

Ibu tersenyum.

“Karena kalau Ibu bilang Ibu lelah, kamu ikut kepikiran.”

Aku terdiam. Ternyata selama ini Ibu memilih menyimpan semuanya sendiri karena tidak ingin membuatku khawatir. Namun, justru itu yang membuatku merasa makin jauh dari keadaan Ibu.

“Kan biar aku tahu Ibu sakit, Ibu lagi sedih. Biar aku juga tahu Ibu butuh ditemani sama Nia.”

Ibu pun diam. Beberapa saat kemudian, Ibu berkata,

“Ibu kangen Nia.”

“Nia juga kangen Ibu.”

Itulah percakapan kami diakhiri dengan pelukan erat sambil merenung bersama.

Sejak hari itu, aku menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar memahami kondisi Ibu. Ibu bukan manusia yang tidak pernah terluka. Ibu hanya pandai menyembunyikan lukanya. Bahkan, kalimat “tidak apa-apa” yang selama ini aku dengar bukan tanda bahwa hidup baik-baik saja. Itu adalah cara ibu mencintaiku.

Aku belajar, jika Ibu berkata, “Tidak apa-apa,” aku tidak akan lagi pergi begitu saja. Aku akan duduk di sampingnya. Aku akan mendengarkan. Hanya untuk membuatnya tahu bahwa kali ini, Ibu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /6/

Editor: Ummy Syafitri

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles