
Penulis: Ummy Syafitri
Sembilan tahun yang lalu …
Pagi itu, langit cerah. Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan yang berjajar di halaman SMA Cendekia. Suara peluit panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) bersahut-sahutan, bercampur dengan tawa dan wajah-wajah gugup para siswa baru yang memenuhi lapangan.
Di antara keramaian itu, Kirana berdiri sambil memeluk map biru di dadanya. Seragam putih abu-abu yang masih tampak baru terasa sedikit kebesaran di tubuhnya. Hijabnya terpasang rapi, sementara kedua matanya sibuk memperhatikan sekeliling.
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /6/
Ia belum mengenal siapa pun.
“Semoga dapat teman yang baik,” gumamnya pelan.
Sejak kecil, Kirana memang tidak pandai memulai percakapan. Ia lebih suka mendengarkan daripada menjadi pusat perhatian. Sebab itu, hari pertama sekolah selalu menjadi hari yang paling membuatnya gugup.
“Hei, kamu!”
Suara laki-laki dari belakang membuatnya menoleh.
Seorang siswa dengan tinggi hampir sejajar tiang bendera berdiri sambil menyeringai. Seragamnya tampak sedikit berantakan, dasinya longgar, dan tasnya hanya disampirkan di satu bahu.
“Kamu kelas X-B, ya?”
Kirana mengangguk pelan.
“Iya.”
“Syukurlah.”
“Lo, kenapa?”
“Soalnya aku juga.”
Belum sempat Kirana menjawab, laki-laki itu lebih dulu mengulurkan tangan.
“Khuzai Reza Farhana.”
“Kirana.”
“Hanya Kirana?”
“Kirana Azzahra.”
Reza mengangguk pelan.
“Namanya bagus.”
Kirana hanya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, bel berbunyi. Seluruh siswa baru diminta berbaris berdasarkan kelas. Sialnya, Reza berdiri tepat di belakang Kirana. Selama pengarahan berlangsung, laki-laki itu tidak bisa diam.
“Eh.”
Kirana pura-pura tidak mendengar.
“Eh …”
Ia kembali berbisik. Namun, Kirana tetap menatap lurus.
“Tinggi kamu berapa?”
Kirana mengembuskan napas pelan.
“Seratus enam puluh.”
“Oh … pantas.”
“Pantas apa?”
“Kelihatannya cocok jadi tiang bendera.”
Kirana langsung menoleh tajam.
“Kamu memang suka mengganggu orang, ya?”
Reza tertawa pelan.
“Eggak. Cuma bosan.”
Kirana memutar bola matanya, lalu membatin, “Menyebalkan.”
Hari-hari pertama sekolah membuat mereka makin sering bertemu. Entah saat pembagian kelompok tugas, saat piket kelas, atau ketika guru tanpa sengaja selalu menempatkan mereka dalam kelompok yang sama.
“Kita lagi?”
Kirana menghela napas panjang. Sementara Reza, mengangkat kedua bahunya.
“Mungkin Bu Guru tahu kalau aku pintar,” ucap Reza.
Kirana mendengus.
“Percaya diri sekali.”
“Bukan percaya diri.”
“Lantas apa?”
“Memang kenyataannya begitu.”
Kirana tidak bisa menahan tawanya.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Reza, ia menyadari bahwa di balik sifat usilnya, Reza sebenarnya pandai membuat suasana menjadi lebih ringan.
Suatu siang sepulang sekolah, hujan turun deras. Sebagian besar siswa memilih berteduh di selasar. Berbeda dengan Kirana, ia memilih nekat lalu membuka tasnya, mencari payung. Namun, nyatanya kosong.
Ia baru ingat payungnya tertinggal di rumah.
“Aduh …”
“Kamu nggak bawa payung?”
Suara itu kembali terdengar.
Itu Reza. Ia mengangkat sebuah payung hitam.
“Mau bareng?”
Kirana menggeleng cepat.
“Nggak usah.”
“Kenapa?”
“Nanti dikira pacaran.”
Reza tertawa lepas.
“Padahal belum.”
Kirana langsung melotot.
“Reza!”
“Iya, iya … bercanda.”
Namun, hujan tak kunjung reda. Akhirnya, dengan wajah setengah kesal, Kirana menerima ajakan itu. Mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung yang sama. Karena tubuh Reza lebih tinggi, ia sengaja memiringkan payung ke arah Kirana agar gadis itu tidak kehujanan. Akibatnya, bahu kirinya sendiri justru basah.
“Kamu kena hujan,” ucap Kirana.
“Nggak apa-apa.”
“Nanti sakit.”
Reza hanya tersenyum.
“Kalau ada yang harus basah, biar aku saja.”
Kirana tidak menjawab.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Reza. Laki-laki yang awalnya ia anggap menyebalkan ternyata diam-diam memiliki hati yang hangat. Bahkan tanpa ia sadari, hujan pertama mereka menjadi awal dari kisah yang perlahan akan tumbuh seperti benih kecil yang kelak menjelma menjadi bunga yang sulit dilupakan.
Bersambung …
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /5/
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

