
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
“Sudah sampai mana proses, Bang?”
“Aih, jangan tanya gitu lah, Bang. Kayak serius kali jadi pertanyaannya.”
“Lah, kan emang nanyanya serius.”
“Capek.”
Rifqi benar-benar memperhatikan pelanggan setianya itu, benar-benar serius.
“Capek kenapa?”
“Capek lihat teman wisuda. Capek lihat teman udah kerja. Capek lihat diri sendiri masih gini-gini aja. Revisi mulu. Ditolak mulu. Kayak aku doang yang jalannya muter-muter.”
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /4/
Rifqi menarik kursi, duduk di depan Bagas. Tidak membawa kopi, hanya membawa air putih saja.
“Bang, tahu enggak, dulu saya juga gitu. Lulus SMK, nganggur delapan bulan. Teman udah pada kerja pabrik. Saya? Masih bantuin Bapak jualan gorengan. Ada juga teman yang kuliah, tapi saya gak bisa. Terus saya selalu bertanya sama diri saya sendiri, ‘Emang dunia ngasih kita start bareng-bareng?’”
Bagas melirik. Kali ini dia benar-benar tidak menjawab barista satu ini.
“Enggak, kan. Ada yang start di garis finish, ada yang start-nya masih nyari lapangan. Tugas kita cuma satu, jalan. Pelan juga gapapa. Yang penting jangan berhenti di tengah karena lihat orang lain udah nyampe duluan.”
Kalimat sederhana. Tapi masuk banget ke pikiran Bang Bagas yang selalu mikirin teman-temannya sudah pada sampai di garis finish masing-masing.
Bagas menunduk, mengaduk kopinya yang sudah dingin.
“Tapi kalau berhenti, berarti kalah, ya, Bang?”
“Berhenti buat istirahat itu beda sama nyerah, Bang. Kamu ini udah lari sejauh ini. Masa mau diakhiri cuma karena capek lihat scoreboard orang lain.”
Malam itu Bagas pulang dari coffeeshop jam 00.00 WIB. Bukan jam 01.00 WIB. Ia membuka laptop bukan untuk menangis melihat postingan instagram teman-temannya. Tapi untuk melanjutkan bab selanjutnya.
Malam ini, otak Bagas benar-benar lancar, tidak stuck seperti hari-hari biasanya. Ia benar-benar siap untuk melanjutkan bab-bab selanjutnya.
Jam 02.46 WIB, revisinya selesai. Suatu kejadian yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya. Bagas pun langsung semangat mengirim hasil yang sudah ia revisi ke dosen pembimbingnya, berharap hasil terbaik.
“Hah … rasanya lega. Kali ini aku mau istirahat dulu. Semoga besok dapat kabar baik,” ucap Bagas penuh harap.
Keesokan harinya, ia siap-siap pergi ke kampus. Tentunya dengan tugas-tugasnya yang tiada habis.
Sejak subuh tadi, ia selalu mengecek HP-nya, siapa tahu dosen pembimbingnya sudah membalas pesannya. Namun, belum juga.
Akhirnya, ia jalan ke kampus. Sesampainya di kampus, ia bertemu teman satu organisasinya. Namanya Joko.
“Pagi amat nyampe di kampus, Gas. Masih bimbingan?” ucap Joko.
“Oh, enggak. Udah siap revisian semalam, tinggal nunggu balasan aja,” ucap Bagas.
“Alhamdulillah, semoga dapat hasil terbaik, ya. Pantesan sumringah banget tuh muka,” ucap Joko meledek.
“Haha, bisa aja. Gini nih, kalau udah lama gak ngerasain kelapangan hati.”
Setelah perbincangan itu, Bagas mengunjungi perpustakaan dan mulai mengerjakan tugas-tugas lainnya. Ia sangat fokus. Pokoknya harus selesai.
Di tengah kefokusan itu, “teng”, ada notifikasi pesan masuk.
Tentu saja Bagas langsung mengecek HP-nya dan benar saja, itu balasan dari dosen pembimbingnya.
Dosennya membalas, “Revisinya diterima, tinggal sedikit bagian yang harus diperbaiki.”
Tangannya gemetaran. Ia langsung screenshot, kemudian mengirimnya ke Rifqi.
Lima detik kemudian, Rifqi membalas, “Nah, kan. Saya bilang juga apa. Traktir butterscotch dua gelas besok, ya. Satu buat saya.”
Bagas tertawa lalu menggumam dalam hati, “Traktir dua butterscotch? Kan, dia baristanya. Agak lain memang.”
Bagas benar-benar bersemangat untuk memperbaiki sedikit bagian yang harus diperbaiki itu.
Bagas menelepon ibunya untuk memberi tahu kabar ini. Benar-benar bahagia yang tak terbendung. Ini adalah hal yang sangat Bagas tunggu. Ia tak menyangka sampai di tahap ini.
Bersambung …
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /3/
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

