Bersedekah Itu Tidak Merugikan Seseorang

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Hanif Muzhaffar)

Penulis: Nur Citra Naadirah Br Tarigan

Di suatu kampung terdapat enam anak yang bersahabat, setiap bermain selalu bersama dan bergembira. Pada suatu hari, sepulang mengaji saat sedang asyik mengobrol di jalan, mereka bertemu dengan seorang.

Baca Juga: Bunuh Diri Adalah Solusi?

“Wah, tadi kamu hebat banget tau, Hafidz. Kamu setor tiga surah hafalan sekaligus, padahal kita semua baru dapat satu surah yang disetor,” ungkap Amara kagum kepada Hafidz yang lebih banyak menyetor di antara mereka berenam.

“Betul itu kata Amara, keren banget, Karin salut banget padamu Hafidz,” sambung Karin dengan penuh semangat dan memberikan dua acungan jari jempolnya kepada Hafidz.

“Haha … kalian ini bisa saja, kalian juga hebat, bisa hafal surah yang lebih panjang ayatnya dibanding aku,” ucap Hafidz merendahkan diri agar tidak menjadi orang yang sombong.

“Merendah untuk meroket,” sindir Khalid pada Hafidz.

“Eh, bukan gitu, Lid, emang benar, kok, kalian juga hebat,” bantahnya dengan sopan.

Ya, begitulah Hafidz seorang anak yang lebih sopan dan santun di antara mereka berenam.

“Hmhm, sudah ayo cepat jalannya, biar sampai rumah sebelum Magrib,” ucap Haikal dengan cuek, karena memang seperti itulah sifatnya, yang paling cuek di antara mereka berenam.

“Iya-iya, ini udah jalan paling cepat, marah-marah terus si kutub utara ini,” ketus Karin.

Setelah keributan itu, tiba-tiba ada yang menghampiri mereka dengan pakaian yang lusuh dan wajah yang lesu, tetapi itu tidak membuat mereka iba melainkan ketakutan satu sama lain.

“Nak, boleh minta sedekahnya, Nak? Saya sudah tiga hari belum ada makan apapun, sedikit saja, untuk saya makan,” pinta seorang ibu paruh baya dengan berharap dikasihani dan mendapatkan sedekah dari mereka.

“Maaf, ya, Bu,” serentak mereka semua kemudian mengatupkan tangannya ke atas tanda permohonan maaf kepada pengemis tersebut.

“Sedikit saja, Nak, saya lapar sekali, saya mohon,” mohonnya lagi dengan mimik wajah yang makin sedih.

Mereka berenam melihat itu mulai sedikit iba, namun mereka tetap tidak ingin memberi.

“Maaf, ya, Bu,” ucap mereka lagi serentak dan masih dengan tangan yang dikatupkan sebagai pertanda permohonan maaf.

Belum lagi teman-temannya menurunkan tangannya, tiba-tiba Zai menyodorkan uang kepada pengemis itu, “Ini Bu, maaf saya hanya ada segini,” ucap Zai.

“Ya, Allah, alhamdulilah, terima kasih, ya, nak, semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu dan mempermudahkan segala urusan kamu, ya, Nak. Ibu izin pergi, ya, terima kasih anak-anak baik,” ucap pengemis itu kemudian pergi meninggalkan mereka.

“Loh, Zai, kok kamu tiba-tiba punya uang? Tadi sewaktu setoran uang tabungan kamu bilang sama Pak ustaz tidak ada uang, kok sekarang ada sih? Apa jangan-jangan kamu berbohong, ya?” tanya Khalid seperti seorang detektif yang sedang mencari informasi.

“Eh, iya, itu bener kata Khalid, kok tiba-tiba kamu punya money, Zai,” sambung Karin dengan wajah yang penasaran juga sama halnya seperti Khalid.

“Duh, kalian ini, sudahlah tidak perlu ini dibahas kali, uang-uangnya Zai, kok kita yang ribet bertanya-tanya, by the way aku juga penasaran Zai, kok tiba-tiba bisa ada uang?” ucap Amira, yang awalnya sok bijak, padahal penasaran juga akhirnya.

“Hmhm … Amira, aku kira kamu jadi orang benar kali ini, ternyata sama aja,” ucap Haikal dengan wajah yang tidak berekspresi sama sekali.

“Dih, sok bener si Haikal ini, kutub utara tidak diajak, diam aja, deh, sana, padahal pasti penasaran juga,” ucap Amira dengan wajah kesalnya.

“Ya, cepat jelaskan ke kami, kenapa bisa tiba-tiba punya uang? Supaya kita bisa cepat sampai ke rumah, Zai,” ucap Haikal.

Ya, begitulah dia, sok-sokan cool padahal penasaran juga.

“Ha, kan, penasaran juga si kutub utara ini, sok-sokan dari tadi,” ucap Amira dengan penekanan kata.

“Sudahlah Amira, kok jadi berantam pula kalian,” ucap Karin.

“Hehe, iya maaf, ya, Karin, soalnya kesal lihat dia,” ucap Amira pada Karin.

“Sudah, Zai, cepatlah jelaskan, penasaran banget kami, nih,” ucap Karin dengan rasa penasarannya itu.

“Oh, itu aku memang tidak ada uang, itu sisa uang saku yang diberikan Ibu sewaktu sekolah, kalau untuk tabungan bersama ustaz memang aku tidak diberikan uang untuk menabung, aku tidak berbohong, aku iba melihat Ibu itu, bagaimana bisa ia tahan tidak makan selama berhari-hari seperti itu, sedangkan aku jika dalam sehari itu tidak makan saja perutku pasti akan sakit. Jadi, aku berikan saja, deh, ke Ibu itu, walaupun, ya, mungkin cukup untuk beli roti dan air mineral doang,” ucap Zai untuk menjelaskan ke teman-temannya.

“Oh, gitu, ya, tetapi emang, sih, Ibu tadi kasihan banget, aku juga iba, tetsapi uangku sudah tidak ada lagi, maafin Karin, ya, Ibu,” ucap Karin dengan wajahnya yang sudah hampir menangis karena merasa bersalah kepada Ibu pengemis yang beberapa menit lalu menghampiri mereka.

“Ya, Allah, astaghfirullah, maafin Hafidz, ya, Allah, ikut-ikutan tidak memberi juga,” ucap Hafidz dengan penuh penyesalan, ya, karena dia memiliki uang, tetapi ia tidak ingin memberikannya.

“Amira juga, ya, Allah, minta maaf soalnya Amira mau menabung di rumah untuk beli mainan di warung Ibu Kasih, maafin Amira, ya, Allah,” ucap Amira, penuh penyesalan, karena merasa lebih mementingkan mainan dari pada bersedekah.

“Kawan-kawan sudahlah, jangan disesali, kalian bisa bersedekah di tempat lain, jikalau ingin bersedekah, sekarang cukup doakan Ibu itu, agar mendapatkan rezeki yang halal dan melimpah agar ibu itu tidak kekurangan dan kelaparan lagi,” nasihat Khalid kepada semua teman-temannya.

“Benar itu kata Khalid, kalian jangan bersedih gitu,” sambung Zai.

“Kalau kalian mau sedekah, besok sewaktu mau mengaji dibawa uangnya, masukin ke kotak amal,” sambung Haikal.

“Oh, iya, bersedekah dengan hewan bisa juga, ya, teman-teman, seperti ketika kita melihat kucing ataupun anjing yang sedang kehausan atau kelaparan kemudian kita memberikan mereka minum dan makan, maka itu termasuk sedekah,” ucap Zai, menjelaskan kepada teman-temannya, bahwasanya bersedekah dengan hewan juga bisa.

“Senyum juga sedekah, kan?” tanya Karin.

“Iya, benar,” sahut Zai. “Tetapi, kalau bisa sedekah dengan benda yang bisa dimanfaatkan orang lain, dan juga jadi pahala jariah untuk kita dan dalam bersedekah juga kita harus memberikan yang layak serta bagus, tetapi kalau ada, ya, jangan memaksakan diri juga,” lanjut Zai.

“Ohhh …,” jawab mereka serentak.

“Oke, deh, terima kasih, ya, penjelasannya Zai. Yuk, lanjut pulang guys,” ucap Karin.

“Yuk,” jawab mereka serentak lagi.

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah:261)

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu tidak mau mengambilnya, kecuali dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Al Baqarah:267)

Baca Juga: Tentangmu

Editor        : Muhammad Daffa

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles