Biliuner Cilik (Bagian 6)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://in.pinterest.com/)

Penulis: Muhammad Satria

Keesokan harinya, Billy dan Fikri datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Mereka membawa sebuah kotak besar berisi pempek yang semalam mereka buat bersama. Pempek itu disusun dengan rapi di dalam wadah plastik, sementara cuko dimasukkan ke dalam botol besar agar mudah dituangkan.

Begitu bel masuk berbunyi, mereka langsung menyimpan dagangan itu di belakang kelas.

Baca Juga: Suara Jeritan Misterius di Balik Dinding Asrama Tua (Bagian 1)

“Aku deg-degan,” bisik Fikri.

Billy tersenyum tipis.

“Kalau mau jadi pengusaha, ya harus berani.”

Jam demi jam berlalu hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.

Tanpa membuang waktu, Billy dan Fikri mengangkat salah satu meja di dalam kelas, lalu meletakkannya di depan pintu. Di atas meja itu mereka menyusun pempek, botol cuko, piring kertas, dan garpu tusuk.

Billy mengambil selembar kertas, lalu menulis di atasnya dengan spidol.

Pempek Buatan Billy & Fikri

Enak, Kenyal, Harga Murah

Kertas itu ditempel di depan meja.

“Nah, siap.”

Fikri mengangguk.

Mereka pun berdiri di belakang meja sambil menunggu pembeli pertama.

Beberapa siswa lewat begitu saja.

Ada yang membaca tulisan di meja, tetapi tetap pergi ke kantin.

Lima menit berlalu.

Belum ada satu pun yang membeli.

“Tenang,” kata Billy.

“Mungkin mereka masih lapar, jadi langsung ke kantin.”

Sepuluh menit kemudian, keadaan masih sama. Meja mereka tetap penuh dengan pempek. Billy mulai gelisah.

“Kok sepi, ya?”

Fikri mengangkat bahu.

“Padahal rasanya sudah enak.”

Lima belas menit berlalu.

Kini sebagian besar siswa sudah selesai makan di kantin dan kembali ke kelas masing-masing. Tetap saja tidak ada yang menghampiri. Jam istirahat pun berakhir. Bel berbunyi. Billy dan Fikri hanya saling memandang.

“Besok pasti laku,” kata Billy mencoba menyemangati.

Namun, keesokan harinya hasilnya tidak jauh berbeda.

Siswa-siswa tetap memilih membeli di kantin. Ada yang bahkan tidak sadar kalau di depan kelas ada yang sedang berjualan. Hari itu mereka kembali pulang membawa hampir seluruh dagangan.

Sesampainya di luar gerbang sekolah, Billy menghela napas panjang.

“Aku kira kalau makanannya enak, orang bakal datang sendiri.”

Fikri mengangguk lesu.

“Aku juga mikir gitu.”

Karena masih ada waktu sebelum pulang, mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar ke pajak loak yang tidak jauh dari sekolah.

Suasana di sana jauh berbeda. Ramai. Orang-orang berlalu-lalang.

Namun, yang paling menarik perhatian Billy bukanlah barang-barang bekas yang dijual, melainkan para pedagangnya.

“Ayo, Bang! Kak, lihat dulu! Murah! Murah!”

“Sepuluh ribu dapat dua!”

“Masuk dulu, Kak. Nggak beli nggak apa-apa.”

“Dicoba dulu bajunya!”

Setiap pedagang berlomba-lomba menarik perhatian pembeli.

Ada yang tersenyum ramah.

Ada yang mengangkat barang dagangannya tinggi-tinggi.

Ada pula yang memberikan potongan harga kepada pembeli pertama.

Billy memperhatikan semuanya dan mencatat di buku catatannya.

“Fikri.”

“Hmm?”

“Kau sadar nggak?”

“Sadar apa?”

“Produk mereka belum tentu paling bagus.”

“Iya.”

“Tapi mereka berani menawarkan.”

Fikri mulai mengerti maksud Billy.

“Sedangkan kita …”

“Cuma berdiri.”

Billy tersenyum kecil.

“Kita nunggu pembeli datang.”

“Padahal pembeli mana tahu kalau pempek kita enak.”

Mereka terus berjalan sambil memperhatikan cara para pedagang berbicara kepada pelanggan. Ada yang mempersilakan orang mencicipi. Ada yang bercanda dengan pembeli. Ada pula yang berteriak cukup keras sehingga orang-orang otomatis menoleh. Billy menganggukkan kepala berkali-kali.

“Aku tahu kesalahan kita.”

“Apa?”

“Kita jualan.”

“Iya.”

“Tapi kita nggak pernah bilang kalau kita jualan.”

Fikri langsung tertawa.

“Iya juga, ya.”

“Kita cuma nunggu.”

Billy berhenti berjalan.

“Besok kita jangan nunggu lagi.”

“Terus?”

“Kita yang panggil pembelinya.”

“Kayak pedagang di sini?”

Billy mengangguk mantap.

“Iya.”

“Bahkan kalau perlu, kita kasih tester gratis.”

Fikri tersenyum lebar.

“Nah, itu baru namanya jualan.”

Mereka pun pulang dengan semangat yang kembali menyala.

Baca Juga: Lily Flower: Wanita Paling Cantik

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles