Bonsai di Jendela Ibu

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Pinterest.com)

Penulis: Syahda Khairunnisa

Di pojok jendela rumah kami yang menghadap ke timur, tumbuhlah sebatang bonsai mungil yang telah hidup lebih lama daripada banyak hal lain dalam hidupku. Ia tumbuh pelan, tidak menjulang, tidak pula memberi keteduhan. Tapi dari semua yang hidup di rumah itu, dialah yang paling setia, seperti Ibu.

Namaku Ardi. Sejak lahir aku tak bisa berjalan. Diagnosa dokter berbunyi panjang dan rumit: spinal muscular atrophy, kelumpuhan yang membuatku harus duduk di kursi roda seumur hidup. Dunia terasa lebih kecil ketika kakimu tak bisa membawamu ke mana-mana. Tapi anehnya, bonsai itu yang hanya sejengkal dariku seperti membawa dunia mendekat.

Baca Juga: Daftar hitam

Setiap pagi, Ibu membuka tirai jendela ruang tamu. Cahaya matahari masuk malu-malu. Setelah mengecup keningku, ia akan mengambil teko kecil, lalu menyiram bonsai itu dengan gerakan yang nyaris seperti ibadah. Daun-daunnya yang mungil bergetar lembut, seperti tersenyum menerima perhatian.

“Apa bagusnya pohon kecil kayak gitu sih, Bu?” tanyaku waktu usia sepuluh tahun, saat rasa kesal pada tubuhku sedang besar-besarnya. “Dia gak bisa tinggi, gak bisa jadi rindang, gak bisa apa-apa.”

Ibu hanya tersenyum, memandangi bonsai itu seperti menatap seorang anak kecil yang keras kepala. “Karena ia bertumbuh, Di. Meski pelan, meski terbatas. Tapi tetap hidup. Itu yang indah.”

Aku mendengus waktu itu. Bagiku, semua yang kecil dan lambat adalah lambang kekalahan. Dan tentu saja, aku merasa salah satunya.

Tapi bonsai itu tak pernah menyerah. Bahkan saat cuaca ekstrem membuat daunnya menguning, atau saat aku tak sengaja menyenggolnya dan membuat potnya retak, ia tetap bertahan. Perlahan, aku belajar menyiramnya sendiri. Ibu memegang tanganku, mengajarkan cara menyentuh daun dengan lembut, memotong ranting tanpa menyakiti. “Memangkas itu bukan untuk melukai, tapi untuk membentuk,” katanya.

Hari-hari kami berjalan dengan pelan, seperti jam tua di ruang tengah. Ibu mulai sering batuk-batuk. Awalnya ringan, lalu semakin berat. Tapi ia tak pernah berhenti tersenyum. “Ibu ini kayak bonsaimu juga,” katanya suatu hari. “Gak bisa lagi lari-lari, tapi masih bisa tumbuh di tempat.”

Aku mulai percaya bahwa kata “tumbuh” tak selalu berarti bergerak. Kadang berarti bertahan, atau menjadi lebih sabar, atau tetap berbuat baik meski tak dilihat siapa-siapa.

Saat usiaku menginjak tujuh belas, aku menulis puisi pertamaku. Tentang bonsai di jendela. Tentang Ibu. Tentang harapan yang pelan-pelan kutumbuhkan.

Hari ulang tahunku datang bersama hujan deras yang jatuh seperti doa dari langit. Tapi pagi itu, Ibu tidak membuka tirai. Tidak ada kecupan di dahiku. Tidak ada senyuman sambil memegang teko kecil.

Ibu sudah pergi. Diam-diam, seperti pagi yang tak sempat-sempat disapa.

Aku tak menangis. Bukan karena tidak sedih, tapi karena sedihnya terlalu dalam untuk dikeluarkan lewat air mata. Seperti akar bonsai yang tak terlihat, tapi mencengkeram kuat tanah di bawahnya.

Tirai itu tetap kutarik tiap pagi. Cahaya matahari tetap masuk, menyentuh bonsai mungil di jendela. Tapi kini aku yang menyiramnya. Dengan tangan yang sempat diajari Ibu. Dengan hati yang mulai belajar mencintai hidup, meski dengan luka.

Beberapa bulan setelah kepergian Ibu, aku menemukan setumpuk catatan harian miliknya. Di sana tertulis kisah tentang kelahiranku, tentang malam-malamnya yang penuh doa, dan tentang betapa ia ingin aku tidak membenci tubuhku sendiri. Di salah satu halamannya, ia menulis.

“Anakku mungkin tidak bisa berdiri, tapi aku yakin ia akan tumbuh. Mungkin bukan ke atas, tapi ke dalam. Ke tempat yang tak semua orang bisa capai.”

Kata-kata itu seperti tangan yang memelukku dari balik waktu. Aku tak lagi merasa kecil. Aku hanya sedang tumbuh dalam cara yang berbeda.

Sejak itu, aku menulis lebih banyak. Tentang kehidupan dari sudut pandang seorang anak yang tak bisa lari. Tentang bonsai yang tetap hijau di musim kering. Tentang Ibu yang hidup dalam setiap tetes air yang kusiramkan ke pot kecil di jendela.

Tulisan-tulisanku mulai dibaca orang. Mereka bilang kisahku menyentuh, menginspirasi. Padahal aku hanya menuliskan apa yang kulihat setiap hari dari jendela: cahaya pagi, daun yang berguguran, dan ketabahan dalam bentuk paling sederhana.

Suatu sore, seorang anak perempuan datang ke rumah. Ia membawa bonsai mungil dalam pot kecil.

“Kak Ardi, boleh ajarin aku nulis puisi tentang ‘Ibu’?” tanyanya. “Aku juga kehilangan Ibu bulan lalu.”

Aku tersenyum, mengambilkan kertas dan pulpen. Di ruang yang dulu dipenuhi isak, kini tumbuh sesuatu yang baru “harapan”.

Bonsai di jendela itu tetap hidup sampai sekarang. Daunnya makin lebat. Akar-akarnya makin kuat. Ia tidak besar. Tidak pula tinggi. Tapi ia tumbuh. Dan aku pun begitu.

Baca Juga: Kopi Jurnalis/Bagian 6/

Editor: Aqlia Matslina Fattah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles