
Penulis: M Haikal Nainggolan
Akhirnya, setelah sekian lama, aku berjumpa dengannya lagi. Si pintar yang ambisius sekaligus sahabatku, Ismail. Ia bertubuh tinggi, berkulit cokelat, dan memiliki paras khas orang Aceh, padahal dia orang Batak. Wajar saja, ibunya berasal dari Aceh, sedangkan ayahnya orang Batak.
“Apa kabar, Bang?” katanya sambil sigap memelukku, dan aku sambut pelukannya dengan hangat.
Baca Juga: Kopi Jurnalis/Bagian 6/
“Alhamdulillah Mael, baik. Mael sehat kan?” tanya ku balik pada Ismail.
Wajar aku memanggilnya Mael. Namanya Ismail Siregar. Ia memanggilku abang karena aku lebih tua dua tingkat darinya. Aku masih ingat betul, ketika dia masih SMP, ia sudah lancar berbahasa Inggris dan bahasa Arab. Dalam pidato, ia juga jagoan di ekskul tempat kami dulu bertemu. Saat SMA, aku bersekolah di Al Washliyah, sementara dia menempuh pendidikan di pondok pesantren. Kini, setelah tiga tahun tak bertemu, ia memberanikan diri datang ke rumahku.
Sebagai sahabat, tentu aku sangat rindu, mungkin dia juga. Aku tahu betul bagaimana Ismail. Ia tidak mungkin datang kecuali untuk hal yang penting.
“Bang, sudah lama tidak bertemu,” ujarnya sambil melepaskan pelukannya dariku.
“Harusnya kamu datang lebih sering, Mael,” balasku sambil menarik telinganya.
Aku tidak akan lupa bagaimana dulu aku mengajarinya beberapa pelajaran agar ia lebih maju daripada teman seangkatannya. Setiap kali dia salah, aku menarik telinganya. Telinganya lembut. Saat SMP dulu, tubuhnya gendut tapi manis, sehingga aku sering menjahilinya.
“Ahhh! Sakit, Bang Jali!” protesnya sambil memegangi telinganya dan memonyongkan bibir seolah mau menangis.
Baru saja dia menyebut namaku. Ghazali Chaniago, itulah nama lengkapku, tetapi orang-orang memanggilku Jali, termasuk orang tuaku di rumah.
“Eh, tidak usah menangis, Mael! Kamu kira kamu masih anak SMP dulu, ha? Badan sudah besar seperti badak, ditarik telinganya malah mau menangis,” ujarku sambil tertawa.
Aku memang tidak habis pikir dengan Ismail. Kalau kalian berteman dengannya, mungkin kalian yang akan pusing. Tapi kesabaranlah yang membuatku bertahan dalam persahabatan ini. Karena, di balik tingkah lucunya, ada sisi lembut dan potensi intelektual yang luar biasa dari si kutu buku itu.
Kami pun tertawa setelah ia pura-pura menangis. Mungkin niatnya hanya ingin mengembalikan nostalgia masa sekolah dulu, saat tingkahnya masih sama seperti sekarang. Aku pun menarik telinganya sekali lagi, sekadar ikut bernostalgia.
“Kenapa, El, tiba-tiba datang? Tidak biasanya kamu datang ke abang,” tanyaku.
“Aku cuma mau diskusi, sekalian silaturahmi sama abang songketku,” jawabnya santai.
“Oh iya, bagaimana perkuliahanmu? Baik-baik saja, kan? Abang bisa bantu joki tugas kalau perlu. Gratis, mumpung abang sudah lulus kuliah. Sarjana Hukum, nih, Dek,” ujarku menggoda.
“Ah, cemen kali joki-joki. Mael ini, Bang, bukan kaleng-kaleng,” balasnya dengan bangga.
Aku tertawa kecil. “Aduh, adik abang satu ini. Abang jadi ingat dulu kamu ambisius sekali ingin ke Jepang. Abang tidak akan lupa bagaimana abang bantu kamu cari kenalan ke mana-mana, bahkan mencarikan pelatihan N-1 karena kamu bilang ingin kuliah di Jepang.”
Sejenak Ismail terdiam. Mungkin kalian berpikir pembicaraan ini sensitif, tapi dia selalu nyaman berbagi cerita denganku. Bahkan, akulah orang pertama yang ia beri tahu ketika ibunya tidak mengizinkannya berangkat ke Jepang.
“Dengar abang bicara seperti itu, aku jadi ingat berita di media sosial,” katanya pelan.
Aku sedikit lega. Lagi-lagi, dugaanku benar. Dia tidak tersinggung. Aku tahu, tidak ada asap tanpa api, jadi aku bersiap mendengarkan lebih lanjut.
“Aku baca berita tentang orang-orang yang mengaku dari kelompok persilatan. Mereka membuat warga resah bahkan masuk berita harian Jepang karena bertindak semaunya. Ada yang mencuri dan membakar pabrik. Akibatnya, Indonesia terancam masuk daftar hitam. Apakah mereka berpikir sebelum bertindak? Apakah mereka sadar betapa beruntungnya bisa ke Jepang sambil melihat bunga sakura berjatuhan, menghirup udara bersih, dan berbaur dengan keramahan penduduk lokal di sana?” katanya dengan nada kecewa.
Aku terdiam. Ternyata benar, keberuntungan setiap orang berbeda-beda. Namun, tidak semua mampu memanfaatkannya dengan baik.
“Ternyata kamu masih punya hati di Jepang, ya,” ujarku. “Aku mengerti betapa tidak rasionalnya mereka. Mungkin waktu kamu tidak diizinkan, kamu memilih patuh dan tetap kuliah di sini, menyimpan Jepang sebagai impian liburan. Sudah jelas, kamu belum bisa benar-benar move-on, ya?”
Ismail tersenyum pahit. “Jujur, aku muak dengan mereka yang tidak tahu bersyukur. Apakah mereka tidak memikirkan betapa banyak orang yang sudah berkorban? Sakit, Bang. Dulu aku rela tidak jajan demi bisa les, tapi akhirnya tidak diberi izin.”
“Tapi kamu bahagia, kan, sekarang?” tanyaku pelan.
“Setidaknya aku bisa menikmati kemenangan kecil dalam hidupku saat ini,” jawabnya tenang.
Mensyukuri nikmat Allah memang bukan untuk semua orang. Banyak yang menganggap hal kecil sebagai sesuatu yang biasa, padahal itu anugerah besar bagi orang lain, seperti Ismail dan anomali silat yang ia ceritakan tadi. Mungkin kelompok silat itu hanya ingin “menyebarkan ajaran” tanpa berpikir dampaknya, hingga meresahkan warga Jepang, bahkan warga negara Indonesia di sana.
Sementara Ismail, ia justru ingin belajar, memahami budaya, dan berkontribusi untuk negeri. Namun, restu tak berpihak kepadanya. Pada akhirnya, semesta memang tidak suka diterka.
Baca Juga: Kopi Jurnalis/Bagian 5/
Editor: Aqlia Matslina Fattah

