
Penulis: Siti Zahra
Bagi sebagian orang, masa SMA adalah masa yang paling indah. Di sana, seseorang dapat mendapatkan pengalaman baru, teman baru, mencoba hal baru, dan kenangan yang mungkin hanya dapat dirasakan di bangku SMA. Namun, bagaimana kisah seseorang setelah lulus dari SMA? Alifa Centauri, seorang remaja belia yang suka membaca buku tapi tidak suka menulis, seorang introvert yang tidak suka keramaian, dan remaja yang dikenal ceria tapi sering menangis di tengah kesepian.
Memasuki bulan Februari, adalah bulan yang berat bagi Alifa, di mana ia harus menentukan tujuan hidup selanjutnya. Alifa pun mendaftarkan dirinya di berbagai universitas melalui beberapa jalur, mulai dari jalur undangan, jalur ujian, jalur prestasi, hingga jalur mandiri. Alifa, dikenal dengan segudang prestasi di sekolahnya, selalu diyakini akan lulus di mana pun dia mendaftar.
“Jangankan mendaftar Psikologi di Universitas Jakarta, kamu bisa mendaftar Kedokteran di Universitas Indonesia, Al. Pasti lolos, karena kamu pintar dan memiliki banyak prestasi. Jadi, tidak perlu takut atau khawatir,” ucap Dito, teman sekelas Alifa.
“Hehe iya, to. Makasih, ya, bantu doain yang terbaik aja,” jawab Alifa singkat.
Baca Juga: Titipan-Nya /1/
Pada 29 Maret 2022, Alifa mengalami kegagalan dalam melanjutkan jenjang kuliahnya. Dia tidak lulus pada jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), salah satu jalur undangan untuk masuk perguruan tinggi negeri. Meski merasa sedih dan kecewa, Alifa tidak menyerah dan terus berusaha dengan mencoba mendaftar di beberapa universitas lagi. Namun, hasilnya selalu di luar ekspektasi, karena Alifa terus ditolak. Setiap kali melihat laman pengumuman kelulusan perguruan tinggi, Alifa selalu menerima ucapan “Kamu dinyatakan tidak diterima, jangan putus asa dan tetap semangat”.
Alifa merasa kecewa pada dirinya sendiri. Apakah pantas baginya untuk diterima di universitas negeri di kota kelahirannya? Bahkan tidak hanya satu, tujuh universitas menolak Alifa dengan tegas. Dalam situasi seperti ini, Alifa sangat membutuhkan dukungan dan semangat dari orang-orang di sekitarnya. Namun, hasilnya nihil, semua orang meninggalkannya. Keluarganya hanya menuntut hasil, sementara teman-temannya juga masih menentukan tujuan hidup mereka.
Dalam keheningan malam, Alifa berada dalam kamar dan merasa hampir putus asa. Tidak tahu lagi harus berbuat apa dan pada siapa ia bisa mengadu. Kemudian, ia melihat sebuah pisau silet tergeletak di dekat jendela kamarnya dan mengambilnya dengan hati-hati.
“Kenapa bisa ada pisau silet di sini, ya?” pikirnya.
Melihat silet tersebut, Alifa diingatkan akan suatu hal.
“Selfharm!” ucapnya pelan.
Sejenak Alifa diam memperhatikan sekitar dan terus menatap ke arah pisau silet yang dipegangnya.
“Katanya, sih, selfharm bisa menghilangkan rasa sakit yang kita rasakan, benar gak, ya? Tapi aku takut, apa aku coba dulu aja, ya?”
Setelah berpikir panjang, Alifa dengan hati-hati menggoreskan silet itu pada tangannya, tepat di tangan kirinya. Pada goresan pertama, tidak ada rasa sakit, tetapi semakin banyak goresan, semakin panik Alifa karena darah mulai mengalir. Ia melemparkan silet yang dipegang dan segera mengambil tisu untuk membersihkan darah. Alifa merasakan sakit dan perih. Ia merasa menyesal karena merusak dirinya sendiri dan menyadari bahwa itu bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalahnya.
Astaghfirullah!
Baca Juga: Titipan-Nya /2/
Editor: Kauria Rawia

