Centauri, Bintang yang Bersinar /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet pinterest.com)

Penulis: Siti Zahra

Astagfirullah! Alifa lupa kalau dia belum melaksanakan salat Isya. Alifa langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil wudu. Ia menyesali apa yang sudah dilakukannya. 

“Ya Allah, hamba hanyalah manusia lemah yang mudah lelah, manusia yang sering khilaf, manusia yang penuh dosa, maafkan segala dosa hamba ya, Allah. Hamba tidak tahu harus mengadu kepada siapa, hamba tidak tahu harus ke mana lagi, apa tujuan dan apa yang harus hamba lakukan lagi, ya Allah. Tidak ada yang paham apa yang hamba rasakan, tidak ada yang mengerti rasa sakit dan tekanan hamba. Hamba mohon petunjuk-Mu, hamba percaya skenario-Mu yang terbaik. Besok adalah harapan terakhir, jika itu yang terbaik maka luluskanlah. Jika tidak, maka tunjukkanlah mana yang terbaik untuk hamba, aamiin,” Alifa memanjatkan doa dengan penuh penyesalan. 

Setelah ibadah yang ia lakukan, gadis itu langsung beranjak kembali ke tempat tidurnya dan memilih untuk beristirahat. Malam yang penuh dengan penyesalan.

Tak terasa, matahari mulai tampak dari jendela kamar Alifa, ia mengecek benda pipih yang ada di sebelahnya. Layar menunjukkan deretan beberapa pesan masuk, tanpa pikir panjang Alifa membuka beberapa pesan tersebut. Tiba-tiba teleponnya berdering, panggilan dari Dania, teman Alifa.

Baca Juga: Centauri, Bintang yang Bersinar /1/

“Halo, halo? Alifa, coba cek pengumuman beasiswa yang kemarin kamu daftar, buruan!” ucap Dania dengan nada panik seperti orang yang diburu-buru.

Alifa sedikit bingung dengan temannya yang sudah mengganggu paginya hari ini. “Astaga masih pagi, Dania. Kenapa, sih?” jawabnya malas.

“Udah cepetan buka, Alifa,” paksa Dania.

Meski sedikit malas, gadis itu tetap membuka pengumuman yang dikatakan Dania. Alifa terdiam mematung, tak terasa pipinya sudah basah.

“Halo, Al? Kamu masih hidup ‘kan? Al, sudah dibuka belum?” tanya Dania memecahkan keheningan.

“Eh iya, Dan, masih, kok,” jawab Alifa sedikit canggung.

“Al, selamat ya, akhirnya kamu lulus beasiswa di UIN itu, dibiayai 100 persen dan di jurusan komunikasi, sesuai yang kamu mau, Al, bukan kemauan orang lain. Bangga banget deh sama kamu. Akhirnya ya, bisa dapatin apa yang kamu mau, gak sia-sia perjuangan kamu, gagalnya, sakitnya, akhirnya bisa berbuah manis juga,” ungkap Dania ikut bahagia.

“Dan, makasih banyak, ya. Makasih udah selalu ada buat aku, makasih selalu dengarin keluh kesahku, aku sempat mikir kalau aku udah gak punya siapa-siapa. Ternyata kamu buktikan kalau aku gak benar-benar sendiri, makasih udah nyadarin aku kalau aku dikelilingi oleh orang-orang baik dan peduli sama aku,” kata Alifa.

“Iya, Al. Aku bangga banget deh kenal kamu, dari kamu aku banyak belajar, gimana bisa bangkit dari kegagalan, gak mudah nyerah, dan selalu berusaha buktiin ke orang-orang kalau kamu bisa. Bangga banget! Tetap jadi dirimu sendiri ya, Al. Semoga bisa jadi orang sukses dan banggain keluarga. Ini masih awal, bukan akhir dari segalanya, ke depannya bakal banyak perjuangan dan tantangan. Tetap tenang dan ikhlas, serta rendah hati juga ya, Al,” pesan Dania.

“Iya, Dan. Makasih banyak, ya. Kamu juga semangat, ayo kita ketemu, ntar aku traktir makan, deh,” katanya.

“Oke. Diitunggu, ya. Aku mau lanjut tidur nih. Assalamu’alaikum,” tutup Dania.

“Wa’alaikumussalam, Dan,” jawab Alifa sambil memutuskan sambungan panggilannya.

Setelah telepon dari Dania, Alifa membuka jendela kamarnya, menatap langit dari balkon sambil berucap lirih. “Tuhan…”

Baca Juga: Ibu Tidak Pulang /1/

Editor: Syahda Khairunnisa

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles