Haifa: Dekati Allah, Ia Dekatkan Kau Dengannya

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet www.bukukita.com)
  • Judul buku          : Haifa–Cinta Dalam Diam
  • Jenis buku          : Romantis, Religi
  • Penulis                : Ariska Khurnia
  • Tahun terbit        : 2019
  • Penerbit              : Aksara Plus
  • Cetakan ke          : 1
  • Jumlah halaman : 303 halaman
  • ISBN                   : 978-602-5884-96-2
  • Harga                  : Rp82.000,00

Peresensi: Aghna Zainina

“Meskipun tidak setiap hari, tetaplah ungkapkan cinta padaku agar aku mengetahui isi hatimu. Hingga jika rasamu mulai pudar, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Yakni, membuatmu jatuh cinta kembali seperti saat pertama kali jantungmu berdebar kala berada di dekatku.”

Haifa (halaman 289)

“Haifa” merupakan karya dari Ariska Khurnia yang dicetak pada 2019 oleh Aksara plus. Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Haifa Saqeenarava yang begitu taat pada agama. Semua hidupnya berjalan bagai arus sungai yang tenang karena ia bersemayam di pondok pesantren serta memiliki keluarga yang paham akidah serta manhaj yang benar. 

Dalam novel ini, gadis muslim yang kerap di sapa Haifa tersebut lahir di Semarang, 12 Agustus 1999. Kini, ia tengah menempuh kuliah di semester empat, Program Studi (Prodi) Ilmu Administrasi dan  Ilmu Informasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Haifa tak mengenal dunia luar, sebab sejak sekolah menengah pertama hingga menengah atas ia sudah mengenyam kehidupan pondok pesantren.

Baca Juga: Kado yang Baik, Dari Sebuah Buku Berjudul “Kado Terbaik”

Akbar Arvinio Rajendra atau Arvin, lahir di Jakarta, 20 November 1998. Saat ini tengah menempuh semester empat Program Studi Administrasi Bisnis di salah satu perguruan tinggi yang sama dengan Haifa. Mereka saling mengenal, hanya saja tidak begitu akrab.

Haifa dengan pakaiannya yang muslimah dan cadar yang bertengger di wajahnya, selalu menjaga dirinya agar terhindar dari kaum lelaki, apalagi jika sudah mendekati zina. Begitulah yang dilakukan oleh Haifa setiap bertemu dengan Arvin, ia hanya bisa menahan dalam hati setiap bertatapan muka yang menjadikan hatinya selalu berdebar.

Haifa juga selalu mengikuti kajian agar selalu ingat pada Yang Maha Kuasa dan berusaha selalu berada di dekat-Nya. Haifa menggenggam erat petuah orang tuanya untuk tidak hanya membaca Alquran, tetapi juga mengamalkannya. Ia juga diarahkan untuk mempelajari tauhid, fikih, dan pegangan lainnya yang bisa mengantarkannya ke surga.

Arvinio sebagai anak pertama akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya, hal tersebut membuat ia kesal sendiri. Akan tetapi, ia berusaha untuk tetap menerima dengan salat istikharah, ta’aruf, bahkan ke tahap nazar. Perjodohan yang pertama gagal karena Arvin tidak ada perasaan untuk menikah dengan perempuan itu. Sampai Arvin bermimpi di mana ada seorang wanita bernama Haifa yang membuat ia mulai penasaran.

Haifa pun selalu disarankan oleh Ummu Salamah untuk segera menikah, yang akhirnya memberi pesan pada Haifa bahwa ada seorang lelaki yang ingin bertaaruf. Ia kebingungan, Ummu Salamah mengirimkan biodata lelaki tersebut pada Haifa. Jelas ia langsung melemah melihatnya karena terkejut lelaki yang ingin bertaaruf adalah orang yang selama ini ia sukai dalam diam.

Haifa gugup luar biasa menunggu kedatangan ibunda Arvin untuk berkunjung ke tempatnya dan berangkat ke kajian. Akhirnya Haifa pulang ke Semarang untuk bertemu orang tuanya yang disusul Arvin di hari esoknya untuk meminta izin menikah. Tiga bulan kemudian, Haifa pun menjadi teman hidup Arvin dan tak lama dikaruniai seorang anak yang menambah kebahagiaan keluarga mereka. 

Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakan, “Mungkinkah kita mendapatkan pernikahan sakinah, mawaddah, war-rahmah dunia akhirat jika dimulainya dengan salah arah? Perlu diketahui juga, happy ending itu bukanlah menikah, melainkan masuk surga-Nya.”

Cerita novel kali ini memiliki beragam kata yang memotivasi, ditambah lagi dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang bermanfaat dalam kehidupan sehingga kita bisa mengamalkannya. Bahasanya sopan dan mudah dimengerti, terdapat gambar-gambar di sudut kertas membuat yang membacanya tidak terlalu membosankan. Dibalik beberapa hal tersebut, cerita ini memiliki alur yang kurang “greget” dan quotes yang berada di awal.

Baca Juga: Menjelajahi Indonesia dengan Buku “Arah Langkah”

Editor: Rika Wulandari

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles