Izinkan Aku Mengunjungimu Kembali

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://pin.it/1eGZ4bg4S)

Penulis: Zahratus Saidah

Pagi itu hujan turun begitu pelan. Udara dingin memeluk tubuhku, tetapi anehnya tak membuatku ingin mencari tempat berteduh. Orang-orang justru berhamburan keluar. Mereka saling memanggil, tersenyum, bahkan ada yang membiarkan wajahnya basah oleh hujan. Belakangan aku tahu, bagi mereka hujan pada Jumat pagi adalah keberkahan yang selalu dinantikan.

Tak lama kemudian, panggilan itu berkumandang.

Seolah telah membuat janji, semua orang bergerak menuju arah yang sama. Langkah mereka cepat, wajah mereka tenang. Tidak ada yang saling mendahului dengan amarah, hanya ada keinginan untuk tiba lebih dulu. Aku terpaku memandangi semuanya.

Baca Juga: Suara Jeritan Misterius di Balik Dinding Asrama Tua (Bagian 2)

Pagi itu adalah pagi pertamaku di kota itu.

Aku memang telah tiba semalam, tetapi hanya sempat melihat sekeliling sebelum akhirnya tertidur karena lelah. Baru keesokan harinya aku benar-benar melihat kota ini membuka dirinya. Saat itu usiaku baru enam belas tahun. Terlalu muda untuk memahami mengapa sebuah tempat bisa terasa begitu akrab meski baru saja kukenal.

Hari-hari berikutnya berjalan tanpa terasa. Anehnya, aku tidak pernah bosan menghabiskan waktu di pelataran rumah ibadah itu. Aku bisa duduk berjam-jam hanya untuk melihat orang-orang datang dan pergi. Ada yang menangis, ada yang berdoa, ada pula yang sekadar duduk menundukkan kepala. Di tengah ribuan manusia, tempat itu justru terasa begitu damai. Sulit menjelaskan bagaimana sebuah keramaian bisa menghadirkan ketenangan sedalam itu.

Sesekali aku berjalan ke toko-toko kecil di sekitarnya. Aku senang menyapa para penjual dan bertanya harga barang-barang yang menarik perhatianku. Bukan karena ingin membeli. Aku memang tidak membawa cukup uang. Ibuku masih menganggapku anak kecil yang belum pandai mengelola uang sendiri. Jadi, aku hanya mengingat harganya, lalu diam-diam berharap ibu bersedia kembali jika ada sesuatu yang benar-benar kuinginkan.

Kami juga sempat mengunjungi beberapa tempat. Ada hamparan pepohonan yang berbuah lebat, bangunan yang dipenuhi lembar-lembar suci, hingga sebuah bukit yang menyimpan banyak cerita. Entah mengapa, bukit itu menjadi tempat favoritku. Tidak ada yang benar-benar istimewa di sana. Namun, setiap kali memandangnya, aku merasa sedang melihat sesuatu yang tak mampu dijelaskan oleh mata.

Suatu siang aku menemukan semangkuk makanan hangat di sebuah warung sederhana. Bentuknya mengingatkanku pada mi sop di rumah, tetapi rasanya jauh berbeda. Sampai hari ini, setiap kali mengingat perjalanan itu, semangkuk makanan tersebut selalu ikut hadir di dalam ingatanku.

Hari terakhir di kota itu akhirnya datang.

Aku menghabiskan waktu menemani ibu memilih oleh-oleh. Aku memang senang melakukannya. Memilih barang, membandingkan harga, lalu membayangkan wajah orang yang akan menerimanya nanti selalu terasa menyenangkan.

Namun, hari itu berbeda.

Di sela-sela langkah kami, mataku berkali-kali menoleh ke belakang. Ada bagian dari diriku yang belum siap meninggalkan kota ini. Rasanya seperti berpamitan kepada seseorang yang baru kukenal, tetapi sudah begitu berarti.

Perjalanan kami berlanjut ke kota berikutnya.

Suasananya sangat berbeda. Orang-orang tampak lebih sibuk, langkah mereka lebih cepat, dan jalan-jalannya terasa lebih keras. Aku tidak membencinya. Hanya saja, kota sebelumnya telah membuatku memiliki cara baru dalam memaknai ketenangan.

Hari-hariku di sana dipenuhi berbagai kegiatan. Hampir tidak ada waktu untuk berjalan-jalan. Hingga suatu malam, ketika semua orang telah beristirahat, rasa penasaranku kembali muncul. Diam-diam aku keluar menyusuri jalanan di sekitar penginapan. Aku tidak berani berjalan terlalu jauh.

Di sebuah minimarket kecil aku berhenti. Pandanganku tertuju pada satu gelas makanan instan. Lucu sekali. Isinya pasti sama seperti yang biasa kumakan di rumah. Yang membuatku tertarik justru kemasannya yang dipenuhi huruf-huruf negeri ini. Tanpa berpikir panjang, langsung kubeli.

Seorang kakak dalam rombongan melihatku lalu tertawa.

“Jauh-jauh ke sini, belinya begituan?”

Aku ikut tertawa.

Memang terdengar lucu. Tetapi saat itu aku merasa sedang membawa pulang sesuatu yang tidak bisa kutemukan di rumah.

Malam terakhir menyisakan satu keinginan yang belum sempat terpenuhi. Aku ingin mendaki sebuah bukit yang sejak awal membuatku penasaran. Waktunya hampir habis, tetapi aku belum rela menyerah.

Akhirnya, ditemani seorang kakak dalam rombongan, aku berangkat.

Pendakiannya tidak mudah. Beberapa kali aku ingin berhenti. Kakiku mulai lelah, napasku terasa berat. Namun, setiap kali aku melambat, selalu ada suara yang memaksaku untuk terus berjalan.

Ketika akhirnya tiba di puncak, aku hanya mampu diam.

Angin berembus pelan menyentuh pipi. Selama beberapa hari berada di negeri ini, aku telah berkali-kali merasakan ketenangan. Namun, di sini rasanya sedikit berbeda. Jauh lebih utuh. Seperti ada ruang kosong di dalam hati yang perlahan dipenuhi oleh sesuatu yang tak kasatmata.

Langit malam terasa begitu dekat. Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan. Untuk beberapa saat aku lupa bahwa esok pagi perjalanan ini akan berakhir.

Sepuluh hari itu kini tinggal kenangan.

Kini usiaku tak lagi enam belas tahun. Banyak tempat telah kudatangi, banyak perjalanan telah kulalui. Namun, setiap kali hujan turun di pagi hari, aku selalu teringat pada pagi pertamaku di kota itu. Pada udara dinginnya, pada ribuan langkah yang bergegas memenuhi panggilan-Nya, pada ketenangan yang tak pernah berhasil kutemukan di tempat lain.

Jika suatu hari nanti aku diberi kesempatan untuk kembali, aku tidak ingin meminta banyak hal.

Aku hanya ingin berdiri di tempat yang sama, merasakan udara yang sama, lalu membiarkan hatiku mengingat …

Bahwa sebagian dari diriku masih tinggal di sana.

Baca Juga: Biliuner Cilik (Bagian 6)

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles