Jejak Tiga Wajah Roehana Koeddoes dari Koto Gadang

- Advertisement - Pfrasa_F

Penulis: Afriana Alawiah. AR

Di sebuah sudut Koto Gadang pada awal abad ke-20, suara denting alat tenun bukan sekadar ritme kerja harian, melainkan simfoni perlawanan yang halus namun tajam. Di sana, seorang perempuan berdiri tegak melawan arus zaman yang membelenggu kaumnya dalam jeruji buta aksara dan adat yang kaku. Ia adalah Roehana Koeddoes, sosok yang kini kita rayakan bukan sekadar sebagai nama di buku sejarah, melainkan sebagai “ibu” yang melahirkan jurnalisme perempuan di tanah air. Dalam rangka Hari Pers Nasional 2026, memori kolektif saya kembali disegarkan melalui diskusi mendalam yang digelar IDN Times bersama Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan Yayasan Amai Setia bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes”. Diskusi yang disiarkan melalui kanal YouTube IDN Times tersebut tidak hanya membedah teks sejarah, tetapi juga menghadirkan ruh perjuangan Roehana ke ruang digital masa kini.

Menelusuri jejak Roehana berarti membedah tiga dimensi kehidupan, yaitu sebagai pendidik, penggerak ekonomi, dan jurnalis. Sebagaimana ditekankan oleh jurnalis senior Najwa Shihab dalam diskusi tersebut, Roehana adalah sosok yang melampaui zamannya. Najwa mengungkapkan perspektif tajam bahwa Roehana Koeddoes bukan hanya sekadar mengajar, melainkan memberikan “senjata” berupa pengetahuan agar perempuan memiliki posisi tawar yang kuat di masyarakat. Baginya, literasi adalah fondasi utama dari segala bentuk emansipasi yang ingin dicapai. Tanpa kemampuan membaca dunia, perempuan akan selamanya menjadi objek dalam narasi orang lain.

Baca Juga: Suara Generasi Muda: Tarian dan Bahasa Mandailing yang Tak Padam

Wajah pertama Roehana muncul sebagai seorang pendidik visioner yang mendobrak tradisi pingitan. Pada tahun 1911, ia mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS), sebuah sekolah yang menjadi oase bagi perempuan Minangkabau. Di sana, pendidikan tidak hanya soal mengeja huruf, tetapi juga soal harga diri. Salah satu ungkapan Roehana yang paling melegenda dan menjadi napas perjuangannya adalah sebagai berikut: “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, dan taat beragama, yang kesemuanya hanya dapat dipenuhi melalui pendidikan.”

Ungkapan tersebut menjadi dasar bagi wajah keduanya, yaitu sebagai penggerak ekonomi. Roehana memahami bahwa kemandirian berpikir harus dibarengi dengan kemandirian finansial. Melalui Kerajinan Amai Setia (KAS), ia mengajarkan perempuan untuk menguasai keterampilan tangan yang memiliki nilai jual tinggi, seperti sulaman dan tenun, bahkan hingga menembus pasar Eropa. Ia membuktikan bahwa dari ujung jari perempuan dapat lahir kekuatan ekonomi yang mampu menopang kedaulatan keluarga. Ia menjahit asa bukan dengan benang sutra semata, melainkan dengan harga diri yang ia tanamkan pada setiap muridnya.

Wajah ketiga Roehana Koeddoes adalah sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Di tengah dominasi suara laki-laki dalam pers kolonial, ia mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada tahun 1912. Nama “Soenting” diambil bukan tanpa makna. Ia ingin perempuan menjadi hiasan yang cerdas bagi bangsanya, bukan sekadar pajangan yang diam. Lewat pena, ia mengubah keluhan menjadi tuntutan dan bisikan menjadi teriakan perubahan. Dalam diskusi IDN Times, Najwa Shihab menggarisbawahi bahwa keberanian Roehana mendirikan media sendiri merupakan bentuk perlawanan struktural yang sangat maju. Najwa berpendapat bahwa Roehana adalah teladan nyata bahwa jurnalisme harus memiliki keberpihakan, terutama kepada mereka yang suaranya sering kali diredam oleh dinding-dinding tradisi dan kekuasaan.

Menonton kembali paparan para narasumber di kanal YouTube IDN Times memberikan kesadaran baru bahwa semangat Roehana tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan Hari Pers Nasional. Relevansinya pada tahun 2026 terasa begitu nyata di tengah gempuran informasi digital yang sering kali masih menepikan isu-isu perempuan. Roehana telah mengajarkan bahwa media adalah alat perjuangan yang ampuh untuk membentuk opini publik dan menggerakkan massa. Jika dahulu ia bergelut dengan tinta dan mesin cetak manual, maka hari ini semangatnya harus diteruskan melalui jemari yang mengetik kebenaran di media sosial dan berbagai platform digital.

Kini, lebih dari seabad sejak perjuangannya dimulai, tiga wajah Roehana Koeddoes tetap bersinar sebagai kompas bagi kemajuan perempuan Indonesia. Ia adalah pendidik yang mencerahkan, penggerak yang memberdayakan, dan jurnalis yang memerdekakan pikiran. Warisannya bukan sekadar bangunan fisik atau lembaran kertas kusam, melainkan keberanian untuk berkata, “Aku ada, aku berpikir, dan aku bersuara.” Pada Hari Pers Nasional 2026 ini, kita kembali menatap wajahnya dan mencari pantulan keberanian itu dalam diri masing-masing untuk terus merawat nalar dan nurani bangsa.

Baca Juga: Menelusuri Jalanan Panjang, Catatan Nurani Mahasiswa di Aceh Tamiang
Editor: Ummy Syafitri

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles