Suara Generasi Muda: Tarian dan Bahasa Mandailing yang Tak Padam

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://www.merdeka.com/)

Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak anak muda Mandailing tumbuh dengan akses tak terbatas ke dunia digital. Media sosial, musik internasional, dan tren global sering kali membuat mereka “terputus” dari akar budaya sendiri. Namun, di sisi lain, masih ada generasi muda yang berupaya menjaga warisan leluhur tetap hidup melalui tarian dan bahasa Mandailing.

“Kalau kita malu akan budaya dan bahasa kita, siapa yang akan mengenalkannya ke anak cucu kita,” ujar seorang tokoh budaya Mandailing, menekankan pentingnya bangga terhadap jati diri sendiri.

Baca Juga: Menelusuri Jalanan Panjang, Catatan Nurani Mahasiswa di Aceh Tamiang

Jarak Budaya Anak Muda Mandailing

Menurut pengamat budaya, rasa jauh dari budaya sendiri muncul, karena kurangnya kesadaran dan pendidikan tentang kecintaan terhadap budaya sejak dini. Globalisasi dan modernisasi kerap membuat anak muda merasa malu menggunakan bahasa daerah atau menampilkan budaya tradisional. “Perpindahan dari desa ke kota juga membuat mereka cenderung terkontaminasi budaya luar,” tambahnya.

Meski begitu, kondisi penggunaan bahasa Mandailing di kalangan generasi muda tetap baik. Banyak anak muda di perkotaan maupun desa masih memakainya sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Mandailing, kata narasumber, adalah identitas yang perlu dibanggakan. “11 dari 718 bahasa daerah di Indonesia sudah terancam punah. Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi jati diri dan kebanggaan suatu daerah,” ujarnya.

Strategi Mempertahankan Bahasa

Beberapa langkah telah dilakukan untuk mengajak anak muda kembali berbahasa Mandailing. Dari pendidikan di rumah dan sekolah, hingga perlombaan, festival, podcast, hingga konten media sosial, semua bertujuan menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu. “Berkomunikasi menggunakan bahasa Mandailing sehari-hari, mengikuti lomba, atau menulis siniar dalam bahasa daerah adalah cara-cara sederhana yang efektif,” ujar narasumber.

Tantangan terbesar, menurutnya, adalah stigma dan pandangan negatif terhadap bahasa daerah. Banyak anak muda menganggapnya kuno atau kolot. Globalisasi juga membuat bahasa Indonesia dan bahasa asing lebih diutamakan. Namun, pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: bangga berbahasa Mandailing adalah tanggung jawab setiap generasi.

Tarian Mandailing: Dari Tradisi ke Era Digital

Tak hanya bahasa, tarian Mandailing juga menjadi medium pelestarian budaya. Ivan Kurniawan Siregar, S.E., Founder Sidimpuan Idol Group (Sanggar Tari), menjelaskan bahwa generasi muda tidak semua tertarik pada tari tradisional, tetapi mereka terus diperkenalkan pada tarian Mandailing melalui sanggar dan lomba.

“Misalnya, tarian NNB Naposo Nauli Bulung, walau gerakannya sederhana, tetap memiliki nilai ritual, penghormatan, dan doa,” ujarnya. Tarian ini mencerminkan adat istiadat, rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur. Agar lebih menarik bagi anak muda, kostum dan gerakan diadaptasi, tetap menjaga gerakan tortor (gerakan tangan khas Mandailing) tetapi dengan sentuhan kontemporer.

Mengemas Budaya untuk Generasi Muda

Ivan menekankan pentingnya role model dan media digital. “Video tutorial di TikTok atau Instagram Reels membantu generasi muda melihat dan mencoba tarian Mandailing,” jelasnya. Pentas di sekolah, kampus, dan festival budaya menjadi ruang penting agar anak muda merasakan bangganya menjadi bagian dari tradisi.

Nilai budaya yang paling penting dalam tarian Mandailing. Menurut Ivan, budaya tersebut adalah penghormatan, doa, ungkapan syukur, serta ritual. Dengan memahami makna setiap gerakan, generasi muda tidak hanya menari, tapi juga menghargai identitasnya.

Pesan untuk Generasi Mandailing

Kedua narasumber sepakat: kunci mempertahankan budaya adalah bangga dan mempraktikkan budaya sendiri. Mulai dari percakapan sehari-hari, belajar satu atau dua tarian, hingga mendukung kegiatan budaya lokal, langkah kecil itu akan menjaga budaya tetap hidup.

Masa depan pelestarian budaya Mandailing, baik bahasa maupun tarian, diharapkan lebih terdokumentasi, diperkenalkan melalui media sosial, dan diajarkan di ruang pendidikan. Festival budaya yang lebih besar dan rutin juga diharapkan menjadi ajang pertemuan antargenerasi.

“Budaya Mandailing bisa dikenal dunia, tapi semua dimulai dari kita sendiri, generasi muda Mandailing,” tutup mereka.

Baca Juga: Di Bawah Terik, di Antara Hidup: Sepenggal Kisah Ibu Lasmianti

Reporter: Riska Nurasnida Siregar

Editor: Muhammad Daffa

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles