
- Judul : Jodoh 3 Bujang
- Sutradara : Arfan Sabran
- Genre : Drama Komedi
- Mulai Tayang : 26 juni 2025
- Produser : Starvision, Rhaya Flicks
- Durasi : 107 menit
Peresensi: Mahisa Agni
Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Makassar pada tahun 2019. Jodoh 3 Bujang mengisahkan tiga bersaudara: Fadly (Jourdy Pranata), Kifly (Christoffer Nelwan), dan Ahmad (Rey Bong). Ketiganya dituntut menikah secara serentak karena keterbatasan biaya serta adat keluarga.
Baca Juga: Serial Bidaah, Ketika Film Menjadi Cermin Pembelajaran Spiritual dan Sosial
Ayah dan ibu ketiga bujang tersebut telah merencanakan pernikahan kembar ini dengan matang. Namun, rencana yang semula tampak sempurna berubah menjadi kacau ketika calon istri Fadly, Nisa (Maizura), dijodohkan oleh keluarganya dengan pria yang lebih kaya dan mapan, dengan uang panai sebesar Rp500 juta. Sementara itu, Fadly hanya mampu memberikan uang panai sebesar Rp50 juta.
Tradisi nikah kembar ini menjadi rumit setelah kabar bahwa Nisa telah dilamar oleh pria lain. Mendengar hal itu, orang tua Fadly marah. Fadly pun harus segera mencari pengganti agar pernikahan kembar tetap dapat dilaksanakan. Film ini menggambarkan dinamika masyarakat saat ini, khususnya benturan antara generasi muda dengan nilai-nilai tradisional. Dalam waktu yang singkat, beberapa minggu sebelum hari pernikahan, Fadly terpaksa mencari pengganti Nisa.
Karakter Fadly berhasil menyentuh hati penonton, khususnya kaum pria, untuk tidak menyerah meskipun ditolak hanya karena uang panai yang rendah. Ia tetap berjuang demi kehormatan keluarga, agar pernikahan kembar yang telah tersebar luas di lingkungan sekitarnya tetap berlangsung. Berbagai cara ia tempuh untuk menemukan pengganti Nisa, tetapi semua usahanya sia-sia karena ia tidak cocok dengan perempuan baru yang ia kenal. Di saat putus asa, ia dipertemukan kembali dengan teman lamanya yang ternyata menjadi jodohnya.
Dari segi visual, film ini sangat menarik. Kualitas dan kombinasi warna yang digunakan sangat baik. Setiap detail, mulai dari ekspresi wajah karakter hingga latar belakang yang cerah, dikerjakan dengan penuh ketelitian. Hal ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing di tingkat internasional. Banyak penonton terkesan dengan kualitas visualnya. Selain itu, musik pengiring film ini sangat mendukung dan berhasil memperkuat momen-momen penting dalam cerita.
Film Jodoh 3 Bujang memiliki representasi budaya lokal yang kuat. Budaya Bugis (Makassar) ditampilkan dengan sangat autentik, mulai dari penggunaan logat lokal, rumah adat, makanan khas, hingga nilai-nilai seperti uang panai dan pernikahan adat. Semuanya ditampilkan dengan penuh penghargaan dan perhatian terhadap detail, sehingga memperkaya tontonan sekaligus memberikan edukasi mengenai tradisi yang jarang diangkat secara nasional. Chemistry antarpemain terasa begitu kuat dan natural. Hubungan tiga saudara yang diperankan oleh Jourdy, Christoffer, dan Rey begitu hangat dan meyakinkan. Interaksi mereka terasa spontan dan menyenangkan untuk ditonton.
Jodoh 3 Bujang adalah film drama komedi yang menyentuh dan menghibur. Film ini berhasil menampilkan potret lokalitas Makassar secara autentik, mempertemukan humor segar dengan realitas masyarakat Bugis yang masih erat dengan adat. Meskipun memiliki kekurangan dalam struktur alur dan pengembangan beberapa karakter pendukung, film ini tetap layak ditonton karena menyajikan nilai-nilai keluarga, cinta, dan perjuangan melawan tekanan sosial dengan cara yang ringan dan menyenangkan.
Pesan moral yang dapat diambil dari film ini adalah bahwa konflik antara keinginan pribadi dan tekanan tradisi keluarga merupakan hal nyata yang banyak dialami oleh generasi muda. Dialog antar generasi di film ini terasa hidup dan merepresentasikan kenyataan banyak keluarga di Indonesia saat ini.
Baca Juga: Jumbo, Film Animasi Karya Anak Negeri Setara Internasional
Editor: Ummy Syafitri

