
Judul: Berani Tidak Disukai
Penulis: Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Genre: Pengembangan diri, psikologi, filsafat
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit Indonesia: 2019
Jumlah Halaman: 345 halaman
Peresensi: Muhammad Rasya Alfatir
Buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga merupakan buku pengembangan diri yang membahas teori psikologi Alfred Adler dengan cara yang berbeda dari buku motivasi pada umumnya. Buku ini diterbitkan di Indonesia oleh gramedia.com pada tahun 2019 dengan jumlah sekitar 345 halaman. Melalui bentuk dialog antara seorang filsuf dan seorang pemuda, pembaca diajak memahami cara pandang baru tentang kehidupan, kebahagiaan, hubungan sosial, dan keberanian menjadi diri sendiri. Percakapan dalam buku berlangsung selama lima malam, dan setiap malam membahas tema yang berbeda namun saling berkaitan.
Isi buku menekankan bahwa manusia tidak ditentukan oleh pengalaman masa lalu, melainkan oleh tujuan dan pilihan hidup yang diambil saat ini. Pemikiran ini berasal dari teori Alfred Adler yang menolak anggapan bahwa trauma masa lalu sepenuhnya menentukan kehidupan seseorang. Menurut Adler, manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih sikap dan menentukan arah hidupnya sendiri. Pandangan ini menjadi inti pembahasan dalam buku karena banyak orang sering menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk terus merasa gagal, rendah diri, atau takut berkembang.
Baca Juga: Animal Farm: Ketika Revolusi Berubah Menjadi Tirani
Melalui dialog yang cukup mendalam, filsuf dalam buku menjelaskan bahwa rasa rendah diri sebenarnya adalah hal yang wajar dimiliki manusia. Perasaan tersebut dapat menjadi dorongan untuk berkembang apabila disikapi dengan benar. Namun, jika seseorang terlalu fokus pada kelemahannya dan terus membandingkan diri dengan orang lain, maka rasa rendah diri dapat berubah menjadi penghambat dalam kehidupan. Buku ini mengajak pembaca untuk berhenti hidup berdasarkan penilaian orang lain dan mulai fokus pada tujuan hidup pribadi.
Salah satu konsep penting yang paling sering dibahas dalam buku ini adalah memisahkan tugas. Konsep ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki urusan dan tanggung jawab masing-masing. Seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk memenuhi harapan semua orang karena penilaian orang lain bukanlah tugas dirinya. Contohnya, ketika seseorang sudah berusaha melakukan yang terbaik tetapi tetap mendapat kritik atau tidak disukai, hal itu merupakan urusan orang lain, bukan sesuatu yang harus terus dipikirkan. Pemikiran ini mengajarkan pentingnya batas dalam hubungan sosial agar seseorang tidak hidup dalam kecemasan dan ketakutan terhadap pendapat orang lain.
Selain membahas keberanian menjadi diri sendiri, buku ini juga menyinggung tentang kebahagiaan. Menurut Adler, kebahagiaan dapat muncul ketika seseorang merasa dirinya bermanfaat bagi orang lain tanpa kehilangan jati diri. Kebahagiaan bukan berasal dari pujian atau pengakuan sosial, tetapi dari kemampuan menerima diri sendiri dan menjalani hidup dengan bebas. Pemikiran ini membuat buku terasa relevan dengan kehidupan modern karena banyak orang saat ini hidup di bawah tekanan sosial dan keinginan untuk selalu diterima oleh lingkungan.
Kelebihan dalam buku ini terletak pada cara penyampaiannya yang sederhana dan mudah dipahami meskipun membahas tema psikologi dan filsafat yang cukup berat. Bentuk dialog membuat isi buku terasa hidup dan tidak membosankan. Pembaca seolah ikut terlibat dalam perdebatan antara filsuf dan pemuda. Banyak pembahasan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti rasa minder, kecemasan sosial, hubungan dengan orang lain, dan pencarian makna hidup. Bahasa yang digunakan juga cukup ringan sehingga cocok dibaca oleh remaja maupun orang dewasa.
Namun seperti pada umumnya, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Beberapa pembahasan terasa berulang sehingga membuat alur dialog menjadi cukup panjang. Selain itu, sebagian pemikiran Adler dalam buku ini mungkin terasa terlalu ideal bagi sebagian pembaca. Misalnya, ketika buku menyatakan bahwa trauma bukan faktor utama yang menentukan kehidupan seseorang. Bagi sebagian orang yang memiliki pengalaman hidup berat, pandangan tersebut mungkin terasa sulit diterapkan secara langsung.
Secara keseluruhan, Berani Tidak Disukai merupakan buku yang memberikan sudut pandang baru tentang cara menjalani hidup. Buku ini mengajarkan bahwa seseorang tidak perlu hidup demi menyenangkan semua orang. Kebebasan dan kebahagiaan akan muncul ketika seseorang berani menerima dirinya sendiri, memahami tujuan hidupnya, dan tidak terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang mencari motivasi untuk lebih percaya diri dan menjalani hidup dengan lebih tenang.
Baca Juga: Mengurai Misteri di Balik Kehidupan Seorang Perempuan
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

