
Penulis: Annisa Allya Putri
Namanya Naisa, seorang gadis yang cerdas dan rajin di kelasnya. Sejak awal masuk sekolah, Naisa selalu mendapatkan nilai terbaik. Namun, kepintarannya justru menjadi alasan ia dibenci oleh beberapa teman sekelasnya. Awal masuk sekolah, Naisa merasa senang bisa mendapatkan teman-teman baru. Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama. Ketika mulai naik kelas, karena sistem di sekolahnya roker kelas, ia harus berpisah dengan teman-teman kelasnya. Di kelasnya yang baru ia begitu aktif dan senang dan teman-teman baru.
Baca Juga: Bersedekah Itu Tidak Merugikan Seseorang
Suatu hari, di sela-sela waktu istirahat, Naisa sedang mencari buku yang tertinggal di ruang kelas. Saat ia mendekati pintu kelas, terdengar suara-suara percakapan dari dalam. Dengan hati-hati, Naisa membuka pintu sedikit dan mendengar beberapa teman sekelasnya, Dini dan Yani serta circle-nya sedang berbicara.
“Serius, aku enggak tahu kenapa Naisa selalu mau tampil di depan kelas,” kata Dini dengan nada mengejek. “Dia pikir dia paling pintar atau apa?”
“Iya, benar. Lagi pula, dia selalu sok dekat sama guru-guru. Sok aktif kayak mau cari perhatian lebih,” sahut Nur.
“Di pikirnya satu kelas mau apa berteman dengannya, kalau gak karena contekan tugas gak mau aku temenan sama dia,” ujar Dini dengan tertawa dan disambung Nur.
Naisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia tidak percaya bahwa teman-temannya bisa berkata seperti itu tentang dirinya. Betapa terkejutnya ia, bukan hanya mereka, tetapi ternyata satu kelas membencinya.
Dengan tenang, Naisa menutup pintu dan berjalan menjauh, merasa marah dan sedih. Malamnya, ia mengurung diri di kamar, perasaannya bercampur aduk antara marah, sedih, dan kecewa. Ia mengira teman-temannya baik padanya, tetapi perkiraannya salah padahal dia selalu baik dengan membantu mengajari temannya tentang pelajaran, bahkan saat temannya ingin menyontek tugas dia memberikannya dengan sukarela.
Paginya di kelas, ia sekolah seolah tidak terjadi apa-apa. Guru memberikan tugas yang cukup sulit. Naisa mengerjakan tugas tersebut dan menyelesaikannya lebih awal. Seperti yang diduga satu kelas datang kepadanya dan meminta contekan. Kali ini, Naisa memutuskan untuk tidak memberi mereka jawaban karena sudah tahu mereka hanya memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan jawaban.
“Maaf, teman-teman. Aku rasa kalian bisa mengerjakan tugas ini sendiri. Kita sudah diajarkan semua konsepnya di kelas. Aku yakin kalian bisa,” katanya dengan tenang.
Reaksi ketiga temannya ternyata di luar dugaan. Mereka mulai mencaci maki Rani, menuduhnya sombong dan tidak peduli. “Kamu pelit sekali! Dasar pelit,” kata Dini dengan nada marah.
“Kamu pikir kamu paling pintar, ya? Kita ini teman, seharusnya saling bantu,” tambah Nur dengan sinis.
Dia mendapatkan cacian dan umpatan dari mereka, hanya menahan air matanya di kursinya. Tiba waktunya istirahat, dengan cepat dia meninggalkan kelas dan berlari ke kamar mandi yang sepi. Di sana, dia akhirnya membiarkan air matanya mengalir. Tangisannya pecah, dan merasa sangat sedih serta sendirian.
Di dalam kamar mandi, Naisa mencoba menenangkan diri. “Apa salahku pada mereka?” Tangisannya makin deras membasahi wajahnya. Naisa merasa sangat terluka oleh kata-kata kasar teman-temannya.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan seorang gadis masuk. Dia terkejut melihat Naisa menangis di sudut ruangan. Gadis itu adalah Syifa, dia sahabat di sekolah sebelumnya. Mereka satu sekolah lagi tetapi beda kelas.
“Naisa, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanya Syifa dengan lembut, mendekati Naisa.
Naisa yang tak tahan memendam semuanya dengan gemetar menceritakan semua yang terjadi. “Itu artinya mereka iri dengan pencapaianmu, apa yang kamu lakukan itu sudah tepat. Tenangkan dirimu. Semangat,” ucap Syifa tersenyum hangat. Naisa merasa lega mendengar dukungan dari Syifa. Setelah beberapa saat, Naisa keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lebih baik.
Setiap hari, Naisa merasa makin tertekan, menampilkan senyum palsu seperti tidak ada terjadi apa-apa di sekolah, dia sering dijauhi teman-temannya, dia tidak pernah bercerita tentang masalahnya kepada orang tua. Naisa hanya bisa menangis dalam diam di kamarnya.
Hari kelulusan tiba, suasana hati Naisa seakan terasa campur aduk. Di satu sisi, ia sangat bersyukur telah menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan meraih impian untuk melanjutkan ke sekolah favoritnya. Namun, di sisi lain, masih ada rasa terimpit perasaan yang belum diselesaikan.
Naisa merasa sesuatu yang berat di hatinya mulai terangkat. Ia juga memaafkan teman-temannya yang pernah membuatnya merasa terluka. Ia tahu bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk melepaskan masa lalu demi membuka lembaran baru yang penuh harapan.
Baca Juga: Bunuh Diri Adalah Solusi?
Editor : Syahda Khairunnisa

