
Penulis: Hemmi Nabilah Hasibuan
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh pegunungan hijau, hiduplah seorang gadis bernama Mila. Mila adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia memiliki dua kakak, laki-laki, dan perempuan. Riki dan Nesa yang sangat menyayanginya. Sejak kecil, Mila selalu menjadi pusat perhatian dalam keluarga karena dia sedikit berbeda dari kedua saudaranya, dia terkenal karena aktifnya.
Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /1/
Mila tumbuh menjadi gadis yang cantik, pintar, dan kreatif, memiliki impian untuk melanjutkan pendidikannya ke kota besar, tetapi kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan. Ayahnya adalah seorang petani, sementara ibunya, mengurus rumah tangga.
Suatu hari, saat Mila sedang membantu ibunya di dapur, ia mendengar percakapan antara kedua kakaknya sedang membahas tentang kesempatan beasiswa yang ditawarkan oleh universitas di kota. Mila merasa bangga karena kedua saudaranya sudah memikirkan masa depan adiknya yang manja ini.
“Aku ingin sekali pergi ke kota dan belajar,” gumam Mila pada dirinya sendiri.
Malam itu, Mila tak bisa tidur. Ia memikirkan bagaimana agar bisa melanjutkan pendidikan. Ia tahu bahwa keluarganya sangat mencintai dan mendukungnya, tetapi mereka tidak memiliki cukup uang untuk membiayai pendidikan yang lebih lanjut.
Keesokan harinya, Mila mengumpulkan keberanian berbicara kepada orang tuanya. “Ayah, aku ingin melanjutkan sekolah ke kota. Aku tahu kita tidak punya banyak uang, tapi aku ingin berusaha mendapatkan beasiswa,” ujarnya dengan penuh harap.
“Nak, kami sangat bangga dengan tekadmu. Tapi, apakah kau yakin bisa menghadapinya? Kota besar itu tidak sama dengan desa kita,” kata ibunya.
“Aku akan berusaha, Bu. Aku ingin membuat kalian bangga,” jawab Mila dengan semangat.
Ayah Mila menghela napas panjang. “Baiklah, Nak. Jika itu yang kau inginkan, kami akan mendukungmu.”
Mila merasa sangat bersemangat. Ia mulai belajar lebih giat dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas. Riki dan Nesa juga mendukungnya, membantu Mila belajar dan memberikan semangat. Mereka berjanji akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi.
Setelah berbulan-bulan belajar keras, akhirnya tiba saatnya ujian masuk. Mila merasa gugup, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia percaya pada kemampuannya dan berdoa agar semua usaha dan pengorbanannya membuahkan hasil.
Beberapa minggu kemudian, Mila menerima pesan email dari universitas. Dengan gemetar, ia membaca pesan itu.
Selamat! Anda diterima di program beasiswa
Mila pun melompat dengan bangga, air mata mengalir tanpa disadari, ia berlari ke arah orang tuanya dan memeluk mereka sambil meneteskan air mata.
Hari di mana Mila berangkat pun tiba. Ia berdiri di depan rumah dengan koper di tangannya, melihat wajah-wajah yang penuh harapan dari keluarganya. “Aku akan kembali secepatnya, dan aku akan membuat kalian bangga,” ujarnya sambil menahan air mata.
Dengan berat hati, Mila pergi ke kota. Di sana, ia menemukan kehidupan yang sangat berbeda. Ia bertemu dengan teman-teman baru, dosen yang inspiratif, dan tantangan yang harus dihadapi. Mila belajar dengan giat, berusaha untuk tidak mengecewakan keluarganya.
Namun, di tengah kesibukan kuliah, Mila tidak bisa melupakan keluarganya. Ia sering menelepon dan mengirim pesan kepada Riki dan Nesa untuk menanyakan keadaan ayahnya.
Suatu hari, Riki menelepon Mila dengan berita yang sangat mengejutkan. “Mila, Ayah meninggal dunia,” ujarnya dengan suara yang tidak biasa.
Mila terdiam tidak percaya bahwa ayahnya telah meninggal. Ia merasa sangat kehilangan dan menyesal karena tidak bisa berada di samping keluarganya saat itu. Dengan berat hati, Mila memutuskan untuk pulang ke desa.
Mila memeluk Riki dan Nesa erat-erat, menangis bersama mereka. Mereka berduka cita, tetapi mereka juga berjanji untuk tetap bersama dan saling mendukung.
Mila kembali ke kota setelah beberapa hari. Ia merasa lebih kuat dan lebih bersemangat. Ia tahu bahwa ayahnya telah meninggal, tetapi ia juga tahu bahwa ayahnya akan mendukung di mana pun berada, Mila berjanji pada dirinya sendiri untuk terus belajar dan berusaha, agar keluarganya bangga padanya.
Mila melanjutkan perjalanan hidupnya. Ia menjadi seorang wanita yang kuat, cerdas, dan penuh semangat. Ia tidak pernah lupa akan keluarganya dan selalu berusaha membuat mereka bangga.
Baca Juga: Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /2/
Editor : Syahda Khairunnisa

